Sebangsa Bahagia

P Suryo RP Suryo R - Jumat, 01 Desember 2023
Sebangsa Bahagia

Jangan lupa bahagia! (MP/Fauzan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

JANGAN lupa bahagia, kerap menjadi jargon saling mengingatkan agar tetap waras dalam kehidupan yang penuh dengan pasang surut tak menentu. Ini melambari penghujung tahun 2023 dan menyambut tahun 2024. Kewarasan menjadi evaluasi dan resolusi. Makanya bahagia harus tetap harus membungkus kesehatan mental agar tetap waras.

Menjadi bahagia bukan berarti seseorang memiliki kekurangan dalam dirinya. Menurut Startup Executive Psychologist Matthew Jones, PsyD yang dijelaskan di quora.com, jika seseorang mengidentifikasikan diri dengan keadaan kurang dari yang dimiliki sekarang ini. Maka orang itu memperkuat dan menciptakan kekosongan yang ingin dipenuhi. Identitas ini menciptakan dilema ketidakbahagiaan.

Dilansir laman Very Well Mind, kebahagiaan adalah keadaan emosional yang ditandai dengan perasaan senang, puas, puas, dan puas. Kebahagiaan sering digambarkan melibatkan emosi positif dan kepuasan hidup.

Menjadi bahagia meliputi berbagai kantung pemenuhan kebutuhan yang ada di dalam diri seseorang. Menjadi bahagia tak melulu tentang benda, namun juga ide, konsep, gagasan, perilaku, dan tindakan. Semua hal itu kemudian mencampurbaur menjadi keadaan bahagia bagi seseorang. Pun ketika mengevaluasi perjalanan di tahun 2023, bisa jadi seseorang masih dapat mewujudkan kebahagiaannya. Meskipun itu hanya keadaan kecil, seolah tak berdampak luas.

Memang tidak ada orang yang mampu memprediksi untuk mendapatkan kebahagiaan di masa depan, tahun 2024. Meskipun ada potensi untuk mendapatkan kebahagiaan yang menunggu di depan. Yang jelas harapan tetap harus dipupuk untuk meraih kebahagiaan itu. Pengalaman sedikit banyak mengajarkan seseorang menatap kebahagiaan yang ada di depan. Yang terpenting adalah ada niat untuk membuat perbaikan di masa depan.

Perbaikan inilah yang men jadi harapan bagi bangsa Indonesia dalam menatap Pemilu 2024. Masa kampanye sudah bergulir sejak tanggal 29 November 2023. Semua peserta pemilu khususnya calon presiden (capres), berlomba-lomba menggaet calon pemilih yang terdiri dari berbagai faktor demografi.

Yang disorot adalah para pemilih muda alias Gen Z yang dapat memberikan sumbangan suara yang tidak sedikit. Gen Z yang dilahirkan setelah tahun 1996 itu, dianggap ‘memusingkan’ tim sukses.

Seperti yang diungkapkan oleh pakar politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Mada Sukmajati melalui Antaranews (30/11), menilai peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 memerlukan strategi khusus menggaet suara pemilih muda. Khususnya generasi milenial dan generasi Z karena mereka mudah berubah dalam menentukan pilihan.

bahagia
Menjadi bahagia meliputi berbagai kantung pemenuhan kebutuhan yang ada di dalam diri seseorang. (Unsplash/Lidya)

Harus disadari bahwa generasi muda ini sangat menguasai informasi yang beredar di dunia maya. Mereka sangat pintar menganalisa berita-berita yang berseliweran di media sosial dan sejenisnya. Tentunya ini berhubungan kebahagiaan diri mereka. Jangan sampai memberikan suara pada capres dan anggota legislatif yang membuat dunia mereka jungkir balik.

Berdasarkan data KPU RI, jumlah pemilih generasi milenial mencapai 66.822.389 atau 33,60 persen. Sedangkan generasi Z sebanyak 46.800.161 pemilih atau 22,85 persen dari total DPT Pemilu 2024. Mengacu hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebanyak 51 persen dari pemilih muda tersebut memiliki karakter moody atau mudah berubah.

