Merahputih.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memproyeksikan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan berlangsung singkat, yakni selama empat pekan atau bahkan kurang dari itu.
Penegasan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang memanas setelah serangkaian serangan udara gabungan AS dan Israel menghantam sejumlah titik strategis di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu lalu.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang," ujar Trump dikutip Daily Mail, Senin (2/3).
Baca juga:
Dampak Serangan ke Iran, Ribuan Jemaah Umrah Indonesia Terjebak di Arab Saudi
Risiko Korban Jiwa dan Eskalasi Serangan
Meski optimistis dengan durasi operasi yang singkat, Trump tidak menampik adanya konsekuensi berat di lapangan.
Ia mengakui potensi munculnya korban jiwa baru di kalangan personel militer AS selama berlangsungnya misi di wilayah Iran tersebut.
Kondisi di Timur Tengah kian membara setelah Iran membalas serangan Sabtu tersebut dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS.
Serangan balasan ini merupakan respons langsung atas kerusakan dan jatuhnya korban sipil di Teheran akibat operasi udara sekutu.
Diplomasi di Tengah Desing Peluru
Di sisi lain, Trump mengklaim adanya sinyal keinginan Teheran untuk kembali ke meja perundingan. Namun, ia menyayangkan keterlambatan sikap Iran dalam merespons jalur diplomasi yang seharusnya bisa ditempuh lebih awal.
Baca juga:
Ali Khamenei dan Petinggi Meninggal, Menlu Iran Tegaskan Kemampuan Militer Tidak Berubah
"Iran ingin memulai perundingan setelah operasi AS. Mereka seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini," tambah Trump.
Hingga saat ini, situasi di perbatasan dan fasilitas militer di Timur Tengah tetap dalam status siaga tinggi mengantisipasi serangan susulan dari kedua belah pihak.