MerahPutih.com - PBB mengecam keras serangan Israel yang menewaskan seorang anggota Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) pada Kamis dini hari.
Serangan mortir menghantam pos pengamatan di dekat Marjayoun, Lebanon selatan, menewaskan Sersan Milan Jovanovic asal Serbia dan melukai dua anggota lain dari Spanyol serta El Salvador.
“Belasungkawa terdalam kami sampaikan kepada keluarga, teman, dan pemerintah Serbia,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, saat jumpa pers, dikutip Sputnik, Kamis (5/6).
Baca juga:
Prajurit TNI Kembali Gugur di Lebanon, DPR RI Tolak Program UNIFIL Dihentikan
Serangan Udara dari Arah Utara Sungai Litani
Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomasi baru antara Lebanon dan Israel yang dimediasi Amerika Serikat di Washington. Meski AS mengklaim gencatan senjata telah disepakati, Israel tetap melanjutkan serangan udara ke wilayah Lebanon.
Baca juga:
Prajurit TNI Gugur di Misi PBB, Investigasi Harga Mati Sebelum Tarik Pasukan
Berdasarkan penilaian awal UNIFIL, pos yang dijaga pasukan UNIFIL itu terkena tembakan tidak langsung dari arah utara Sungai Litani.
Sekretaris Jenderal (Sekjen PBB Antonio Guterres) mengutuk pembunuhan rekan penjaga perdamaian kami,
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.
Diplomasi Gencatan Senjata yang Rapuh
Serangan terhadap UNIFIL bukan kali pertama terjadi. Sejak misi ini dibentuk pada 1978, puluhan anggota pasukan perdamaian telah kehilangan nyawa akibat konflik berkepanjangan di Lebanon.
Baca juga:
Satgas Konga Bakal Diberangkatkan ke Lebanon Pada Akhir Mei 2026
Dengan korban terbaru ini dilansir Antara, tekanan internasional terhadap Israel dan Hizbullah diperkirakan akan meningkat.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks perdamaian: diplomasi di meja perundingan berjalan, tetapi di lapangan kekerasan terus menelan korban, termasuk pasukan internasional yang bertugas menjaga stabilitas.
Setiap serangan terhadap penjaga perdamaian adalah serangan terhadap perdamaian itu sendiri,
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.