Penasihat Medis Gedung Putih Sebut Vaksin COVID-19 Perlu 3 Dosis
Otoritas kesehatan federal AS sudah merekomendasikan orang mendapatkan suntikan ketiga. (freepik.com/freepik)
DOSIS vaksin COVID-19 akan bertambah. Kepala Penasihat Medis Gedung Putih Anthony Fauci, MD, mengatakan nantinya vaksin penuh akan diberikan sebanyak tiga dosis. Dia mengatakan itu hanya tinggal menunggu waktu.
"Saya tidak berpikir siapa pun akan membantah kalau perlindungan optimal akan didapat dengan suntikan ketiga. Ini adalah definisi teknis, hampir semantik, dan itu adalah definisi untuk persyaratan," kata Fauci di CNN (9/12).
"Pendapat pribadi saya sendiri adalah bahwa itu akan menjadi masalah kapan, bukan mungkin," tambahnya.
Baca Juga:
Penyuntikan Vaksin COVID-19 di Indonesia Tembus 10 Juta Sasaran
Otoritas kesehatan federal AS sudah merekomendasikan orang mendapatkan suntikan ketiga, atau booster COVID-19. Namun, menurut definisi resmi CDC, seseorang divaksinasi penuh dua minggu setelah menerima dosis kedua vaksin Pfizer/BioNTech atau Moderna. Selain itu, bisa juga dua minggu setelah satu dosis vaksin Johnson & Johnson.
Kedatangan varian Omicron yang sangat mudah menular, dan sebelumnya varian Delta, telah membuat banyak pejabat kesehatan mengatakan dosis ekstra mungkin tidak cukup untuk perlindungan penuh.
Studi yang dirilis minggu ini menunjukkan bahwa dua dosis standar vaksin Pfizer/BioNTech tampaknya jauh kurang efektif melawan varian Omicron kecuali mendapatkan dosis booster.
"Kita harus menganggap vaksin COVID-19 sebagai vaksin tiga dosis," tutur Peter Hotez, MD, dekan National School of Tropical Medicine di Baylor Medical.
Saat ini definisi vaksin penuh adalah dua dosis Pfizer, Moderna, AstraZeneca atau Sinovac, serta satu dosis Johnson & Johnson. Mengubah definisi dan menambahkan dosis ketiga dapat menyebabkan masalah penegakan regulasi, demikian kata William Schaffner, MD, ketua departemen medis preventif di Vanderbilt University School of Medicine.
Baca Juga:
Microsoft dan Oracle Tengah Garap Kartu Vaksin COVID-19 Digital
"Mengubah persyaratan tentang arti vaksinasi penuh, saya pikir, memiliki semua jenis efek hilir untuk semua jenis institusi di negara ini. Kurasa kita belum sampai di sana," ujar Schaffner yang juga menjabat sebagai penghubung dengan Advisory Committee on Immunization Practices di CDC.
Pejabat Pfizer mengatakan pada hari Rabu (8/12) bahwa varian Omicron dapat membuat orang membutuhkan vaksin dosis keempat lebih awal dari yang diharapkan.
Sementara itu, di Inggris, para ilmuwan mengatakan dua dosis vaksin COVID-19 tidak cukup untuk mencegah seseorang terkena varian Omicron. Analisis awal kasus Omicron dan Delta di negara tersebut menunjukkan vaksin kurang efektif dalam menghentikan varian baru. Booster atau dosis ketiga dipercaya dapat mencegah sekitar 75 persen seseorang mendapatkan gejala COVID-19.
Diberitakan BBC (11/12), Health Security Agency di Inggris menganalisis data dari 581 kasus Omicron dan ribuan kasus Delta untuk menghitung seberapa efektif vaksin terhadap varian baru. Analisis ini didasarkan pada data yang terbatas, tetapi menunjukkan penurunan dalam efektivitas untuk vaksin Oxford-AstraZeneca dan penurunan yang signifikan untuk dua dosis Pfizer. (aru)
Baca Juga:
Bagikan
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
DKI Jakarta Masih Aman dari Super Flu, Vaksinasi Influenza Disiapkan
Melihat Penyuntikan Vaksinasi Influenza Flubio untuk Cegah Super flu bagi Warga di Jakarta