Taufik Hidayat: Apa Pembubaran Satlak Prima akan Menyelesaikan Masalah?

Andika PratamaAndika Pratama - Senin, 09 Oktober 2017
Taufik Hidayat: Apa Pembubaran Satlak Prima akan Menyelesaikan Masalah?

Mantan pemain bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat (Foto: Twitter Taufik Hidayat Arena)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Mantan pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat mempertanyakan rencana pembubaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) oleh pemerintah demi memotong jalur birokrasi anggaran antara pengambil keputusan dan pelaksanaan Asian Games 2018.

"Dari kacamata mantan atlet, saya bertanya, apa pembubaran Satlak Prima itu akan menyelesaikan masalah? Apalagi, penyelenggaraan Asian Games 2018 demikian mepet, tinggal 10 atau 11 bulan lagi," kata Taufik dalam pernyataannya seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin (/10).

Rencana pembubaran Satlak Prima ini menyeruak setelah prestasi Indonesia terpuruk pada SEA Games 2017 yang hanya menempati posisi kelima, dengan raihan 38 medali emas, 63 perak dan 90 perunggu yang merupakan prestasi terburuk Indonesia selama berkiprah di ajang SEA Games.

Kinerja Satlak Prima semakin menyedot perhatian setelah terungkap atlet tolak peluru peraih emas, Eki Febri Ekawati terpaksa membayar akomodasi sendiri selama Pelatnas.

Proses birokrasi penyaluran dana pemusatan latihan nasional selama ini dinilai terlalu panjang serta-merta disebut sebagai biang kerok masalah dan dengan pembubaran Satlak Prima, diharapkan pengambilan keputusan makin cepat, serta tidak ada lagi masalah yang menyangkut, seperti keterlambatan soal uang saku, pembelian peralatan baru, dan kebutuhan pelatnas lainnya.

Menurut Taufik, pembubaran Satlak Prima merupakan blunder mengingat Prima merupakan pembuat program latihan agar performa para atlet elite dan andalan bisa lebih optimal dan tidak pernah mengurusi masalah keuangan dan distribusi penyaluran dana bagi pelatnas.

"Sejatinya Satlak Prima fungsinya hanya membantu dan mendukung induk-induk organisasi dengan berbagai program untuk meningkatkan performa para atlet bisa tampil optimal, sementara segala urusan uang dan penyaluran dana bagi kebutuhan pelatnas, semua birokrasi dan KPA-nya ada di Kemenpora. Jadi menurut saya, pembubaran Satlak Prima ini blunder dan salah arah," ujar dia.

Yang lebih aneh, lanjut dia, setelah Satlak Prima dibubarkan, kabarnya KONI akan diberi peran lebih besar. Hal tersebut menurutnya menggelikan karena birokrasi panjang yang katanya ingin dipangkas, namun kembali melibatkan lembaga lain.

"Ini artinya hanya ganti nama. Saya rasa birokrasinya tetap panjang dan berbelit," lanjut dia.

Pengalihan Tanggung Jawab Yang lebih kuat didengungkan setelah pembubaran Satlak Prima, adalah pengalihan tanggung jawab peningkatkan performa atlet elite kepada induk organisasi cabang olahraga.

Menurut Taufik, tidak semua induk organisasi memiliki kemampuan dan berkecukupan dana untuk menjalankan pelatnas secara mandiri. Dari sekian banyak induk organisasi olahraga di Tanah Air, hanya segelintir yang memiliki kemampuan dalam melakukan pembinaan prestasi dan itu mungkin baru PP PBSI.

"Yang menyedihkan lagi, induk organisasi yang getol dan menyambut gembira pembubaran Satlak Prima ini adalah induk organisasi yang sebenarnya belum menunjukkan prestasi besar. Induk organisasi tersebut hanya ikut memanas-manasi suasana dan bak memancing di air keruh," ujarnya.

Sebaiknya, tambah Taufik, para pemangku kepentingan dalam masalah ini duduk bersama untuk mencari terobosan terbaik dan sekaligus mencari solusi agar penampilan atlet-atlet Indonesia bisa tampil optimal dalam Asian Games 2018.

Selain itu, idealnya dengan waktu yang demikian mepet, sebaiknya kalau ada masalah soal lambannya birokrasi dalam penyaluran pendanaan pelatnas, perlu ada skala prioritas di mana cabang-cabang olahraga yang memiliki kans besar untuk merebut medali dalam Asian Games 2018, diberi kewenangan lebih besar.

