Skema Haji 2026 Dinilai Terlalu Berbahaya, Jemaah Harus Tiba di Mina Pagi Hari Sebelum Cuaca Panas Ekstrem Mencapai Puncaknya
Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah segera diproses. (Foto: Dok. Kementerian Agama)
Merahputih.com - Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menyoroti serius rencana skema pergerakan jemaah haji Indonesia pada fase Masyair yang dipaparkan oleh Menteri Agama RI. Sorotan ini terkait persiapan penyelenggaraan haji tahun 1447 H/2026 M.
Selly mengaku merasa bingung dan khawatir dengan skema pergerakan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina. Kekhawatiran utamanya adalah penetapan waktu kedatangan jemaah di Mina yang disebut paling lambat pukul 11.00 siang pada 10 Juli 2026.
"Saya agak confused, mudah-mudahan saya yang salah memahami. Tapi dari paparan Masyair yang disampaikan Pak Menteri, jemaah bergerak dari Arafah, kemudian ke Musdalifah, lalu ke Mina, dan tiba paling lambat jam 11 siang. Artinya itu terlalu siang, Pak. Ngeri Pak, antisipasi," ujar Selly dalam keterangannya, Rabu (26/11).
Baca juga:
Alasan KPK Tak Kunjung Umumkan Tersangka Korupsi Kuota Haji, Wajarkah?
Hal itu disampaikan Selly dalam rapat yang digelar di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (25/11).
Kekhawatiran Bahaya Cuaca Panas di Muzdalifah dan Mina
Politisi dari PDI-Perjuangan tersebut menilai jadwal kedatangan yang mendekati tengah hari (Dzuhur) sangat berpotensi membahayakan keselamatan jemaah, sebab proses pergerakan dari Muzdalifah menuju Mina akan berlangsung di bawah kondisi cuaca terpanas.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera merevisi skenario tersebut agar tidak terlalu berisiko bagi jemaah.
"Itu sudah sampai Dzuhur. Jadi tolong itu kita revisi. Jangan sampai kita membuat skema yang terlalu siang," tegas Selly.
Selly berpendapat bahwa batas waktu yang aman idealnya adalah jemaah sudah tiba di Mina pada pagi hari, sekitar pukul 07.00 pagi, atau paling buruk pukul 09.00.
Baca juga:
Jangan Lupa Batas Akhir Pengajuan Visa Haji 8 Februari 2026, Lewat Batal Berangkat!
Ia juga menyoroti kondisi Muzdalifah yang minim fasilitas, sehingga keterlambatan pergerakan jemaah dapat memperburuk situasi. Selly meminta skema Masyair direvisi demi mitigasi dan perlindungan jemaah.
"Sementara kita tahu di Muzdalifah itu kan tidak ada tenda, tidak ada fasilitas apapun. Nah ini yang harus diantisipasi," pungkasnya.
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
DPR Dorong Vaksinasi Influenza Siswa Cegah Superflu, Sekolah Diharap Terapkan Protokol Kesehatan
DPR Dorong Swasembada Pangan Meluas, Termasuk Mandiri Jagung, Kedelai, dan Protein Hewani
Indonesia Swasembada Pangan, DPR Ingatkan Pemerintah Dompet Petani Juga Harus 'Tebal'
Polri Sudah Paten Tapi Budaya Kerja Masih ‘Lelet’, DPR Minta Reformasi Mental
DPR Desak Reformasi Total Internal Polri, Jangan Lembek ke Anggota Nakal
Komisi III DPR Gelar RDPU Panja Reformasi Polri dengan Ahli Hukum Tata Negara dan Kriminolog UI
Varian Super Flu Mengintai Anak dan Lansia, Pemerintah Diminta Siapkan Puskesmas, Bukan Narasi
DPR Dukung Pembentukan Pokja Buat Percepat Pemulihan Warga Terdampak Banjir Sumatera
Bakal Kirim 221 Ribu Jemaah, Kementerian Haji Mulai Susun Kloter Keberangkatan
Kampung Haji Indonesia di Makkah Tahap Pertama Berkapasitas 22.000 Jemaah