BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - 1 jam, 41 menit lalu
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar

Perkuat Ekspor, Pemindai Peti Kemas ke-10 Beroperasi di Tanjung Priok

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus secara kumulatif sebesar USD 7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026.

Kinerja tersebut turut ditopang surplus perdagangan pada Agustus 2026 yang mencapai USD 3,55 miliar.

BPS mencatat ekspor Indonesia masih mampu tumbuh dan menjaga neraca perdagangan tetap berada di zona surplus.

"Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD 28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 21,29 miliar," jelas Ateng di Jakarta, Kamis (1/10).

Ekspor Indonesia Tembus USD 193,64 Miliar

Dari sisi ekspor, Indonesia membukukan nilai USD 193,64 miliar selama delapan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan terutama berasal dari sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas tercatat USD 185,63 miliar, tumbuh 5,48 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas ekspor Indonesia masih bergerak positif di tengah peningkatan kebutuhan impor dalam negeri.

Jika dilihat berdasarkan sektor, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor Indonesia. Nilainya mencapai USD 159,55 miliar, meningkat 7,87 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.

Baca juga:

Industri Padat Karya Hadapi Tantangan Biaya Produksi, Ekspor Tetap Tumbuh

Tiongkok Jadi Tujuan Ekspor Terbesar

Pasar ekspor nonmigas Indonesia masih terkonsentrasi pada sejumlah negara utama.

Tiongkok menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD 47,44 miliar atau 25,55 persen dari total ekspor nonmigas.

Setelah Tiongkok, terdapat Amerika Serikat dengan nilai ekspor USD 22,41 miliar atau 12,07 persen. Berikutnya adalah India dengan nilai USD 12,77 miliar atau 6,88 persen.

Impor Naik 19,84 Persen

Di sisi lain, sepanjang Januari-Agustus 2026, Indonesia mengimpor barang senilai USD 186,39 miliar.

Nilai tersebut meningkat 19,84 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kenaikan impor terjadi baik pada kelompok nonmigas maupun migas. Impor nonmigas meningkat 16,83 persen menjadi USD 157,09 miliar.

Sementara itu, impor migas melonjak 39,03 persen hingga mencapai USD 29,30 miliar.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kebutuhan bahan baku dan barang penolong masih mendominasi impor nasional. Nilainya mencapai USD 133,38 miliar, atau tumbuh 20,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Impor barang modal juga mengalami peningkatan dengan nilai USD 36,75 miliar, naik 18,82 persen.

Adapun impor barang konsumsi tercatat USD 16,27 miliar, meningkat 15,48 persen.

Baca juga:

Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan

Tiongkok Jadi Pemasok Utama Barang Nonmigas

Dari sisi negara asal, Tiongkok kembali menjadi pemasok utama barang nonmigas ke Indonesia.

Nilai impor dari negara tersebut mencapai USD 66,64 miliar, setara dengan 42,42 persen dari total impor nonmigas.

Jepang berada di posisi berikutnya dengan nilai impor USD 8,88 miliar atau 5,65 persen.

Australia menyusul dengan nilai impor sebesar USD 7,31 miliar atau 4,65 persen.

Lemak dan Minyak Jadi Penopang Surplus Nonmigas

Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas Indonesia masih banyak ditopang sejumlah komoditas unggulan.

Lemak dan minyak hewani atau nabati memberikan surplus terbesar, yakni USD 24,91 miliar.

Komoditas bahan bakar mineral menyusul dengan surplus USD 18,84 miliar.

Berikutnya adalah besi dan baja sebesar USD 12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar USD 8,38 miliar, serta alas kaki yang mencatat surplus USD 4,33 miliar. (Asp)

#Badan Pusat Statistik (BPS) #Neraca Perdagangan #Perdagangan Indonesia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
BPS mencatat perdagangan Indonesia surplus USD 7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Ekspor USD 193,64 miliar dan impor USD 186,39 miliar.
Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 41 menit lalu
BPS Ungkap Kinerja Perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026, Surplus USD 7,25 Miliar
Indonesia
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Guna memastikan validitas data secara berkelanjutan, pemerintah membuka luas akses partisipasi publik melalui berbagai kanal pemutakhiran mandiri.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Jamin Bantuan Pemerintah Tetap Diberikan, Data Desil Diperbaharui Tiap 3 Bulan
Indonesia
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
BPS memperkuat DTSEN untuk memperbaiki akurasi data bantuan sosial. Warga dapat mengajukan perbaikan data melalui sejumlah kanal resmi.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 23 September 2026
DTSEN Terus Dimutakhirkan, BPS Pastikan Keluarga Penerima Bansos Tercatat Akurat
Indonesia
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Salah satu upaya perluasan pasar ekspor adalah melalui Trade Expo Indonesia 2026 yang akan digelar pada 14-18 Oktober.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Harga Minyak Naik, Ekspor Diharapkan Meningkat Buat Tutup Defisit Neraca Perdagangan
Indonesia
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Komoditas yang turut memberikan tekanan di wilayah tersebut antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan daging sapi.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Indonesia
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
BPS dan Bank Dunia menggunakan sumber data yang sama, yakni Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Namun, cara pengukuran kemiskinan yang digunakan berbeda karena memiliki tujuan yang berbeda.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 11 September 2026
Begini Cara Melihat Beda Data Kemiskinan Ala BPS Dengan Bank Dunia
Indonesia
Bidik Pasar Indonesia, Produsen Korea Selatan Makin Sadar Sertifikasi Halal
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar ke Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Bidik Pasar Indonesia, Produsen Korea Selatan Makin Sadar Sertifikasi Halal
Indonesia
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Warga, DPR Minta Kemensos dan BPS Bergerak Cepat
DPR menyoroti ketidaksesuaian data desil yang berpotensi membuat warga miskin kehilangan bansos, subsidi energi, hingga bantuan pendidikan.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 04 September 2026
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Warga, DPR Minta Kemensos dan BPS Bergerak Cepat
Indonesia
Mendag Ingin Harga Minyak Terkendali, Neraca Perdagangan Bisa Tetap Surplus
Pemerintah tidak hanya mengandalkan kondisi harga minyak untuk menjaga surplus perdagangan, tetapi juga akan terus mendorong peningkatan ekspor.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 02 September 2026
Mendag Ingin Harga Minyak Terkendali, Neraca Perdagangan Bisa Tetap Surplus
Indonesia
BPS Sarankan Warga Ajukan Sanggahan ke Kelurahan bila Keberatan Status Desil
Masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas cek bansos yang disediakan Kementerian Sosial (Kemensos) untuk mengajukan keberatan terhadap data yang diterima.
Dwi Astarini - Selasa, 01 September 2026
BPS Sarankan Warga Ajukan  Sanggahan ke Kelurahan bila Keberatan Status Desil
Bagikan