"Sehingga proses pelatnas bisa terus berjalan tanpa terganggu oleh soal keterlambatan dana yang dipicu oleh berbelitnya birokrasi dan proses pencairan dana bagi pelatnas. Yang tidak kalah penting. Jangan bawa persoalan pembinaan olahraga ke dalam ranah politik," tutur Taufik. (*)

#Taufik Hidayat #Satlak Prima #Kemenpora
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Olahraga
Kontingen Indonesia Resmi Dikukuhkan, 432 Atlet Bersiap Buru Prestasi di Asian Games 2026
Sebanyak 432 atlet Indonesia resmi dikukuhkan untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kontingen akan bertanding di 35 cabang olahraga.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 09 September 2026
Kontingen Indonesia Resmi Dikukuhkan, 432 Atlet Bersiap Buru Prestasi di Asian Games 2026
Olahraga
Legislator Tanggapi Pengakuan Desak Made Rita, Minta Tata Kelola Dukungan Atlet Dievaluasi
Desak Made Rita mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali emas dalam ajang bergengsi tersebut. 

Dwi Astarini - Rabu, 08 Juli 2026
Legislator Tanggapi Pengakuan Desak Made Rita, Minta Tata Kelola Dukungan Atlet Dievaluasi
Olahraga
PON 2028 Digelar di 3 Provinsi, Jakarta sebagai Penunjang
Erick menjelaskan bahwa penetapan Jakarta sebagai provinsi penunjang telah memiliki payung hukum setelah disahkan melalui Rapat Kerja Nasional Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Frengky Aruan - Rabu, 01 Juli 2026
PON 2028 Digelar di 3 Provinsi, Jakarta sebagai Penunjang
Berita
DPR Usul Taufik Hidayat Dihukum Kebiri, Minta Polisi Usut Kemungkinan Korban Lain
Komisi III DPR meminta tersangka penganiayaan di Bandung, Taufik Hidayat, dihukum kebiri.
Soffi Amira - Kamis, 25 Juni 2026
DPR Usul Taufik Hidayat Dihukum Kebiri, Minta Polisi Usut Kemungkinan Korban Lain
Indonesia
Taufik Hidayat Ganti Gaya Rambut Saat Ditangkap Polisi, Begini Tampang Terbarunya
Foto terkini pascapenangkapan yang didapat Merahputih.com memperlihatkan perubahan mencolok pada penampilan fisik Taufik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 23 Juni 2026
Taufik Hidayat Ganti Gaya Rambut Saat Ditangkap Polisi, Begini Tampang Terbarunya
Olahraga
Komisi X DPR Setujui Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker untuk Timnas Indonesia
Komisi X DPR RI mendorong pemerintah dan PSSI agar penetapan kewarganegaraan Republik Indonesia ditetapkan oleh instansi yang berwenang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Frengky Aruan - Senin, 15 Juni 2026
Komisi X DPR Setujui Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker untuk Timnas Indonesia
Olahraga
Pertina NTT Desak Kejelasan Legalitas Perbati, Sengketa dengan Menpora Masih Berlanjut
Pertina NTT mengambil langkah dalam sengketa hukum melawan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Soffi Amira - Selasa, 14 April 2026
Pertina NTT Desak Kejelasan Legalitas Perbati, Sengketa dengan Menpora Masih Berlanjut
Olahraga
30 Tahun Penantian, Indonesia akan Finis Runner-up di SEA Games 2025 dengan 80 Emas
Indonesia sukses mengamankan 80 emas SEA Games 2025 Thailand. Menpora Erick Thohir menyebut capaian ini sebagai sejarah baru dalam 30 tahun terakhir.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 19 Desember 2025
30 Tahun Penantian, Indonesia akan Finis Runner-up di SEA Games 2025 dengan 80 Emas
Olahraga
Medali Emas Ke-80 Datang dari Kabaddi, Tim Indonesia Capai Target di SEA Games 2025
Indonesia menang tipis 23-22 atas Malaysia sekaligus menghadirkan medali emas ke-80.
Frengky Aruan - Kamis, 18 Desember 2025
Medali Emas Ke-80 Datang dari Kabaddi, Tim Indonesia Capai Target di SEA Games 2025
Olahraga
SEA Games Thailand 2025: Indonesia Tempati Peringkat Kedua, Erick Thohir Soroti Mental Pantang Menyerah Atlet
Indonesia sementara berada di peringkat kedua SEA Games 2025 Thailand dengan 62 emas. Menpora menilai mental pantang menyerah jadi kunci prestasi atlet.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 17 Desember 2025
SEA Games Thailand 2025: Indonesia Tempati Peringkat Kedua, Erick Thohir Soroti Mental Pantang Menyerah Atlet
Bagikan