MerahPutih.com - Ada kalanya sebuah album tidak hadir untuk memberikan jawaban. Sebaliknya, ia justru mengajak pendengarnya tinggal lebih lama dalam kebingungan, menerima kehilangan tanpa harus segera memahami penyebabnya, lalu perlahan menemukan maknanya sendiri.
Ruang itulah yang dibangun Supple melalui album debut mereka, Nothing Can Explain.
Delapan lagu dalam album tersebut bukan sekadar rangkaian komposisi yang disusun berdasarkan urutan tertentu. Bagi band asal Tangerang Selatan itu, album ini merupakan perjalanan emosional yang terus bergerak, berubah, dan berevolusi.
Tidak ada garis akhir yang benar-benar pasti. Bahkan identitas Supple sendiri dipandang sebagai sesuatu yang masih akan terus berkembang.
Nothing Can Explain sebagai Kolase Pengalaman
Gitaris Supple, Kemas Affano, menggambarkan Nothing Can Explain layaknya sebuah kolase yang tersusun dari berbagai potongan pengalaman.
Setiap bagian saling bertabrakan, melengkapi, dan membentuk sesuatu yang baru, tetapi tidak pernah dipaksa menjadi satu jawaban yang mutlak.
"Saat kita itu evolve terus seiring berjalannya waktu. Kayak kolase atau montase, dan enggak tersekat sama satu makna aja."
Menurut Kemas, proses kreatif album ini lahir dari berbagai persoalan yang saling bergesekan.
Alih-alih mencari kesimpulan secara instan, setiap personel memilih memberikan ruang bagi waktu untuk bekerja. Mereka membiarkan pengalaman masing-masing diolah secara personal, sambil tetap menghargai sudut pandang satu sama lain.
Baginya, sikap tersebut justru membuka kemungkinan baru dalam proses berkarya.
"Bisa jadi ini final form-nya, atau bisa jadi ini cuma check point. Nothing Can Explain."
Baca juga:
Mengejar Nada Hilang: Pertunjukan Teater Musik Singkat BATDD x Supple
Perjalanan Emosi dari Hilang hingga Tumbuh
Gagasan tentang perubahan menjadi fondasi utama dalam album ini.
Alih-alih membangun cerita dengan pola awal, konflik, dan penyelesaian yang jelas, Supple menyusun Nothing Can Explain seperti seseorang yang sedang berjalan melewati berbagai lapisan emosi.
Bassis Herma Raihan mengatakan urutan lagu dalam album tersebut dirancang agar pendengar tidak hanya menikmati delapan lagu secara terpisah, tetapi merasakan satu pengalaman emosional yang utuh.
Perjalanan itu dimulai melalui Nothing Can Explain (Hilang), ketika sesuatu telah terasa lenyap meski tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan.
Setelah itu, 6k dan In A Mess membawa pendengar memasuki ruang yang lebih kacau dan personal.
Ketegangan terus meningkat hingga mencapai titik rapuh dalam Beg For, sebelum akhirnya pecah melalui Terbelah Dua dan larut sepenuhnya dalam Lebur. Namun, album tersebut tidak berhenti ketika semuanya runtuh.
Mengusap Kulit Dengan Sisa Remah hadir sebagai jeda sunyi tentang usaha merawat sesuatu yang hampir habis.
Sementara Bermekaran menjadi penutup yang tidak menawarkan jawaban, melainkan kemungkinan bahwa dari kehancuran selalu ada ruang untuk kehidupan baru.
Urutan album dirancang agar pendengar tidak sekadar mendengarkan delapan lagu secara terpisah, tetapi seolah melewati satu ruang emosional yang utuh. Dari hilang, kacau, terbelah, lebur, hingga tumbuh,
Bassist Supple, Herma Raihan.
Bagi Herma, akhir album bukan berarti sebuah cerita selesai.
"Ketika album selesai, rasanya bukan kayak sebuah cerita yang berakhir, tapi sesuatu yang baru saja berubah bentuk."
The Mask dan Sisi Gelap Manusia
Di balik narasi musiknya, Supple juga menghadirkan sosok misterius bernama The Mask sebagai wajah utama album. Namun karakter tersebut bukan sekadar elemen visual.
Vokalis sekaligus gitaris Yaka Patra menjelaskan bahwa The Mask merupakan metafora tentang sisi gelap manusia yang selalu ada, tetapi sering kali disembunyikan.
"Dia adalah kegelapan, dia akan abadi. Dia tersusun dari dosa-dosa atau sifat buruk manusia yang sudah dibuang. Dia hidup berdampingan bersama setiap kita, hanya saja dia berada di dunia terbalik."
Yaka menggambarkan bahwa semakin seseorang mendekati cahaya, bayangan yang muncul justru akan terlihat semakin besar.
Dari pemikiran tersebut lahir konsep N.C.E., akronim dari New Chemical Entity, istilah dalam dunia farmasi yang merujuk pada entitas baru yang diciptakan untuk mengobati sesuatu.
Namun, "obat" yang dimaksud Supple bukanlah jawaban atas seluruh pertanyaan.
"Cara mengobati yang kami maksud adalah dengan tidak memaksakan segala hal untuk bisa dimengerti, lalu menerima demi hari esok yang lebih baik."
Baca juga:
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Lore Album Dibangun Lewat Simbol dan Ritual
Semesta Nothing Can Explain berkembang menjadi sebuah lore yang dipenuhi simbol.
Topeng The Mask dibuat sendiri oleh Yaka menggunakan karton dan ranting pada malam menjelang ulang tahunnya sebagai semacam ritual kelahiran sang entitas.
Berbagai angka, bentuk, hingga warna hitam dengan kode #080808 disisipkan sebagai simbol keabadian dan kegelapan.
Konsep tersebut juga mendapat inspirasi dari sosok Yokai Jepang bernama Umibozu, yang menjadi salah satu referensi utama dalam membangun dunia album.
Lagu 'Lebur' Jadi Representasi Identitas Supple
Meski seluruh lagu dalam album saling terhubung, drummer Varrez Rivara merasa Lebur menjadi representasi paling utuh dari identitas Supple saat ini.
Bukan hanya karena energinya yang paling eksplosif, tetapi juga karena lagu tersebut terasa paling dekat dengan perjalanan pribadi setiap personel.
"Kenapa Lebur? Karena seru, energik, funky. Setiap bawain lagu itu seperti ada yang keluar dari tubuh kita dan tertinggal di panggung."
Bagi Varrez, Lebur merupakan lagu tentang menerima masa lalu, mengenali diri sendiri, dan memahami bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar menawarkan kepastian.
Lagu (Lebur) terasa dekat dengan cara kita memandang diri sendiri. Menerima masa lalu, mengenal siapa diri kita. Belajar, bertumbuh, karena di dunia ini enggak ada yang benar-benar pasti,
Drummer Supple, Varrez Rivara.
Ia kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat yang mencerminkan semangat Supple.
"Yang benar pasti kita selalu rock n roll."
Baca juga:
Supple Rilis Album 'Nothing Can Explain', Hadirkan Eksplorasi Musik yang Lebih Matang
Pada akhirnya, Nothing Can Explain memang tidak pernah berniat menjadi album yang menjelaskan segalanya.
Sebaliknya, Supple mengajak pendengarnya berdamai dengan hal-hal yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam kata-kata.
Sebab terkadang, seperti kehidupan itu sendiri, makna tidak lahir ketika seseorang berhasil menemukan jawaban, melainkan ketika ia bersedia menerima bahwa tidak semua hal memang perlu dijelaskan. (Far)

