MerahPutih.com - Tingginya minat investor untuk menanamkan modal di dalam negeri mulai menunjukkan dampak positif bagi perekonomian nasional, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada Triwulan I 2026 mencapai Rp 498,8 triliun. Angka ini meningkat 7,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), realisasi tersebut juga mengalami kenaikan sebesar 0,4 persen dibandingkan Triwulan IV 2025.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa capaian investasi ini turut mendorong penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Realisasi investasi pada Triwulan I 2026 tercatat mampu menyerap 706.569 tenaga kerja, atau tumbuh 18,9 persen secara tahunan.
"Target investasi pada 2026 adalah Rp 2.041,3 triliun. Realisasi investasi pada Triwulan I 2026 kurang lebih 24,4% dari total target investasi pada tahun 2026 yang sebesar Rp 2.041,3 triliun," kata Rosan kepada Jakarta, Kamis (23/4).
Baca juga:
Dari sisi sumber investasi, kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terbilang seimbang. PMA mencapai Rp 250,0 triliun atau 50,1 persen, sementara PMDN sebesar Rp 248,8 triliun atau 49,9 persen. Keduanya tumbuh masing-masing 8,5 persen dan 6,0 persen secara tahunan.
Distribusi investasi antara wilayah Jawa dan luar Jawa juga relatif merata. Investasi di Jawa tercatat sebesar Rp 247,5 triliun atau 49,6 persen, sedangkan luar Jawa mencapai Rp 251,3 triliun atau 50,4 persen. Masing-masing meningkat 7,9 persen dan 6,5 persen secara tahunan.
Secara sektoral, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar investasi sepanjang Januari hingga Maret 2026 dengan nilai Rp 69,4 triliun.
Baca juga:
Indonesia Masih Jadi Incaran Investor, Target Investasi Rp 13.000 Triliun Dikejar
Diikuti subsektor jasa lainnya sebesar Rp 64,2 triliun, pertambangan Rp 51,9 triliun, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp 48,0 triliun, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp 45,4 triliun.
Dari total realisasi investasi Rp 498,8 triliun tersebut, sebesar Rp 147,5 triliun atau 29,6 persen berasal dari sektor hilirisasi.
"Capaian investasi yang berhubungan dengan hilirisasi cukup signifikan, meningkat 8,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," pungkasnya. (Asp)