RIRS, Solusi Terbaru Pengangkatan Batu Ginjal yang Lebih Efektif
Nur Rasyid. (Foto: merahputih.com/Tika Ayu)
MerahPutih.com - Penanganan batu ginjal kini bisa jadi lebih efektif dengan adanya inovasi teknologi terbaru di bidang medis. Metode Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) dapat mengangkat batu ginjal dengan 'halus' tanpa menimbulkan luka.
Hal tersebut dingkapkan oleh Dokter Spesialis Urologi Nur Rasyid dalam diskusi media bertajuk Siloam Hospital ASRI: Mengatasi kasus batu ginjal yang sulit dengan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (5/6).
Rasyid mengungkapkan RIRS dapat menangani batu ginjal dengan laser yang memiliki banyak kelebihan daripada tindakan operasi lainnya seperti Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) atau Operasi Percutaneous Nephrolithotomy (PNCL).
"Teknologi baru di mana pasien tidak perlu dilukai tapi perlu untuk dibius umum. Tetapi kelebihannya adalah seberapapun keras batu itu, di manapun letak batu itu kita bisa mencapai tempatnya,” kata Rasyid.
Baca juga:
RIRS, lanjut Rasyid, dapat bekerja dengan membuat ukuran batu ginjal jadi luruh atau lebih kecil. Dengan begitu, pengangkatan batu ginjal jadi lebih mudah dan minim risiko.
"Dan kita bisa memecahkan menjadi pecahan yang kecil di bawah 5 mili. Bahkan kalau pas batunya yang tidak terlalu keras, kita bisa pecahkan halus sehingga langsung keluar saat itu,” ujarnya.
Rasyid mengatakan RIRS minim menimbulkan luka karena prosedur dilakukan dengan menggunakan alat dari luar tubuh yakni saluran kemih yang langsung masuk ke dalam Ginjal. Berbeda dengan PNCL, untuk menghilangkan batu ginjal pesien yang keras perlu dilakukan pembedahan kulit 5 milimeter atau maksimal 1 sentimeter.
"Alatnya masuk ke dalam Ginjal, kemudian batu dipecahkan dan dikeluarkan. Tapi (PNCL) tetap masih ada luka, dan risiko berdarah, kadang-kadang perlu transfusi walau di bawah 10 persen," ujarnya.
Baca juga:
Rasyid mengatakan efektivitas tindakan RIRS juga terlihat pada proses pemulihan pasien. RIRS tidak membuat pasien harus menjalani rawat inap dalam waktu yang lama. Risiko infeksi juga lebih rendah.
”Melalui saluran tubuh sendiri. Biasanya tindakan ini tanpa luka dan bisa memecah batu secara halus dan pasien hanya akan dirawat 1-2 malam saja kemudian bisa bekerja kembali dan menurunkan risiko infeksi."
Tindakan ini juga dapat memastikan seperti apa komposisi batu ginjal. Agar penanganan jadi lebih maksimal, dokter akan memberikan obat-obatan sebagai tindakan pencegahan.
"Dengan pertimbangan ini, menjadi sangat mudah dilaksanakan di RS Siloam,” tutupnya. (ayu)
Bagikan
Tika Ayu
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta