MerahPutih.com - Perayaan Idul Adha 1447 H identik dengan konsumsi hewan kurban seperti daging kambing dan sapi. Membuat Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan cara pengolahan daging kurban.
Menurutnya, anggapan bahwa daging kambing menjadi penyebab utama hipertensi dan kolesterol tinggi tidak sepenuhnya tepat, karena risiko kesehatan justru banyak dipengaruhi bahan tambahan serta pola memasak yang digunakan.
Dalam konten Budi Gemar Sharing (BGS), Menkes menegaskan bahwa konsumsi daging kurban tetap aman apabila diolah dengan benar dan dikonsumsi secara wajar.
Ia menyebut, kebiasaan masyarakat menambahkan santan berlebihan, garam, gula, hingga jeroan saat memasak menjadi faktor utama meningkatnya tekanan darah dan kadar kolesterol usai Idul Adha.
Yang salah bukan si kambing. Yang salah adalah cara masaknya,
ujar Budi dalam keterangannya dikutip Rabu (27/5).
Baca juga:
Libur Idul Adha, 22 Ribu Tiket Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung Ludes dalam Sehari
Ia menjelaskan, berbagai hidangan khas Lebaran Haji seperti gulai, sate, dan tongseng umumnya menggunakan santan kental dan bumbu dengan kadar garam tinggi.
Kondisi tersebut membuat makanan menjadi lebih berisiko bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
“Si kambing sudah bener sehat, sama si tukang masak ditambahin tuh santannya sebanyak ini, ditambahin jeroan, ditambahin garam yang banyak, ditambahin juga gula yang banyak,” katanya.
Menurut Budi, daging kambing sebenarnya memiliki kandungan gizi yang baik apabila dimasak secara sehat. Namun, proses pengolahan yang tidak seimbang justru memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan yang sering terjadi setelah Idul Adha.
Menkes juga menyoroti tingginya konsumsi jeroan saat momen kurban. Ia menyebut hati, paru, dan usus memiliki kadar kolesterol jauh lebih tinggi dibandingkan daging biasa, sehingga perlu dibatasi konsumsinya.
Baca juga:
68 Ribu Hewan Kurban Disembelih di Jakarta, Pemprov Jamin Semua Sehat dan Halal
Pelaku utamanya adalah santan kental yang dimasak berjam-jam, serta jeroan seperti hati, paru, dan usus,
katanya.
Ia mengungkapkan, kadar kolesterol pada jeroan bisa mencapai tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan daging biasa.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak berlebihan mengonsumsi makanan berbahan jeroan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi atau kolesterol tinggi.
Budi mengatakan, peningkatan jumlah pasien dengan keluhan hipertensi dan kolesterol pasca-Iduladha kerap terjadi setiap tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata-mata akibat konsumsi daging kambing, melainkan pola makan yang kurang sehat selama perayaan berlangsung.
“Kalau habis Idul Adha banyak yang masuk RS karena hipertensi atau kolesterol, pastikan kita tahu bahwa pelakunya bukan kambingnya,” ucapnya.
Ia pun mengajak masyarakat tetap menikmati hidangan kurban tanpa rasa takut berlebihan, selama memperhatikan pola konsumsi dan teknik pengolahan makanan.
Menkes menyarankan agar penggunaan santan, garam, dan gula dikurangi, serta memperbanyak metode memasak yang lebih sehat seperti dibakar, direbus, atau dipanggang.
Selain itu, masyarakat juga diminta menyeimbangkan konsumsi daging dengan sayur dan buah agar asupan nutrisi tetap terjaga selama Idul Adha. (Knu)

