Kesehatan

Studi Buktikan Pagi Hari sebagai Waktu Terbaik Berolahraga

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 07 November 2023
Studi Buktikan Pagi Hari sebagai Waktu Terbaik Berolahraga

Olahraga di pagi hari lebih sehat dibandingkan dilakukan saat tengah hari dan malam hari.(foto: unsplash_jonathan borba)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

OLAHRAGA di pagi hari terdengar sulit, apalagi buat kamu yang pemula. Padahal nih, olahraga pagi hari memainkan peran penting dalam penurunan berat badan. Demikian disebut dalam penelitian yang baru diterbitkan dalam Jurnal Obesity.

"Saran saya dari penelitian ini, jika memilih berolahraga di pagi hari, sebelum makan, potensi menurunkan berat badan lebih banyak jika dibandingkan dengan berolahraga di waktu-waktu lain dalam sehari," ujar ketua peneliti Tongyu Ma, yang juga asisten profesor di Hong Kong Polytechnic University kepada NBC News.

BACA JUGA:

Kiat Memilih Olahraga Tepat selama Ramadan

Rebecca Krukowski, seorang psikolog klinis yang berspesialisasi dalam manajemen berat badan, menekankan pentingnya penelitian ini. “Ini merupakan penelitian baru yang menarik yang konsisten dengan tip umum untuk memenuhi tujuan olahraga, dengan menjadwalkan olahraga di pagi hari sebelum menerima e-mail, panggilan telepon, atau rapat yang dapat mengalihkan perhatian kamu,” katanya, dikutip CNN.

obesitas
Penelitian menyebut berolahraga di pagi hari, antara pukul 07.00 dan 09.00 dapat dikaitkan dengan lingkar pinggang dan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah.(foto: Pixabay_Jarmoluk)

Meskipun penelitian sebelumnya telah membuktikan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik sedang hingga berat dan penurunan berat badan. Waktu optimal untuk berolahraga sebenarnya sangat berguna untuk memaksimalkan penurunan berat badan, tapi hal itu masih menjadi perdebatan. Untuk mengatasi hal itu, para penulis penelitian mempelajari pengaruh waktu olahraga terhadap hubungan antara aktivitas fisik dan obesitas.

Penelitian melibatkan 5.285 peserta yang telah ambil bagian dalam siklus Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat dari 2003 hingga 2006. Para partisipan mengenakan pelacak aktivitas selama beberapa hari. BMI dan lingkar pinggang mereka dicatat. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang berolahraga di pagi hari memiliki BMI rata-rata 27,5, sedangkan orang yang berolahraga di siang dan sore hari memiliki BMI rata-rata 28,3. Lingkar pinggang rata-rata ditemukan 96 sentimeter untuk olahragawan pagi, 97,8 sentimeter untuk olahragawan siang, dan 97,5 sentimeter untuk olahragawan malam. Laporan tersebut ternyata sudah disesuaikan dengan kualitas diet dan asupan kalori.

BACA JUGA:

Celana Training Sekolah, Tak Cuma Nyaman untuk Olahraga

Temuan ini berlaku di berbagai faktor demografis seperti jenis kelamin, etnis, pendidikan, penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, dan perilaku tidak aktif. Hebatnya, bahkan di antara mereka yang memenuhi pedoman aktivitas fisik yang direkomendasikan setidaknya 150 menit per minggu, mereka yang berolahraga di pagi hari memiliki BMI dan ukuran pinggang yang paling rendah.

Tongyu Ma juga mengomentari pentingnya penelitian mereka. "Penelitian ini menambahkan bukti berharga yang didasarkan pada sampel nasional peserta AS, yang belum pernah dilakukan sebelumnya tentang topik waktu olahraga dan penurunan berat badan," jelasnya.

olahraga
Olahraga pada pagi hari juga cocok bagi kamu yang ingin menurunkan berat badan.(foto: unsplash_i yunmai)

Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan dan membangun hubungan sebab akibat, penelitian ini memfokuskan kepada potensi manfaat olahraga pagi untuk dapat menurunkan berat badan, seperti melakukan olahraga aerobik di pagi hari, bersepeda, berlari, atau jalan cepat.

Jadi bagi kamu yang ingin mengoptimalkan perjalanan dalam menurunkan berat badan, sebaiknya awali lah dengan menyetel alarm sedikit lebih dini demi memiliki berat badan ideal dengan cara yang lebih sehat.(nda)

BACA JUGA:

Pahami Mitos dan Fakta Seputar Olahraga Jalan Kaki

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan