Pengamat: Program Deradikalisasi Perlu Diperkuat

Yohannes AbimanyuYohannes Abimanyu - Sabtu, 03 Juni 2017
Pengamat: Program Deradikalisasi Perlu Diperkuat

Ilustrasi. (Pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Pengamat politik dan hukum Erdianto Effendi mengatakan pemerintah perlu menggencarkan program deradikalisasi untuk mencegah berkembangnya paham terorisme.

"Program deradikalisasi perlu ditingkatkan dan pemerintah harus merangkul semua kelompok umat beragama dan kelompok golongan masyarakat," kata Erdianto di Pekanbaru, Sabtu (3/6).

Pendapat tersebut disampaikannya terkait permintaan pemerintah kepada DPR RI mempercepat penyelesaian revisi UU Nomor 15 tahun 2013 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Pemerintah ingin ada kewenangan melakukan tindakan hukum atas proses persiapan seorang terduga teroris sebelum melancarkan aksinya sehingga aksi teroris dapat dicegah secara dini.

Ia mengatakan, perlu lebih ditingkatkan tindakan preventif khususnya deradikalisasi.

"Kalaupun tindakan represif, jangan berpikir semua tindakan terhadap pelaku teror harus berujung dengan pemenjaraan model biasa. Terhadap mereka perlu dipikirkan bentuk pemidanaan yang lebih tepat sasaran," katanya.

Menurutnya, bahwa para pelaku teror walaupun secara yuridis dalam hukum nasional dan hukum internasional bukan delik politik, akan tetapi secara teoritis, pelaku teror adalah pelaku delik politik karena mereka meyakini sistem sendiri yang berlainan dengan sistem hukum yang diakui negara.

Oleh karena itu, katanya lagi, pemidanaan terhadap mereka perlu juga dilakukan dengan cara yang luar biasa. Misalnya dengan penanaman nilai agama dan ideologi dengan cara diskusi dan ceramah serta studi yang lebih mendalam.

"Terkait revisi UU Anti Terorisme itu, itu berlebihan karena sekarang saja seseorang yang baru diduga teroris sudah bisa ditindak bahkan jika ada perlawanan bisa ditembak. Namun untuk membuat apa yang selama ini terjadi tidak dianggap sebagai illegal atau minimal tidak punya dasar hukum, maka revisi terkait tindakan tersebut, sah-sah saja," katanya.

Erdianto memandang bahwa jika hal itu diatur dalam Undang-undang, maka kritik bahwa penindakan di awal atau tindakan lain yang secara prinsip melanggar HAM akan tidak lagi menjadi pelanggaran HAM jika diatur dengan Undang-undang.

Semua tindakan upaya paksa harus berdasar Undang-undang sesua prinsip due process of law. Pelanggaran HAM tersebut dibenarkan oleh Undang-undang sehingga menghapus ketercelaan dan kesalahan perbuatan penegak hukum dalam rangka melindungi HAM yang lebih luas.

Sementara itu, pelibatan TNI dalam terorisme justru tidak sejalan dengan spirit reformasi. Tugas keamanan adalah tugas polisi, tugas tentara adalah pertahanan. Namun dalam keadaan tertentu, tentara boleh diperintahkan turut terlibat dengan tanpa mengabaikan prinsip dan fungsi pertahanan oleh militer.

"Jika dianggap sangat perlu, tentara dilibatkan dengan terlebih dahulu memberlakukan keadaan darurat militer, jika situasi serangan teroris sudah sangat berbahaya seperti yang terjadi di Marawi Pilipina saat ini,"katanya.

Sumber: ANTARA

#Radikalisme #Terorisme
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Yohannes Abimanyu

Wonderful Indonesia, Pesona Indonesia dan pesona gw adalah satu
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Kekerasan yang perlu dicegah tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dalam bentuk nonfisik, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Dwi Astarini - Kamis, 03 September 2026
Kemendikdasmen Perkuat Peran Sekolah Cegah Anak Terpapar Radikalisme di Media Sosial
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Pendekatan terhadap anak yang terpapar persoalan di ruang digital mengedepankan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan.
Dwi Astarini - Kamis, 21 Mei 2026
Paham Radikal Menyebar Cepat, Kadensus 88 Minta Orangtua Lindungi Anak di Ruang Digital
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Bagikan