Perempuan Berjibaku di Kereta Commuter Line, di Antara Desakan dan Harapan

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 07 Mei 2026
Perempuan Berjibaku di Kereta Commuter Line, di Antara Desakan dan Harapan

Perempun setiap hari berjuang di dalam KRL.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ada ribuan perempuan yang sudah memulai hari mereka di peron stasiun. Mereka bukan sekadar menunggu kereta, mereka sedang bersiap menghadapi satu fase penting dalam rutinitas mereka: perjalanan menggunakan Kereta Commuter Line (KRL) menuju tempat kerja. Bagi sebagian besar dari mereka, ini bukan pilihan, melainkan keharusan.

Ketergantungan terhadap kereta sebagai moda transportasi utama begitu besar. Waktu, jarak, dan biaya membuat KRL menjadi satu-satunya opsi yang paling masuk akal. Alternatif lain seperti kendaraan pribadi sering kali tidak realistis, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari pusat kota. Salah satunya seorang pekerja admin support manager bernama Putri yang bertempat tinggal di Tangerang.

"Sangat besar pada saat itu untuk alternatif lain mungkin menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi saat itu hanya ada kendaraan bermotor, tapi sangat jauh. Jadi kecil kemungkinan kecil untuk menjadi alternatif," ucapnya kepada Merahputih.com.

Namun, ketergantungan ini datang dengan konsekuensi. Setiap hari, perempuan harus berhadapan dengan kondisi kereta yang padat, ruang gerak yang terbatas, dan situasi yang tidak selalu nyaman. Dalam gerbong yang penuh, tubuh berimpitan, dan ruang pribadi nyaris tidak ada.

Baca juga:

KRL Rangkasbitung Alami Gangguan, KAI Commuter Upayakan Normalisasi Antrean Penumpang


Bagi perempuan, kondisi ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, melainkan juga soal keamanan dan ketahanan fisik. Tantangan ini menjadi jauh lebih kompleks bagi seorang perempuan sedang hamil. Kondisi tubuh yang lebih rentan membuat perjalanan dengan KRL pengalaman yang penuh kekhawatiran. Berdiri lama, berdesakan, dan risiko tersenggol menjadi ancaman yang nyata setiap harinya.

“Pada saat ini, karena kondisi kehamilan tidak terlalu kuat atau bisa dikatakan sedikit lemah, itu selalu menjadi ketakutan ketika harus berdesakan. Takutnya kesenggol atau ketekan ya pastinya dengan penumpang lain, yang membahayakan kehamilan saya pada saat itu. Jadi itu yang membuat stres, terutama untuk ibu hamil trimester 1,” lanjutnya.

Dalam situasi seperti itu, perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas justru berubah menjadi sumber stres. Rasa cemas terus menghantui, terutama ketika kondisi di dalam kereta tidak memungkinkan untuk duduk atau mendapatkan ruang yang aman.

Di lain sisi, ada upaya yang mulai dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan perlindungan bagi penumpang perempuan, khususnya ibu hamil. Salah satunya yakni pemberian pin khusus sebagai penanda agar mereka mendapatkan kursi prioritas.

“Untuk saat ini sih cukup ya, kita diberikan pin ibu hamil sebagai tanda agar bisa mendapatkan kursi prioritas,” ujarnya.

Meski demikian, implementasi di lapangan tidak selalu berjalan sempurna. Tidak semua penumpang peka atau bersedia memberikan tempat duduk. Pada akhirnya, perempuan sering kali harus kembali mengandalkan diri sendiri untuk bertahan di tengah situasi yang tidak ideal.

Pengalaman hampir celaka juga menjadi bagian dari cerita yang tak terpisahkan. Dalam kondisi yang padat dan terburu-buru, hal-hal kecil bisa berujung pada risiko besar.

“Itu dulu sih dulu banget, tas hampir kejepit tapi beruntungnya masih bisa ditarik. Hal-hal seperti itu sebenarnya tidak akan terjadi kalau kita ikutin sesuai aturan yang ada, yaitu penumpang turun dulu, baru kita naik,” bebernya.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kedisiplinan dan kesadaran bersama sangat penting dalam menjaga keselamatan. Lebih jauh lagi, isu keselamatan transportasi publik dari perspektif gender masih menjadi pekerjaan rumah. Banyak perempuan yang masih merasa belum sepenuhnya aman saat menggunakan transportasi umum. Risiko pelecehan, keterbatasan fasilitas, serta sistem pelaporan yang belum optimal menjadi tantangan yang terus ada.

“Menurut saya, isu keselamatan transportasi publik dari perspektif gender belum sepenuhnya diperhatikan. Masih banyak perempuan dan kelompok rentan yang merasa tidak aman karena risiko pelecehan, kurangnya fasilitas pendukung, dan sistem pelaporan yang belum optimal. Upaya sudah ada, tapi perlu diperkuat agar semua pengguna bisa merasa aman dan nyaman,” sarannya.

Pada akhirnya, perjalanan menggunakan KRL bagi perempuan bukan sekadar aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ini merupakan bentuk perjuangan harian, tentang bertahan di tengah keterbatasan, menjaga diri dalam situasi yang tidak selalu aman, dan tetap menjalani peran sebagai pekerja dengan penuh tanggung jawab.

