MerahPutih.com - Proses Sidang Isbat awal Ramadan 1447 H pada 17 Februari 2026 menuai sorotan. Sebab, sidang tersebut tidak digelar di kantor Kementerian Agama, melainkan di hotel berbintang di tengah adanya kebijakan efisiensi anggaran.
Tradisi ini berbeda seperti tahun sebelumnya yang digelar di gedung Kementerian Agama di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Setjen Kemenag, Thobib Al - Ashyar menjelaskan, adatiga penyebab sidang isbat tidak digelar di kantor layanan Kementerian Agama, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta.
Pertama, sedang ada penataan kawasan, termasuk pembangunan stasiun MRT.
Baca juga:
Kemenag Perkuat Peran KUA, Kini Jadi Pusat Edukasi dan Konsultasi Keluarga
Saat ini, sedang ada pembangunan stasiun MRT di depan gedung layanan Kementerian Agama di Jalan Thamrin. Hampir separuh jalan di depan kantor layanan Kementerian Agama ditutup untuk keperluan pembangunan.
"Kalau Sidang Isbat dipaksakan di lokasi itu, dikhawatirkan menyebabkan kemacetan dan mengganggu kegiatan masyarakat, karena jalanan menjadi lebih sempit,” kata Thobib Al Asyhar di Jakarta, Kamis (19/2).
Kedua, lobi gedung layanan Kemenag Jalan M.H. Thamrin saat ini sudah kurang memadai untuk menggelar even sebesar Sidang Isbat yang selalu menyita perhatian publik.
Sidang tersebut dihadiri para tokoh agama dan duta besar negara sahabat. Kemudian, ada ratusan media yang melakukan peliputan.
Baca juga:
Kemenag Ingatkan Pentingnya Pencatatan Pernikahan, Lindungi Hak Perempuan dan Anak
Setidaknya, dibutuhkan tiga area untuk menggelar acara tersebut, yaitu ruang sidang di Auditorium HM Rasjidi, ruang konferensi pers, dan ruang konsumsi.
Ruang pertemuan yang ada di lobi gedung layanan Kemenag juga sedang digunakan untuk layanan publik mempersiapkan dokumen jemaah haji.
"Kapasitas Auditorium HM Rasjidi tidak memungkinkan untuk dijadikan ruang sidang sekaligus ruang konferensi pers dan konsumsi,” papar Thobib Al Asyhar.
Menurut Thobib, perhatian media terhadap Sidang Isbat setiap tahun sangat besar. Jadi, diperlukan lokasi dengan ruang yang memadai agar jurnalis dan kru media dapat menjalankan tugas peliputan secara optimal, tertib, dan aman.
Baca juga:
Efisiensi Anggaran Capai Rp 308 Triliun, Prabowo Tegaskan Terus Berupaya Menutup Kebocoran
Ketiga, keterbatasan ruang parkir. Dengan jumlah peserta yang sangat banyak, ketersediaan lahan parkir menjadi salah satu kebutuhan.
Apalagi, sidang Isbat dihadiri banyak perwakilan negara sahabat dan tokoh agama, sehingga aspek keamanan dan kenyamanan para tamu menjadi perhatian.
“Kami khawatir kalau sidang isbat dilaksanakan di kantor justru mengganggu karena tidak ada tempat parkir dan ruangnya terbatas. Maka itu, tahun ini kami pindahkan dulu,” ujarnya.
Thobib menegaskan, pemindahan lokasi sidang isbat murni didasarkan pada pertimbangan teknis agar kegiatan berjalan tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh pihak.
Lokasi di Hotel Borobudur dipilih selain berada pada kawasan yang mudah di akses. Lalu, memiliki ballroom besar, ruang konferensi pers yang memadai, serta ruang yang disiapkan khusus untuk salat Magrib. (knu)