MerahPutih.com - Iran telah mengajukan proposal penyelesaian perdamaian sebanyak 14 poinnya. Di mana, telah meminta Washington untuk mencairkan aset asing senilai 24 miliar dolar AS atau sekitar Rp 432 triliun untuk bisa dicairkan.
Dengan setengahnya dicairkan pada di tahap awal saat mencapai nota kesepahaman untuk menyelesaikan konflik dan sisanya di tahap berikutnya setelah negosiasi isu nuklir.
Iran menuntut Amerika Serikat untuk segera mencairkan sedikitnya 50 persen aset asing miliknya setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU)
Iran bersikeras, sedikitnya, 50 persen aset beku harus dicairkan kepada Teheran segera setelah nota kesepahaman ditandatangani, dengan sisanya menyusul dalam jangka waktu yang wajar,
. kata kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, Kamis (4/6).
Baca juga:
Siapkan Aksi Balasan, Iran Tuding Kuwait dan Bahrain Terlibat Serangan AS ke Pulau Qeshm
Semenentara itu, epartemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menghadapi tekanan untuk menanggung biaya yang timbul akibat operasi militer di Iran dan sejumlah penugasan tak terduga lainnya, lapor Fox News dengan mengutip pejabat militer AS.
Sejumlah operasi tersebut tidak masuk dalam perencanaan anggaran tahun fiskal 2026, sehingga menambah beban sumber daya Pentagon dan memaksa pimpinan militer AS mengambil keputusan sulit terkait pengeluaran.
Operasi yang tidak direncanakan itu mencakup Operation Epic Fury (operasi Epic Fury) di Iran, misi pengamanan perbatasan selatan, serta penugasan Garda Nasional.
Tekanan keuangan tersebut semakin berat akibat kenaikan harga bahan bakar.
Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Mei bahwa Angkatan Laut perlu mengurangi biaya operasi rutin apabila tidak memperoleh pendanaan tambahan.