Ternyata Bakteri Daging Sapi Bisa Jadi Pengawet Alami

Muchammad YaniMuchammad Yani - Sabtu, 02 September 2017
Ternyata Bakteri Daging Sapi Bisa Jadi Pengawet Alami

Ilustrasi (Pixabay.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SIAPA sangka ternyata bakteri mikroba yang berasal dari daging sapi baik digunakan untuk pengawet makanan alami yang aman bagi manusia. Hal ini terungkap setelah ada penelitian dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Dr Yuherman.

"Tuntutan masyarakat terhadap keamanan pangan semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan makanan yang bergizi dan sehat, maka dari pentingnya pengetahuan tentang bahan pengawet alami ini," katanya di Padang, Sabtu (2/1).

Ia menjelaskan bakteri asam laktat yang berasal dari strain Lactobacillus plantarum yang diisolasi dari daging sapi lokal, bahan itu efektif menjadi pengawet makanan alami yang baik bagi manusia. Hal ini pun bisa meminimalkan pengaruh bahaya pengawet kimia.

Plantaricin disebut sebagai pengawet alami karena dihasilkan oleh bakteri baik (good bacteria) yang merupakan bakteri probiotik. Plantaricin masuk dalam kategori GRAS (generally recognized as safe) dan bukan hasil rekayasa sintetik (sintesa melalui bahan kimia).

Plantaricin terbukti mampu dihancurkan oleh enzim pencernaan manusia, sehingga saat dikonsumsi, plantaricin tersebut akan hancur menjadi asam amino yang dibutuhkan oleh manusia untuk membangun sel tubuh. Dengan kata lain, plantaricin aman dan tidak menghasilkan senyawa karsinogenik.

Penggunaan pengawet alami tersebut kepada masyarakat, menurut dia, sangat efisien dengan produksi masal menggunakan media lain yang setara seperti susu fermentasi.

"Saya berencana untuk produksi massal dengan media susu fermentasi, sehingga dapat membantu menghasilkan pengawet alami komersial dalam negeri yang murah dan aman," katanya. (*)

Sumber: Antara

Selain artikel ini Anda juga bisa baca Menjaga Jantung dengan Lingkungan Sehat

#Bakteri #Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Muchammad Yani

Lebih baik keliling Indonesia daripada keliling hati kamu
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Dunia
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Seorang pekerja laboratorium di Rusia meninggal dunia. Ia diduga terinfeksi virus Pes. Namun, penyebabnya masih misterius.
Soffi Amira - Senin, 05 Oktober 2026
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan