Parenting

Terjebak dalam Mom Shaming, Hempaskan dengan 5 Cara ini, Bunda

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 03 Juli 2024
Terjebak dalam Mom Shaming, Hempaskan dengan 5 Cara ini, Bunda

Jangan terjebak dalam perilaku mom shaming.(Foto: pixabay/iqbalnuril)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH - SELALU punya komentar untuk segala hal tidaklah selalu baik. Komentar yang terasa menyudutkan atau bahkan merendahkan bisa dikatakan sebagai bentuk perilaku shaming. Di Indonesia, perilaku shaming kerap terjadi pada para ibu.

Studi Health Collaborative Center (HCC) menyebut mom shaming sering terjadi di Indonesia. Praktik ini bisa berupa tindakan mengkritik dengan mempermalukan seorang ibu terkait dengan pola asuh membesarkan anak.

Bentuk lain mom shaming bisa muncul dalam bentuk mengatai kondisi anak yang tidak tumbuh normal, mengomentari cara makanan anak, tubuh ibu dan anak, mengkritik pilihan melahirkan, membandingkan tumbuh kembang anak, hingga menghakimi pola asuh.

Perilaku mom shaming ternyata beratribusi terhadap kasus kesehatan mental ibu. Tak jarang, mom shaming menjadi pemicu gangguan kesehatan mental para ibu. Seorang ibu yang terjebak dalam perilaku mom shaming tidak dapat mengatur emosi negatif sehingga ia jadi kecewa, gagal, atau menjadi tidak percaya diri dengan kemampuan dan merasa gagal menjadi ibu.

Baca juga:

Kenali Dampak Buruk 'Mom Shaming'

Sebelum terjebak dalam perasaan buruk akibat mom shaming yang mungkin mengganggu mental health kamu, hempaskan saja dengan lima cara ini ya, Bunda.

1. Tetap Berpikir Positif

Berpikir positif membantu menghalau hal-hal negatif yang tidak perlu dipikirkan. Perpikir positif dapat meyakinkan diri sendiri bahwa ibu ialah sosok penting bagi keluarga. Jangan terlalu menghiraukan komentar dari orang lain, terlebih lagi yang bersifat negatif atau menjatuhkan.

2. Percaya Diri

Rasa sakit hati setelah jadi korban mom shaming tidak bisa disangkal. Namun, kembali lagi, sadarilah bahwa penting punya rasa percaya diri dan ingat bahwa ibulah yang paling mengenal diri sendiri, paling mengenal keluarga sendiri bukan orang lain.

Percayalah bahwa apa yang ibu lakukan merupakan yang terbaik untuk buah hati dan diri sendiri.

3. Utamakan Kesehatan Mental

Alih-alih memikirkan perkataan orang lain, lebih baik utamakan kesehatan mental diri sendiri. Ini dilakukan dengan cara menyaring secara bijak mana perkataan yang layak didengar atau tidak.

Baca juga:

Strategi Mengatasi Mom Shaming

4. Bijak dalam Merespons

Saat sudah mampu berpikir positif, akan lebih mudah mengendalikan emosi sehingga bisa lebih bijak dalam merespons kritik bertendensi mom shaming. Pastikan kamu hanya menerima kritik atau saran yang sejalan dengan sudut pandang dan keadaan yang dialami.

5. Kolaborasi Suami

Tempat menumpahkan keluh kesah salah satunya ialah suami. Ibu bisa berbagi pengalaman ibu menjadi korban mom shaming. Dengan begitu, ibu bisa meminimalisasi kegundahan dan suasana hati yang sedih.(ayu)

Baca juga:

Jangan Dibiasakan deh, Mom Shaming Bisa Lukai Perasaan Ibu

#Parenting #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Fun
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
MAKUKU perkenalkan popok comfort fit. Hadirkan teknologi SAP dan 360 Leak Protection, dirancang mendukung kebebasan gerak anak.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Februari 2026
Popok Tipis Anti Bocor Bantu Dorong Kebebasan Gerak dan Tumbuh Kembang Anak
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Bagikan