MerahPutih Nasional- Pemikir politik Puspol Indonesia Ubedilah Badrun menilai penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto oleh penyidik Bareskrim Mabes Polri adalah 'bola panas' perseteruan antara partai penguasa (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ) dengan KPK.
"Jadi ini bola panas yang semakin liar. Kalau tidak dikelola dengan baik akan jadi blunder politik," kata analis politik yang akrab disapa Ubed saat dihubungi merahputih.com, Jakarta, Jumat (23/1).
Ubed yang juga mantan aktivis pergerakan 1998 menambahkan bola panas dimulai dari penetapan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan kepemilikan rekening gendut oleh KPK. KPK sendiri menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka disaat proses pengajuan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri oleh Presiden Joko Widodo tengah berlangsung.
Meski menyandang status tersangka Presiden Joko Widodo tidak juga mengusulkan calon lain menggantikan bekas ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri tersebut. Sebaliknya kalangan DPR RI juga tidak bersikap kritis atas status hukum Komjen Budi Gunawan. Dalam uji kepatutan dan kelayakan Komjen Budi Gunawan dinyatakan lolos dan berhak menggantikan Jenderal Sutarman sebagai Kapolri.
Bukan hanya itu Ubed menambahkan, serangan PDIP terhadap KPK terus dilakukan. Dalam jumpa pers di kawasan Cemara, Jakarta Pusat pada Kamis 22 Januari 2015, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto membeberkan sepak terjang Ketua KPK Abraham Samad dalam pemilu presiden (pilpres) 2014 lalu.
Hasto menceritakan dalam pilpres 2014 lalu Abraham Samad 'ngebet' menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo. Sejumlah pertemuan juga dihelat antara Abraham Samad dengan elit politik PDIP untuk memuluskan langkah Abraham Samad menjadi cawapres pendamping Joko Widodo.
Namun demikian ambisi Abraham Samad menjadi cawapres digagalkan oleh Komjen Budi Gunawan. Samad dinilai sebagai sosok yang tidak punya basis massa kuat, masih hijau dalam politik dan tidak akan mammpu menandingi keperkasaan Prabowo Subianto yang merupakan rival Joko Widodo.
"Jadi apa yang dilakukan Hasto dan Polisi adalah upaya langsung untuk melemahkan posisi KPK. Saya bisa katakan hal tersebut sebagai ancaman buat KPK," tandas Ubed. (BHD)