MerahPutih.com - Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Kholid, menekankan pentingnya pengelolaan ekspektasi pasar secara strategis di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan dinamika ekonomi global.
Menurut Kholid, stabilitas ekonomi nasional tidak cukup dijaga hanya melalui kebijakan teknis moneter, tetapi juga lewat kemampuan otoritas dalam membangun kepercayaan publik dan pelaku pasar.
Dalam situasi saat ini, terutama dalam konteks nilai tukar rupiah, perlu ada strategic management of expectation. Jadi bagaimana mengelola ekspektasi itu strategis, bukan hanya kebijakan teknis moneter,
ujar Kholid dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, dikutip Rabu (20/5).
Trauma Krisis 1998 Masih Membayangi Pasar
Kholid mengingatkan bahwa persepsi publik terhadap pelemahan rupiah masih dipengaruhi trauma krisis moneter 1998.
Karena itu, pemerintah bersama otoritas keuangan dinilai perlu aktif memitigasi persepsi tersebut melalui komunikasi yang konsisten, terukur, dan berbasis data.
Kita mengalami anchoring bias, ada trauma persepsi 1998. Padahal kondisi sekarang totally different dengan 1998,
ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera tersebut.
Fundamental Ekonomi Lebih Kuat
Kholid menjelaskan, kondisi depresiasi rupiah saat ini berbeda jauh dibandingkan situasi ketika krisis 1998 terjadi, baik dari sisi fundamental ekonomi maupun struktur utang luar negeri sektor swasta.
Baca juga:
Menurutnya, pada masa krisis 1998 sektor swasta memiliki ketergantungan utang luar negeri dalam denominasi dolar AS yang sangat besar.
Dulu private sector utang luar negerinya luar biasa besar dalam bentuk dolar. Sekarang kondisinya berbeda. Karena itu confidence level harus dinaikkan agar market percaya kepada otoritas,
lanjutnya.
Indonesia Berpengalaman Hadapi Krisis
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia telah berkali-kali menghadapi tekanan ekonomi global dan berhasil melewati berbagai fase krisis.
Mulai dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, taper tantrum 2013, hingga pandemi Covid-19 disebut menjadi bukti ketahanan ekonomi nasional.
Kita pernah mengalami fase-fase krisis sebelumnya dan bisa melewati itu. Maka optimisme dan confidence level itu harus dikelola dengan baik secara institusional,
katanya.
Selain membangun optimisme pasar, Kholid meminta pemerintah tetap transparan dalam menyampaikan tantangan ekonomi yang sedang dihadapi.
Ia menilai pasar perlu melihat adanya reformasi dan soliditas antarlembaga ekonomi negara.
Market harus melihat ada reform, ada soliditas yang luar biasa antara sektor moneter, industri jasa keuangan, dan fiskal,
ujarnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/5).
Baca juga:
Rupiah Tembus Rp 17.734 per Dolar AS, Pramono Beri Respons Santai
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 1,03 persen ke level Rp 17.640 per dolar AS.
Posisi tersebut membuat rupiah kembali menembus area psikologis di atas Rp 17.000 per dolar AS dan menjadi level penutupan terlemah sepanjang sejarah. (Knu)