Di balik rutinitas yang tampak biasa, ada cerita tentang kekuatan, ketahanan, dan keberanian. Perempuan-perempuan ini terus melangkah, naik ke gerbong yang sama setiap hari, membawa harapan yang sama: sampai di tujuan dengan selamat, dan kembali pulang tanpa kehilangan apa pun, termasuk rasa aman mereka sendiri.(Far)

Baca juga:

Tabrakan KRL dan Argo Bromo di Bekasi Timur Jadi Momentum Revolusi Keselamatan Kereta Api

#Penumpang KRL #Commuter Line #Transportasi
Bagikan
Ditulis Oleh

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.

Berita Terkait

Indonesia
Stasiun Gambir Diperluas, Terkoneksi KRL, LRT hingga Kereta Cepat Whoosh
Renovasi ini bertujuan membangun konektivitas antarmoda transportasi di Jakarta.
Dwi Astarini - Kamis, 18 Juni 2026
Stasiun Gambir Diperluas, Terkoneksi KRL, LRT hingga Kereta Cepat Whoosh
Indonesia
Jumlah Penumpang KA Jarak Jauh dan Lokal Capai 24 Juta Penumpang
Pertumbuhan di Sumatra menjadi bagian penting dari penguatan konektivitas daerah.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 17 Juni 2026
Jumlah Penumpang KA Jarak Jauh dan Lokal Capai 24 Juta Penumpang
Indonesia
Libur Sekolah dan Tahun Baru Islam, Tiket Whoosh Dijual Mulai Rp 250 Ribu!
Whoosh menghadirkan promo tiket selama libur sekolah dan Tahun Baru Islam. Tiket tersebut dijual mulai Rp 250 ribu.
Soffi Amira - Minggu, 14 Juni 2026
Libur Sekolah dan Tahun Baru Islam, Tiket Whoosh Dijual Mulai Rp 250 Ribu!
Indonesia
166,15 Juta Orang Gunakan Layanan Urban Listrik KAI Group, Pangkas Emisi Karbon dengan Transportasi Ramah Lingkungan
Layanan urban berbasis listrik KAI Group menjadi bagian penting dari mobilitas perkotaan modern.
Dwi Astarini - Minggu, 14 Juni 2026
166,15 Juta Orang Gunakan Layanan Urban Listrik KAI Group, Pangkas Emisi Karbon dengan Transportasi Ramah Lingkungan
Indonesia
Gubernur Pramono Segera Umumkan Penaikan Tarif Transjabodetabek
Penyesuaian harga itu dilakukan karena subsidi yang diberikan Jakarta untuk transportasi umum ke wilayah penyangga Ibu Kota itu dinilai terlalu besar.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Gubernur Pramono Segera Umumkan Penaikan Tarif Transjabodetabek
Indonesia
DPR Dukung Rel Kereta Banda Aceh-Bandar Lampung, Minta KAI Jangan Abaikan Jalur Lama
DPR mendukung pembangunan jalur kereta api Banda Aceh-Bandar Lampung. KAI pun diminta tak mengabaikan jalur lama.
Soffi Amira - Minggu, 07 Juni 2026
DPR Dukung Rel Kereta Banda Aceh-Bandar Lampung, Minta KAI Jangan Abaikan Jalur Lama
Indonesia
Gubernur Pramono bakal Lakukan Penyesuaian Tarif Transjabodetabek
Subsidi yang diberikan Jakarta untuk transportasi umum ke wilayah penyangga Ibu Kota itu dinilai terlalu besar.
Dwi Astarini - Jumat, 05 Juni 2026
Gubernur Pramono bakal Lakukan Penyesuaian Tarif Transjabodetabek
Indonesia
KRL Relasi Cikarang-Duri Runtuh Akibat Kebakaran di Tanah Abang, Buruh Ibu Kota Terancam Telat Massal
Akibat gangguan ini, waktu tunggu penumpang menjadi lebih lama dari biasanya
Angga Yudha Pratama - Jumat, 05 Juni 2026
KRL Relasi Cikarang-Duri Runtuh Akibat Kebakaran di Tanah Abang, Buruh Ibu Kota Terancam Telat Massal
Indonesia
Bisnis Non Tiket Bikin Pendatapan PT MRT Naik 7 Persen
Total aset MRT Jakarta hingga 2025 telah mencapai sekitar Rp 32 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembangunan infrastruktur transportasi
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 04 Juni 2026
Bisnis Non Tiket Bikin Pendatapan PT MRT Naik 7 Persen
Berita Foto
Libur Akhir Pekan, Warga Piknik Sambil Menikmati Lalu Lalang KRL di Taman Tanah Kusir
Sejumlah warga menikmati waktu sore dengan berpiknik sambil menyaksikan KRL Commuter Line melintas di taman kawasan Tanah Kusir, Sabtu (30/5/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 30 Mei 2026
Libur Akhir Pekan, Warga Piknik Sambil Menikmati Lalu Lalang KRL di Taman Tanah Kusir
Bagikan