MerahPutih.Com - Kehadiran Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Istana Jakarta, Kamis (17/8) lalu, dinilai dalam rangka melobi, agar putra sulungnya 'dirangkul' Presiden Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.
Pasalnya, menurut Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun,
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merupakan harapan SBY di panggung politik praktis masa depan. Setidaknya pada Pilpres 2019, menjadi calon wakil presiden.
"Meskipun saya tidak yakin, PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) menerima itu. Itu sama saja memberikan SBY dan AHY karpet merah untuk 2024," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (19/8).
Pria yang akrab disapa Ubed ini menambahkan, faktor lain yang membuat hal tersebut sulit terealisasi, dikarenakan PDIP memiliki masa lalu yang tidak harmonis dengan Demokrat, terlebih dengan sang Ketua Umum SBY.
"Dan (untuk merealisasikan keinginan) itu, membutuhkan lobi-lobi tingkat tinggi kepada SBY dan Megawati (Ketua Umum PDIP) yang tidak mudah," jelasnya.
Menurutnya, salah satu bentuk lobi tingkat tinggi tersebut, yakni SBY menyambangi kediaman Megawati, untuk mengutarakan niatnya mengusung AHY sebagai RI-2 dan dipasangkan dengan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.
Ubed berkeyakinan SBY berkeinginan demikian, lantaran posisinya secara politik cukup lemah dan memiliki banyak beban pemerintahannya pada 2004-2014 terkait sejumlah kasus korupsi seperti Hambalang dan e-KTP.
Kemudian, sambung eks aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) ini, Jokowi dianggap memahami konteks politik dan catatan kelemahan era kepemimpinan SBY selama dua periode tersebut.
"Itu membuat SBY, saya kira mencoba untuk membangun dialog dan mendekat dengan tanah, yang mungkin ditafsirkan secara politik, ya itu," tutup Ubed.(Pon)