MERAHPUTIH.COM - PENINGKATAN kasus bunuh diri membuat komitmen pemerintahan Prabowo-Gibran dalam kelanjutan pembangunan kesehatan jiwa amat penting. Hal itu diungkap Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Dr Nova Riyanti Yusuf.
“Hal ini sangat urgen seiring dengan peningkatan kasus bunuh diri. Penting sekali untuk melakukan intervensi sejak pencegahan, penanganan, dan postvention bunuh diri,” ujar Nova seperti dilansir ANTARA, Sabtu (5/10).
Sebagai bentuk dukungan pada upaya pembangunan kesehatan jiwa, pihaknya bekerja sama dengan berbagai organisasi dunia yang merupakan praktisi kedokteran jiwa, yaitu World Psychiatric Association (WPA), Asian Federation of Psychiatric Association (AFPA), dan SAARC Psychiatric Federation (SPF). Bersama psikiater dunia lainnya, Nova berperan sebagai steering committee sebuah inisiatif bersama Task Force Initiative for the Advancement of Child and Adolescent Mental Health Services for Low – Middle Income Countries (JIA – CAMHS).
Salah satu bentuk produk steering committee itu ialah Child and Adolescent Suicide Prevention Guidelines atau Panduan Pencegahan Bunuh Diri Anak dan Remaja yang secara resmi diluncurkan pada Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pada 10 September 2024.
Baca juga:
Ia menjelaskan panduan itu akan diterjemahkan dan dilatihkan kepada jejaring pengampuan rumah sakit layanan kesehatan jiwa. Pelatihan Panduan Pencegahan Bunuh Diri melibatkan berbagai pihak yang terdiri dari berbagai tim pencegahan bunuh diri lintas disiplin, yakni dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater, psikolog, perawat, dan dokter umum.
“Bahaya dari bunuh diri ini ialah efek Werther atau menular sehingga terjadi imitasi. Oleh karena itu, pencegahan menjadi sangat krusial,” kata dia.
Berbagai upaya dilakukan, di antaranya pembuatan instrumen deteksi dini faktor risiko ide bunuh diri yang telah digunakan cukup luas oleh para peserta didik dalam tugas ilmiah penelitian. Ada pula penandatangan nota kesepahaman antara PKJN RSMM dan FEMA IPB berupa Program Barcode Pakai Kemeja (Periksa Kesehatan Mental Remaja).
Kode batang tersbeut ini tersebar di dinding kampus dengan program screening dan edukasi tentang cara tindak lanjut hasil pemeriksaan dengan tetap mengedepankan hak asasi manusia.(*)
Baca juga:
Calon Dokter Spesialis Bunuh Diri, Menkes Minta PPDS Anasesi Undip Dievalusi