Merahputih.com - Misi perdamaian Gaza segera memasuki babak baru setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengonfirmasi kesiapan TNI dalam mengirimkan personel ke wilayah konflik.
Pengiriman Pasukan Perdamaian Dunia ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) guna menjaga stabilitas keamanan global di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa proses pemberangkatan para prajurit akan berlangsung secara bergelombang. Keputusan ini diambil mengingat skala operasi yang cukup masif.
"Ya bertahap karena jumlahnya besar," ujar Sjafrie di kantor Kementerian Pertahanan, Kamis (12/3).
Baca juga:
Eskalasi Konflik AS-Israel Lawan Iran Memanas, Pembahasan Board of Peace Ditangguhkan Sementara
Penyesuaian Jumlah Pasukan di Misi ISF
Awalnya, Kemenhan telah memetakan kebutuhan hingga 20.000 personel. Namun, setelah melakukan evaluasi mendalam terhadap kontribusi negara lain serta dinamika di lapangan, jumlah tersebut diputuskan menjadi 8.000 personel.
Sjafrie menjelaskan bahwa angka tersebut tetap tergolong sangat besar dibandingkan dengan kontribusi negara lain yang rata-rata hanya mengirimkan ratusan personel. Kendati demikian, faktor kepentingan nasional tetap menjadi kompas utama dalam operasi ini.
"Ternyata negara-negara lain itu cuma mengirim berapa ratus. Jadi kita siap 8.000. Tapi yang paling penting bahwa kalau situasi tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, kita lakukan pekerjaan," ungkap Sjafrie.
Menunggu Komando Board of Peace
Baca juga:
Gaza Memanggil! 8.000 Pasukan Indonesia Siap Amankan Palestina Secara Bertahap Mulai April
Terkait jadwal keberangkatan, Kementerian Pertahanan masih memantau perkembangan situasi geopolitik serta menunggu instruksi resmi dari Board of Peace (BoP). Langkah ini krusial untuk memastikan keselamatan prajurit dan efektivitas misi di tengah tensi yang fluktuatif.
Selama masa penantian, seluruh personel tetap berada dalam status siaga tinggi. Persiapan mencakup latihan taktis dan penguatan mental guna menghadapi berbagai skenario di Gaza.
"Kesiapan kita itu juga bagian daripada siaga operasional. Biasa kalau tentara itu ada siaga bencana, ada siaga taktis, ada siaga strategis," tutup Sjafrie.