MerahPutih.Com - Percaturan politik nasional memasuki babak kontestasi antarcalon untuk memenangkan Pilpres 2019. Warga negara yang memiliki hak pilih dihadapkan pada dua pasangan calon yakni calon petahana Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.
Dalam situasi seperti ini, pemilih perlu mendapat pencerahan terkait calon pemimpinnya. Untuk itulah, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) merasa terpanggil mewujudkan negara yang dipimpin oleh orang tepat dan benar.
Sebagai wujud nyata dari tanggung jawab tersebut, Perhimpunan INTI menggelar dialog bertajun "Bedah Pilpres 2019" yang bertempat di Sekretariat INTI, Kompleks Mega Glodok Kemayoran Tower 8, Lantai 10, Jalan Angkasa No 1, Jakarta.
Tampil sebagai nara sumber, ekonom yang juga aggota dewan pakar Perhimpunan INTI Faisal Basri, Muhammad Nadjib, Thung Ju Lan, Esty Ekawati, dan sebagai moderator adalah Budi S Tanuwibowo yang juga wakil ketua Umum Perhimpunan INTI.
Diskusi "Bedah Pilpres 2019" dibuka oleh Ketua Harian yang juga Wakil Ketua Umum Perhimpunan INTI Dr. Indra Wahidin. Dalam sambutannya, Indra Wahidin menyampaikan bahwa Perhimpunan INTI tidak berpolitik, dan dialog digelar untuk memberikan wawasan seluas-luasnya kepada yang hadir, karena proses Pilpres 2019 tinggal menghitung hari.
Perhimpunan INTI juga menyampaikan bahwa dalam negara demokrasi, suka tidak suka, peduli tidak peduli, proses ini amat sangat menentukan perjalanan bangsa, setidaknya untuk kurun waktu lima tahun mendatang. Bahkan pada kenyataannya, dampaknya bisa lebih panjang dari periodenya.
Salah satu pembicara Ekonom Faisal Basri mengungkapkan dari data yang terpapar saat ini, rupiah merosot ke angka Rp14.000. Paparan itu cukup menarik peserta yang hadir sehingga banyak yang bertanya kepada ekonom Universitas Indonesia tersebut.
Baik Esty dan Tung Ju Lan, memang menyampaikan beberapa hal tentang ekonomi dan birokrasi, namun kepiawaian moderator Budi S Tanuwibowo, membuat suasana talkshow menjadi bermakna dan menarik.
"Bedah Pilpres 2019" dihadiri banyak tokoh dan peserta. Semua memberikan apresiasi terhadap acara tersebut sebagai salah satu bentuk pendidik politik publik yang layak untuk diikuti.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Haedar Nashir Serukan Agama Tidak Sekedar Ritual atau Simbolik Semata

