Petani Sawit Kritik Praktik Inklusi Sawit Berkelanjutan, Komitmen RSPO dan Industri Dipertanyakan

Alwan Ridha RamdaniAlwan Ridha Ramdani - Sabtu, 07 November 2026
Petani Sawit Kritik Praktik Inklusi Sawit Berkelanjutan, Komitmen RSPO dan Industri Dipertanyakan

Diskusi Publik side event RT RSPO yang mengangkat tema “Fase Baru Inklusi Pekebun Swadaya: Menyelaraskan Sertifikasi, Pasar, dan Manfaat Bagi Pekebun.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Momentum Konferensi Tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RT RSPO 2026), digunakan petani sawit swadaya untuk menungkapkan keresahan atas praktik inklusi dalam industri sawit berkelanjutan yang terjebak pada "inklusi semu" yang hanya berhenti pada pendampingan dan sertifikasi di atas kertas.

Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Yayasan Fortasbi Indonesia, dan Sawit Watch bersama koalisi organisasi petani menegaskan, di tengah tingginya biaya investasi sertifikasi dan makin ketatnya tuntutan uji tuntas pasar global seperti EUDR, petani swadaya justru terus menghadapi kesenjangan penyerapan pasar, penurunan komitmen pembelian kredit oleh industri, hingga minimnya manfaat ekonomi nyata yang dirasakan.

Situasi ini mendesak seluruh aktor rantai pasok mulai dari pabrik kelapa sawit (Mill), Processors & Traders (P&T), hingga Consumer Goods Manufacturers (CGM)—untuk menghentikan klaim inklusivitas tanpa komitmen pembelian, serta segera mengintegrasikan 8 kriteria inklusi sejati yang menjamin akses pasar fisik, alokasi khusus pembelian kredit, dan keadilan ekonomi bagi petani swadaya.

Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Sabarudin, mengkritik keras kesenjangan antara masifnya sertifikasi pekebun swadaya dan fakta penyerapan pasar yang justru memburuk di lapangan.

Sertifikasi RSPO bagi pekebun swadaya memang tumbuh pesat hingga 30–40 koperasi (20%) per tahun, namun celakanya dalam tiga tahun terakhir para petani justru mengalami kesulitan menjual kredit, bahkan hasil studi kami hanya sekitar 7% saja volume kredit yang berhasil terjual pada periode 2023–2024.

Ketersediaan kredit yang menumpuk tanpa pembeli ini, tegas Sabarudin, akan menjadi bom waktu di internal organisasi petani jika tidak segera dicari solusinya.

“Oleh karena itu, kami mendesak RSPO untuk memfasilitasi penyerapan pasar yang nyata, mendorong industri memperluas skema pemenuhan rantai pasok fisik, serta memastikan komitmen inklusivitas berkelanjutan tidak lagi berhenti pada selembar sertifikat semata,” ujar Sabarudin.

Kepala Sekretariat FORTASBI sekaligus Anggota Board of Governors (BoG) RSPO, Rukaiyah Rafik, menggarisbawahi bahwa mendefinisikan kembali inklusi merupakan prioritas mendesak agar sertifikasi tidak membebani institusi petani.

Sejak 2013 hingga lonjakan besar di 2016, petani swadaya telah membuktikan komitmen tinggi untuk masuk ke sistem keberlanjutan, namun pasar tidak kunjung membuka diri secara sepadan. Biaya sertifikasi untuk satu kelompok tani bisa mencapai US$ 29.000 per tahun, sementara manfaat dari penjualan kredit sangat minim dan tidak berpihak.

Inklusi itu tidak hanya mengajak petani masuk ke dalam sistem atau bahagia karena jumlah petani terverifikasi bertambah, tetapi bagaimana memastikan keterhubungan rantai pasok dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,

ungkapnya.

Isu kredit yang menumpuk dan transparansi harga ini, tegas Ia, menjadi perhatian serius yang terus didorong di rapat BoG dan General Assembly RSPO agar ada tindakan serta revisi kebijakan yang lebih nyata bagi pekebun swadaya.

Direktur Eksekutif Sawit Watch menegaskan Achmad Surambo, adanya paradoks besar dalam tata kelola sawit berkelanjutan saat ini.

Sejak 2013 hingga 2026, capaian sertifikasi petani melonjak hingga 800%, namun situasi tersebut sama sekali tidak berimbang dengan daya serap pasar yang gagal meresponsnya,

katanya.

Praktik inklusi yang berjalan selama ini, tegas ia, baru sebatas pada tataran pelatihan dan pendampingan, sementara petani tetap tersingkir dari rantai pasok utama.

Penumpukan kredit yang tidak terjual harus segera dijawab dengan aksi nyata,

ungkapnya.

#Sawit Watch #Ekspor Sawit #Kelapa Sawit
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Alwan Ridha Ramdani

Alwan Ridha Ramdanu adalah Jurnalis kelahiran di Bandung, Jawa Barat. Sudah 20 tahun menjadi jurnalis dengan mayoritas fokus pada liputan atau menulis terkait ekonomi makro. Selain jurnalis, Alwan juga adalah pendamping petani sawit swadaya dan juga berpengalaman dalam communication dan community terkait isu keberlanjutan dan lingkungan hidup.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Petani Sawit Kritik Praktik Inklusi Sawit Berkelanjutan, Komitmen RSPO dan Industri Dipertanyakan
Biaya sertifikasi untuk satu kelompok tani bisa mencapai US$ 29.000 per tahun, sementara manfaat dari penjualan kredit sangat minim dan tidak berpihak.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 07 November 2026
Petani Sawit Kritik Praktik Inklusi Sawit Berkelanjutan, Komitmen RSPO dan Industri Dipertanyakan
Indonesia
Ekspor Satu Pintu dan RSPO Bakal Perkuat Kepercayaan Pasar Global Kelapa Sawit Indonesia
Ekspor satu pintu DSI diharapkan mengamankan tata kelola ekspornya. Penggabungan antara kepatuhan berkelanjutan dan kelancaran ekspor.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 06 November 2026
Ekspor Satu Pintu dan RSPO Bakal Perkuat Kepercayaan Pasar Global Kelapa Sawit Indonesia
Indonesia
Nasib Petani, Ekspor Satu Pintu, dan Fakta Kebakaran di Lahan Sawit Indonesia
Masyarakat pedesaan dan petani kecil adalah denyut nadi industri ini, menyumbang hampir separuh dari total produksi sawit di Indonesia
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 04 November 2026
Nasib Petani, Ekspor Satu Pintu, dan Fakta Kebakaran di Lahan Sawit Indonesia
Indonesia
Pemerintah Tetapkan Lahan Dikelola Agrinas Buat Kebun Sawit Jadi Proyek Strategis Nasional
Pemerintah Tetapkan Lahan Dikelola Agrinas Buat Kebun Sawit Jadi Proyek Strategis Nasional
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 30 Oktober 2026
Pemerintah Tetapkan Lahan Dikelola Agrinas Buat Kebun Sawit Jadi Proyek Strategis Nasional
Indonesia
Menkop Dorong Koperasi Bangun Pabrik Minyak Goreng
Pengembangan hilirisasi berbasis koperasi diperlukan agar petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari rantai industri sawit, yang selama ini didominasi korporasi besar.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 28 Oktober 2026
Menkop Dorong Koperasi Bangun Pabrik Minyak Goreng
Indonesia
Pungutan Ekspor Sawit Bakal Digunakan Untuk Pengembangan Hilirisasi Kelapa
"Pungutan dari sawit dananya sebagian besar untuk pengembangan varietas-varietas baru termasuk pengembangan hilirisasi kelapa," ujar Menteri Zulhas.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 08 Oktober 2026
Pungutan Ekspor Sawit Bakal Digunakan Untuk Pengembangan Hilirisasi Kelapa
Indonesia
Koperasi Bakal Dilibatkan Dalam Rantai Bisnis Sawit, Bukan Hanya Kelola Kebun
Kementerian Koperasi akan meresmikan pabrik CPO berbasis koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pada akhir Juli atau awal Agustus 2026.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 03 Juli 2026
Koperasi Bakal Dilibatkan Dalam Rantai Bisnis Sawit, Bukan Hanya Kelola Kebun
Indonesia
BBM B50 Diklaim Kuatkan Nilai Tambah Komoditas Sawit dan Hemat Impor BBM Ratusan Triliun
Data Kementerian ESDM, implementasi program biodiesel selama 2015 - 2025 berhasil menghemat devisa Rp 722,9 triliun
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Juni 2026
BBM B50 Diklaim Kuatkan Nilai Tambah Komoditas Sawit dan Hemat Impor BBM Ratusan Triliun
Indonesia
Mentan Lapor ke Presiden Prabowo Harga Sawit Petani sudah Kembali Normal
Pemerintah sangat memperhatikan perkembangan harga TBS di tingkat petani karena tidak ingin petani sawit merugi ketika harga CPO dunia meningkat.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Mentan Lapor ke Presiden Prabowo Harga Sawit Petani sudah Kembali Normal
Berita
Harga TBS Jatuh, Satgas Pangan Polri Lakukan Penyelidikan ke 173 Pabrik Kelapa Sawit
Sampai saat ini proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk mencari dan menemukan apakah terdapat peristiwa pidana yang terjadi atau tidak.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 23 Juni 2026
Harga TBS Jatuh, Satgas Pangan Polri Lakukan Penyelidikan ke 173 Pabrik Kelapa Sawit
Bagikan