MerahPutih.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi pukulan politik serius setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mayoritas dikendalikan Partai Republik meloloskan resolusi penghentian serangan ke Iran. Resolusi itu mewajibkan Trump memperoleh persetujuan DPR sebelum melanjutkan perang terhadap Iran.
Baca juga:
Rp 432 Triliun Aset Ditahan AS, Iran Minta Pencairan Setengah Sesuai Kesepakatan Damai
Resolusi didukung 215 anggota DPR dan ditentang 208 legislator. Menariknya, empat anggota Partai Republik dari negara bagian swing states—Thomas Massie, Brian Fitzpatrick, Warren Davidson, dan Tom Barrett—membelot mendukung resolusi yang diajukan Demokrat. Fakta ini menjadi sinyal kuat adanya pergeseran politik yang bisa memengaruhi peta elektoral dalam Pemilu Sela November mendatang.
Publik AS Menolak Perang Iran
Meski resolusi DPR tidak mengikat presiden, dukungan dari sejumlah anggota Partai Republik memperlihatkan lemahnya dukungan politik terhadap proyek Trump di Iran. Sebulan sebelumnya, empat senator Republik juga menyempal mendukung prakarsa serupa di Senat.
Baca juga:
Trump Tetap Pertahankan Blokade Menuju Selat Hormuz Sampai Perjanjian Damai Disepakati
Opini publik di AS pun sejalan dengan langkah legislatif. Survei University of Maryland Critical Issues Poll pada 15–21 Mei 2026 menunjukkan 56 persen rakyat menilai perang Iran lebih banyak membawa dampak negatif bagi AS. Hanya 12 persen yang menilai positif, sementara hanya 16 persen responden percaya AS telah memenangkan perang tersebut.
Serangan ke Iran Dinilai Gagal Total
Bahkan, New York Times menyimpulkan pemerintahan Trump gagal mencapai tujuan utamanya: rezim Iran tetap utuh, proyek nuklir berjalan, dan proksi Iran masih aktif menyerang kepentingan AS maupun Israel.
Pemerintahan Trump tidak berhasil mencapai satu pun tujuannya dalam memerangi Iran,
tulis Laporan New York Times
Trump sebelumnya mengklaim rezim Teheran ambruk dan militer Iran lumpuh. Namun dilansir dari Antara, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Operation Epic Fury justru merontokkan 42 pesawat tempur AS, termasuk jet siluman F-35, dengan biaya mencapai 29 miliar dolar AS (Rp 522,4 triliun).
Baca juga:
Lebih jauh, posisi Iran di kawasan justru semakin kuat. Selat Hormuz, jalur vital 20 persen minyak dunia, kini berada di bawah kendali Iran. Kondisi ini menegaskan bahwa strategi militer Trump tidak hanya gagal, tetapi juga memperburuk posisi geopolitik AS di Timur Tengah. (*)