Merahputih.com - Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal menyoroti tajam insiden penembakan pesawat Smart Air yang menewaskan pilot dan co-pilot di Bandara Korowai Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan 11 Februari lalu.
Syamsu menegaskan bahwa tragedi berdarah ini mengungkap kelemahan fatal dalam sistem deteksi dini dan pengamanan objek vital nasional di wilayah konflik.
Baca juga:
Imbas Penembakan Pesawat Smart Air, 11 Bandara di Papua Ditutup Sementara
Lubang Besar Pengamanan Objek Vital
Kematian kru pesawat di landasan pacu menjadi sinyal merah bagi otoritas keamanan. Menurut Syamsu, bandara merupakan urat nadi transportasi masyarakat Papua yang tidak boleh diganggu oleh teror dalam bentuk apa pun. Lemahnya pengamanan di titik krusial ini dinilai dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial.
“Itu menjadi perhatian utama kita, salah satu yang menjadi perhatian utama kita termasuk mengungkapkan kelemahan pengamanan,” ujar Syamsu, Kamis (19/2).
Urgent: SOP Khusus Penerbangan Papua
Legislator dari Fraksi PKB ini mendorong pemerintah dan aparat keamanan untuk segera merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) baru. Mengingat medan dan risiko keamanan yang tinggi, prosedur pengamanan bandara di Papua tidak bisa disamakan dengan wilayah lain di Indonesia.
Baca juga:
4 Orang Ditangkap terkait Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel, Pelaku Lain Masih Diburu
“Bandara itu adalah sarana yang sangat vital. Kalau tidak ada rasa aman, orang bisa membatalkan kunjungannya, dan yang paling utama tidak memberikan keyakinan kepada masyarakat Indonesia di Papua,” tegasnya.
Syamsu menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya sinergi antara TNI dan Polri dalam menjaga setiap jengkal area bandara.
Standardisasi keamanan khusus ini menjadi harga mati demi menjamin keselamatan awak pesawat serta kepercayaan publik terhadap transportasi udara di Bumi Cendrawasih.

