MerahPutih.com - Sampah selalu punya nilai di tangan orang kreatif dengan wawasan luas. Di Kamboja, misalnya, sampah-sampah di-upcycle (pengolahan sampah menjadi produk baru yang memiliki kualitas lebih tinggi serta memiliki manfaat baru) menjadi produk rumah tangga.
Di sebuah gudang kecil di ibu kota Kamboja, sekelompok pekerja duduk dan memutar botol plastik limbah menjadi potongan, lalu mengubahnya menjadi bulu sapu. Mereka menghasilkan 500 sapu setiap hari.
Selama 11 bulan terakhir, mereka telah mengubah sekira 40 ton botol plastik yang dibuang. Ini berarti sekira 5.000 botol per hari.
Mereka membuat sapu dengan teknik upcycling. Hasilnya, sapu itu lebih kokoh daripada sapu biasa.
"Sapu ini cukup kokoh, tidak mudah rusak," kata Suon Kosal, seorang biksu Buddha berusia 26 tahun yang kuilnya membeli 80 sapu tersebut bulan lalu, seperti dikutip Reuters.com (16/2).
Baca juga:
Koleksi Upcycled Baru Converse dan Beyond Retro Berbasis Chuck 70
Sapu tersebut dijual seharga USD 2,50 (Rp 39 ribu) dan USD 3,75 (58 ribu). Potongan plastik dari botol kosong dikumpulkan menjadi satu bundel di mesin, sebelum dilunakkan dalam air panas, dan dipotong secara merata untuk dijahit dengan kawat logam ke ujung tongkat bambu.
Ide itu berasal dari pengusaha Kamboja bernama Has Kea, 41 tahun. Ia ingin mengurangi polusi plastik di komunitasnya, di kota yang menghasilkan hingga 38.000 ton semua jenis limbah setiap hari.
Sekira seperlima dari itu adalah plastik sekali pakai yang berakhir di tempat pembuangan sampah dan aliran air.
Kea membeli botol plastik kosong dari para pengumpul sampah dan depo sampah. Dengan pasokan yang tampaknya tak ada habisnya, dia yakin akan kelangsungan bisnisnya.
Dia juga terbuka kalau ada pesaing yang ingin masuk ke pasar.
"Ini juga membantu mengurangi polusi lingkungan dan mendorong orang untuk mengumpulkan botol plastik untuk dijual kepada kami dengan harga yang lebih tinggi, yang pada gilirannya, bisa memberi mereka penghidupan yang lebih baik," katanya. (dru)
Baca juga:

