MerahPutih.com - Krisis medis di Gaza telah mencapai titik nadir. Ribuan pasien dan korban luka akibat agresi Israel di Jalur Gaza menghadapi nasib tidak menentu seiring runtuhnya sistem layanan kesehatan di wilayah kantong Palestina tersebut.
Obat pereda nyeri kini sulit didapat di Gaza. Akibatnya, banyak pasien-pasien rumah sakit Gaza yang menghadapi risiko kematian.
"Obat nyeri jadi Barang Mewah," kata Otoritas Kesehatan Gaza, kepada awak media, dikutip dari Antara, dari WAFA, Senin (9/2).
Baca juga:
Bahas Isu Dewan Perdamaian Gaza, Prabowo Undang MUI, PBNU, dan Muhammadiyah
Bank Darah Hampir Habis
Data menunjukkan stok bahan laboratorium dan bank darah hampir habis. Lebih parahnya lagi separuh lebih perlengkapan medis dan obat-obatan penting sudah tidak tersedia.
Layanan kanker, hematologi, bedah, operasi, perawatan intensif, dan kesehatan primer menjadi yang paling terdampak. Jumlah obat terbatas yang masuk ke rumah sakit dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan riil.
Laporan organisasi kemanusiaan internasional, lebih dari 60 persen fasilitas kesehatan di Gaza tidak lagi berfungsi akibat kerusakan infrastruktur dan minimnya pasokan medis.
Baca juga:
RI Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump Taktik Wujudkan Solusi 2 Negara
Mukjizat RS Gaza Masih Bertahan
Otoritas setempat menambahkan sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi kini kesulitan mempertahankan layanan dan berubah menjadi tempat tunggu ribuan pasien dengan masa depan yang tidak jelas.
Kondisi itu sebagai mukjizat karena layanan medis masih bertahan meski fasilitas kesehatan mengalami kerusakan besar.
“Menyelamatkan kondisi kesehatan di rumah sakit Gaza tidak bisa dilakukan lewat solusi darurat sementara yang justru membuat konsekuensi serius terus bertambah,” tandas pernyataan Dewan Kesehatan Gaza. (*)