MerahPutih.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, semakin meluas hingga mencapai 530 hektar.
Upaya pemadaman terus dilakukan, namun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan belum bisa dilaksanakan setidaknya dalam 10 hari ke depan.
Baca juga:
Area Kebakaran di kawasan Gunung Bromo Meluas, 520 Hektare Lahan Terbakar
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan kendala utama adalah belum terbentuknya awan konvektif yang menjadi syarat OMC.
Menurut BMKG, paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk,
Dirjen KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko di Jakarta, Senin (10/8).
Water Bombing dan Pasukan Darat Jadi Andalan
Meski OMC belum bisa dilakukan, tim gabungan BNPB, BMKG, TNI AU, dan Balai Besar TNBTS tetap mengerahkan strategi darat dan udara.
Hingga kini, Satyawan mengungkapkan sudah dilakukan 30 kali pengeboman air (water bombing). Namun, lanjut dia, medan sulit, angin kencang, dan kelembapan rendah membuat api sulit dikendalikan.
Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Namun medan yang sulit dan kondisi cuaca membuat upaya pemadaman tidak mudah,
Dirjen KSDAE Kemenhut Satyawan Pudyatmoko
Kawasan Bromo-Tengger-Semeru Ditutup Total
Kebakaran diketahui sudah berlangsung sejak Selasa (4/8) dan hingga kini titik api belum sepenuhnya padam. Dilansir Antara, Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak mencapai 520–530 hektar, dengan pendataan masih terus dilakukan.
Baca juga:
7 Hari Kobaran Api Makin Mengganas, Kawasan Bromo-Semeru Ditutup Total
Situasi genting ini memaksa Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB.
Penutupan berlaku di lima pintu masuk: Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), serta Senduro (Lumajang). (*)