Orang Fitness Sebermula Sehat Fisik, Naik Kelas Kini Jaga Kesehatan Mental
Tingkatkan kesehatan mental dengan fitness. (Foto: Unsplash/Geert Pieters)
KESEHATAN mental atau anak Jaksel bilang mental health, ternyata memiliki pengaruh besar terhadap seseorang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendata gangguan kesehatan mental paling sering terjadi, meliputi depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, demensia, hingga gangguan perkembangan seperti autisme.
Gangguan kesehatan mental bisa berpengaruh terhadap pikiran, perasaan, suasana hati seseorang, bahkan kondisi fisik. Gangguan tersebut juga begitu sensitif, sehingga memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain, sehingga bagi orang tak paham akan dianggap lemah.
Selain perawatan kesehatan dan layanan sosial, olahraga ringan dapat menjadi manfaat untuk mengurangi gangguan kesehatan mental, salah satunya fitness. Laman Mental Health menyebutkan, aktivitas fisik dapat mengurangi tingkat kecemasan gangguan mental dalam skala ringan. Tak hanya itu, masa pandemi COVID-19 juga membuat banyak orang menemukan pendekatan hidup seimbang antara pekerjaan dan olahraga.
Baca juga:
Gym memang acap dianggap sebagai olahraga angkat beban. Tak keliru. Meski, faktanya, gym untuk kesehatan mental ditawarkan terdapat dalam kelas, sesi support, dan latihan lain dirancang untuk membantu orang dengan gangguan mental.
Terdapat beberapa tanda seseorang lebih mengejar manfaat kesehatan mental daripada manfaat fisik. Menurut laporan tren 2022 dilansir laman Time, platform penjadwalan kelas kebugaran online Mindbody menemukan dua alasan utama orang AS berolahraga. Pertama, mengurangi stres dan kedua, merasa lebih baik secara mental. Dua hal tersebut jadi perubahan signifikan selama pandemi, sebab masa sebelum pandemi rata-rata orang datang ke gym memiliki tujuan untuk menurunkan berat badan dan terlihat lebih baik.
"Orang-orang melaporkan motif sedikit berbeda. Alasannya tentu lebih kepada pengurangan stres, pelepasan kecemasan, dan peningkatan kualitas tidur," kata Kepala Penelitian Perilaku Kesehatan di Keck Schooll of Medicine University of Southern California Genevieve Dunton.
Hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan mental nampaknya memang begitu erat. Dunton juga melakukan penelitian selama pandemi COVID-19 mengonfirmasi fungsi olahraga dapat meningkatkan kesehatan mental dan suasana hati, bahkan berpotensi mencegah atau mengurangi gejala depresi.
Baca juga:
"Semuanya berubah ketika dunia terbalik. Jika seseorang berurusan dengan masalah tidur atau merasa sangat cemas atau stres, itu menjadi prioritas nomor satu, dan prioritas lainnya akan bergeser," kata Dunton.
Seorang profesor sejarah di New School sekaligus penulis buku budaya olahraga Fit Nation Natalia Mehlman mengatakan berbagai merek kebugaran sudah memasarkan diri sebagai bentuk untuk kesehatan mental atau perawatan diri.
Dibandingkan dengan masa pra-pandemi, menurut CEO studio kebugaran Tone House Elvira Yambot, kebanyakan orang sekarang memesan layanan pemulihan untuk membantu mereka tetap sehat, seperti sesi terapi, pijat, dan sauna. Pihaknya juga akan mempertimbangkan untuk menambahkan lebih banyak layanan kesehatan.
"Itu kembali ke makna kesehatan seimbang. Keseimbangan kehidupan kerja adalah sesuatu bahkan ingin digabungkan warga New York sekarang," kata Yambot.
Bukan berarti latihan intensitas tinggi untuk fisik berakhir. Menurut laporan tren kebugaran ClassPass di 2021, 60 persen orang masih memilih latihan berenergi tinggi, sedangkan 40 persen melakukan aktivitas menenangkan seperti yoga.
Mengutip Alodokter, ada beberapa cara untuk memaksimalkan manfaat fitness di gym. Mulai dari ikut kelas kelas kesehatan membuat pengguna menjadi lebih segar dan bugar, dan kelas aktivitas fisik membuat tubuh berkeringat juga mendapatkan teman baru untuk memotivasi dan membuat lebih bersemangat.
Biar enggak malu, coba ajak teman atau pasangan untuk fitness bersama di tempat gym. Kebanyakan orang tidak memulai fitness karena malu dan bingung mau melakukan apa di gym. Selain membuat latihan terasa menyenangkan, kehadiran teman atau pasangan tentu bisa membuat kamu lebih bersemangat dan manfaat fitness pun dapat diperoleh secara maksimal.
Jadi, kapan mau mulai rutin olahraga? (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!