MerahPutih.com - TENHOLES, unit punk rock asal Jakarta Timur, kembali menyapa pendengar lewat album terbaru bertajuk SATYA.
Album ini menjadi rangkuman perjalanan manusia yang bersinggungan dengan banyak hal, mulai dari keluarga, janji, cinta, kehilangan, kegelisahan, kehidupan kelas pekerja, perlawanan, hingga proses menerima kenyataan.
Delapan lagu di dalamnya dirangkai layaknya sebuah perjalanan panjang. Kisahnya mengikuti proses seorang anak yang perlahan mengenal dunia hingga tumbuh menjadi manusia yang harus berhadapan dengan tanggung jawab, kehilangan, dan makna kemanusiaan.
“SATYA itu tentang janji, api yang kita jaga, dan perlawanan yang tidak pernah padam,” ujar Ukien Skins, vokalis TENHOLES.
Baca juga:
ZZUF Kembali dengan Album Penuh Kedua, Hadirkan 15 Lagu dan 3 Kolaborasi
Melihat Sisi Lain Seorang Laki-Laki
Melalui SATYA, TENHOLES juga mencoba menghadirkan sisi lain dari gambaran seorang laki-laki.
Alih-alih menempatkannya sebagai sosok yang selalu tegar dan memiliki jawaban atas segala persoalan, album ini memperlihatkan manusia dengan segala kerentanannya.
Ada rasa takut, kegagalan, kehilangan, kemarahan, serta pertanyaan terhadap kehidupan yang harus dihadapi. Namun, pada akhirnya, ia tetap memilih untuk bertahan dan meneruskan langkah.
Perjalanan tersebut dibuka melalui Sudut Kota, lagu yang menjadi gerbang pertama untuk memasuki dunia SATYA.
Lagu ini membawa pendengar pada fase ketika seorang anak mulai berhadapan dengan kerasnya kehidupan di jalanan, persahabatan, kesendirian, konflik, cinta, hingga berbagai persoalan yang tumbuh di tengah kota.
Sudut Kota menjadi satu-satunya lagu dalam album yang mencantumkan CPX, Juanda, Reno Farid, dan Ukien Skins sebagai penulis lirik.
Percakapan Ayah dan Anak
Setelah Sudut Kota, perjalanan berlanjut melalui Hai! Nak, yang menghadirkan percakapan antara ayah dan anak.
Lagu tersebut mengangkat nilai-nilai, pengalaman, serta harapan yang berusaha diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di dalamnya terdapat kisah mengenai perjuangan dan kesalahan seorang bapak, sekaligus harapan yang ia titipkan kepada anaknya.
Kehadiran Pearly, Chelsea dan Ruby pada bagian backing vocals turut memperkuat atmosfer hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Tentang Api yang Pernah Dijaga
Album kemudian bergerak menuju focus track Api Yang Pernah Kita Jaga.
Lagu yang ditulis oleh Ukien Skins, Andyan Gorust, dan Endry Poison ini berbicara mengenai sesuatu yang pernah diperjuangkan dengan sepenuh hati, baik itu cinta, persahabatan, mimpi, maupun sebuah hubungan, tetapi pada akhirnya harus direlakan.
Api Yang Pernah Kita Jaga menjadi ruang refleksi mengenai kehilangan sekaligus usaha untuk menerima sesuatu yang pernah menghadirkan kehangatan dalam perjalanan hidup.
Memasuki lagu keempat, Janji Lelaki mengangkat tema tentang tanggung jawab, komitmen, serta janji kepada diri sendiri untuk terus bergerak meski keadaan kerap menghadirkan kesulitan.
Dalam lagu ini, keberanian tidak digambarkan sebagai kondisi tanpa rasa takut. Sebaliknya, keberanian hadir melalui keputusan untuk tetap melangkah meski rasa takut masih ada.
Permainan mandolin dari Zuri Mandolina turut memberikan warna tersendiri dalam aransemen lagu tersebut.
Baca juga:
Potret Kehidupan Kelas Pekerja
Sementara itu, Membakar Malam membawa cerita ke ruang kehidupan kelas pekerja yang akrab dengan rutinitas berulang.
Bekerja, menghadapi kemacetan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, kemudian kembali mengulang siklus yang sama.
Di tengah kelelahan, pikiran yang tak kunjung tenang, serta mimpi yang perlahan terasa semakin jauh, lagu ini menjadi semacam dorongan untuk kembali mengambil ruang bagi diri sendiri, kehidupan, dan mimpi yang masih ingin diwujudkan.
Lewat single Tiga, SATYA mulai bergerak dari persoalan yang bersifat personal menuju kegelisahan yang lebih luas.
Lagu ini menyinggung persoalan manusia, kekerasan, ketidakadilan, hingga dunia yang semakin sulit dipercaya.
Energi permainan drum Andyan Gorust mempertegas karakter lagu sebagai luapan kegelisahan. Namun, Tiga tidak mencoba menyederhanakan persoalan-persoalan tersebut ke dalam jawaban yang mudah.
Keluarga, Kemarahan, dan Batas Kemanusiaan
Pada track ketujuh, Darah Daging membawa tema keluarga ke wilayah yang lebih emosional.
Lagu yang direkam di Rintop Stidio ini berbicara tentang perlindungan serta kemarahan ketika seseorang yang dicintai harus berhadapan dengan ketidakadilan.
Ceritanya berangkat dari sudut pandang seorang ayah yang menghadapi perundungan terhadap anaknya.
Dari sana, lagu ini mengajukan pertanyaan mengenai batas tindakan seseorang ketika harus melindungi keluarga, sekaligus bagaimana mempertahankan sisi kemanusiaan dalam situasi yang penuh amarah.
Baca juga:
The Brandals Kembali dengan Album 'Oposisi', dari Musik Elektronik hingga Cerita Pekerja Urban
Menutup Perjalanan dengan 'Semua Sodara'
Perjalanan SATYA kemudian ditutup melalui Semua Sodara (Piano Version).
Berbeda dengan energi yang terasa pada sejumlah lagu sebelumnya, penutup ini hadir dengan pendekatan yang lebih sederhana dan kontemplatif.
Lagu tersebut berbicara mengenai kawan, scene, keluarga, perbedaan, perjalanan yang dilalui bersama, hingga mereka yang telah lebih dulu pergi.
Diva Azalia melalui permainan piano dan Arend Stevanus Michiels lewat violin memberikan sentuhan yang memperkuat suasana reflektif pada lagu penutup ini.
Setelah membawa pendengar melewati berbagai bentuk konflik, kegelisahan, kehilangan, dan perlawanan, SATYA akhirnya kembali pada gagasan yang sederhana.
Di tengah perjalanan manusia yang penuh perbedaan, pertentangan, dan persoalan, selalu ada ikatan yang mempertemukan satu sama lain: kita semua adalah sodara. (Far)