Sejumlah Lembaga Islam Indonesia Hadiri Konferensi Islam Moderat di Irak
Delegasi Indonesia dari Kementerian Agama yang mengikuti Konferensi Islam Moderat di Irak (Foto: Kemenag)
MerahPutih.Com - Beberapa lembaga dan ormas Islam dari Indonesia menghadiri Konferensi Internasional Islam di Baghdad, Irak.
Delegasi Indonesia terdiri dari tujuh orang yakni Muchlis M Hanafi (Ketua Delegasi, mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin),Muhyiddin Junaidi (MUI), Ikhwanul Kiram Masyhuri (Alumni Al Azhar), Saiful Mustafa (UIN Malang/NU), Fathir H Hambali (Alumni Syam), Auliya Khasanofa (Muhammadiyah) dan Thobib Al Asyhar (Kemenag).
"Saya mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku ketua delegasi," kata Muchlis M Hanafi.
Konferensi bertaraf dunia tersebut membahas secara khusus tentang Wasathiyah dan Islam Moderat dan diselenggarakan oleh Dewan Wakaf Sunni Republik Iran mulai tanggal 25-27 Juni 2018. Dalam siaran pers yang diterima Senin (25/6), Muchlis M Hanafi dari Kementerian Agama menyatakan Indonesia akan memberikan perhatian penuh terhadap pembangunan kembali Irak pascakonflik.
Menurut Muchlis, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung upaya pembangunan kembali Irak, baik di bidang politik maupun ekonomi.
"Kita berharap ke depan akan semakin erat, terutama dalam mengembangkan pemahaman keagamaan yang moderat," kata dia.
Muchlis akan ikut berbicara pada konferensi tersebut. Muchlis mengaku akan menyampaikan paparan tentang dunia tanpa kelompok bersenjata ISIS. Menurut dia, setelah kekalahan ISIS di Irak dan Suriah, kini banyak negara di Eropa, Afrika dan Asia merasa dihantui oleh "arus balik" ISIS ke negara asal mereka.
Terdesak di Irak dan Suriah, kata Muchlis Hanafi sebagaimana dilansir Antara, sel-sel gerakan ISIS akan menyebar di beberapa negara dengan membawa pemikiran ekstrem radikal berikut keahlian dalam menyusun strategi.
"Bukan tidak mungkin mereka mentransfer pemikiran dan keahliannya kepada kelompok-kelompok ekstrem di tingkat lokal," kata dia.
Dalam konteks itu, Muchlis menilai perlu kerja sama internasional dalam penanggulangan terorisme dan ekstremisme untuk mencegah kemunculan ISIS baru. Paling tidak, meminimalisir dampak negatif ISIS dan membatasi ruang geraknya.
Selain itu, kata dia, diperlukan juga upaya untuk meluruskan kesalahpahaman terhadap beberapa konsep dasar ke-Islaman yang selama ini menjadi salah satu faktor kuat munculnya ekstremisme dan terorisme.
"Negara-negara Islam harus merapatkan barisan dan bergandengan tangan untuk mengkonter ideologi tersebut dan membentengi generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam kubangan pemikiran radikal," papar Muchlis.
Melalui berbagai program, kata dia, terutama pendidikan agama dan keagamaan, pemerintah Indonesia dengan didukung oleh ormas-ormas Islam berkomitmen untuk terus memperkuat moderasi Islam sebagai sebuah cara mengelola keberagamaan.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Bahasa Indonesia Makin Memikat Para Mahasiswa Rusia
Bagikan
Berita Terkait
Pemantauan Hilal Awal Ramadan 1447 H dilakukan di 96 Lokasi di Seluruh Indonesia, ini Tempatnya
KPK Kembali Periksa Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas terkait Kasus Korupsi Kuota Haji
Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Awal Ramadan 17 Februari 2026, Masjid IKN Jadi Lokasi Rukyatul Hilal
Kemenag Ingatkan Pentingnya Pencatatan Pernikahan, Lindungi Hak Perempuan dan Anak
Gandeng BPK, KPK Mulai Telusuri Kasus Korupsi Kuota Haji Tambahan
KPK Periksa Pemilik Maktour terkait Kasus Korupsi Kuota Haji di Kemenag
WNI Anak Terkait ISIS Dibui Hampir 8 Bulan di Yordania, Kemenlu Pastikan Kondisinya Sehat
WNI Anak di Yordania Diduga Dukung ISIS, Kemenlu Pantau Proses Hukum
[HOAKS atau FAKTA]: Pemerintah Australia Bagi-bagi Uang untuk Modal Usaha, Dititip Lewat Kementerian Agama
Menteri Agama Sebut Indonesia Bak ‘Sekeping Surga yang Diturunkan Tuhan Lebih Awal’