Jadi Mada menggarisbawahi bahwa seluruh pasangan kandidat perlu memberikan perhatian khusus terhadap dua generasi itu sebab jumlah mereka cukup besar dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024.

"Mereka bisa juga menentukan pilihan di luar dugaan kita, bahkan mungkin bisa jadi mereka akan tetap kesulitan menentukan pilihannya sampai pada hari pemungutan suara," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu.

Bukan mustahil bahwa generasi milenial dan Z akan cenderung memilih capres yang dekat dengan mereka dari isu terkini. Bahkan, dasar pemilihan capres generasi ini dipandang tidak lagi menekankan partai politik mana yang mengusungnya.

Sayangnya generasi itu tidak mau memperdalam isu-isu politik yang beredar. Mereka hanya mengonsumsi berita-berita atau informasi-informasi politik dalam level ringan. Seolah mereka tidak mempedulikan isu politik, ketimbang isu-isu yang langsung terhubung dengan dirinya.

Namun yang terpenting adalah tetap menjaga bahagia di dalam diri. Jangan biarkan faktor-faktor eksternal meredam kebahagiaan. Jangan sampai isu-isu pada periode pemilu tahun lalu meluluhlantakan kebahagiaan. Jadi sebaiknya bijak mengelola media sosial yang sangat melambari keseharian. Stop emosi menanggapi konten-konten yang ada di dunia maya.

Menurut Dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada Novi Poespita Candra yang dimuat dalam Antaranews (29/11), sebaiknya penggunaan media sosial perlu dikurangi dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Kemudian tetapkan waktu tertentu untuk mengakses media sosial. Lalu berlibur, piknik atau bentuk rekreasi lainnya yang akan mempertahankan kebahagiaan di dalam diri.

Selain itu, Novi menyebutkan media sosial bersifat adiktif, karena media sosial dapat memicu peningkatan hormon dopamin yang dapat membuat seseorang bahagia. Novi mengatakan, karena sifatnya yang adiktif tersebut, orang beralih ke media sosial untuk bersembunyi dari permasalahan di kehidupan nyata. Namun yang harus diingat adalah jangan mengikuti standar orang lain. Setiap orang memiliki ukuran-ukuran yang berbeda dalam mewujudkan kebahagiaan. (*)

#Desember Sebangsa Bahagia #Kesehatan Mental #Pemilu 2024
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
DKPP Ungkap 31 Perkara Politik Uang di Pemilu dan Pilkada 2024, Perlunya Sinergi Kuat dari Bawaslu hingga KPU
DKPP mengungkap 31 perkara politik uang selama Pemilu dan Pilkada 2024. Hal itu diungkapkan Anggota Dewan DKPP, Ratna Dewi Pettatolo.
Soffi Amira - Jumat, 21 November 2025
DKPP Ungkap 31 Perkara Politik Uang di Pemilu dan Pilkada 2024, Perlunya Sinergi Kuat dari Bawaslu hingga KPU
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Dunia
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
Sepuluh terdakwa menyebarkan apa yang oleh jaksa digambarkan sebagai ‘komentar jahat’ mengenai gender dan seksualitas Brigitte.
Dwi Astarini - Kamis, 30 Oktober 2025
  Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
Fun
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
Merawat diri tidak lagi sekadar urusan penampilan fisik, tetapi juga menjadi sarana penting untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan emosional.
Dwi Astarini - Senin, 13 Oktober 2025
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
Lifestyle
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Hanya dengan 15 menit 9 detik gerakan sederhana setiap hari, partisipan mengalami peningkatan suasana hati 21 persen lebih tinggi jika dibandingkan ikut wellness retreat.
Dwi Astarini - Senin, 13 Oktober 2025
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Indonesia
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan
Posyandu Ramah Kesehatan Jiwa diperkuat untuk mewujudkan generasi yang sehat fisik dan mental.
Dwi Astarini - Senin, 06 Oktober 2025
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan
Lifestyle
Kecemasan dan Stres Perburuk Kondisi Kulit dan Rambut
Stres dapat bermanifestasi pada gangguan di permukaan kulit.
Dwi Astarini - Kamis, 04 September 2025
Kecemasan dan Stres Perburuk Kondisi Kulit dan Rambut
Bagikan