Kesehatan

Olahraga Pakai Jaket, Perlukah?

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 16 November 2021
Olahraga Pakai Jaket, Perlukah?

Berolahraga mengenakan jaket amat tak disarankan.(Foto: alex-mccarthy/unsplash)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TAK jarang kita melihat (atau mungkin melakukannya) orang yang berolahraga mengenakan jaket. Kabarnya nih, memakai jaket saat berolahraga bisa membuat keringat mengucur lebih deras. Artinya, kalori yang terbakar juga makin banyak. Namun, apa benar demikian?

Dokter spesialis penyakit dalam dr Umar Nur Rachman, SpPD, seperti dilansir ANTARA, mengatakan berolahraga mengenakan jaket agar tubuh lebih berkeringat tidak dianjurkan. Ia menjelaskan memakai jaket hanya mengurangi kadar air di dalam tubuh dan dapat mengakibatkan dehidrasi.

BACA JUGA:

Pentingnya Mengontrol Gula Darah di Masa Pandemi

"Nah ini, kadang-kadang masyarakat masih belum paham ya. Mereka beranggapan kalau berkeringat, aku sudah olahraga. Terus dia olahraganya pakai jaket. Meskipun dia ditimbang turun berat badannya, itu air (di dalam tubuh) yang keluar," ujar Umar.

Lebih jauh Umar menjelaskan sebagian pasien diabetes beranggapan berjalan kaki tanpa mengenakan alas kaki baik. Faktanya, Umar mengatakan hal itu justru harus dihindari penderita diabetes.

"Pasien diabetes ini banyak yang berjalan di kerikil tanpa pakai sandal. Memang rasanya nyaman karena pasien diabetes itu kan kakinya kayak kebas. Jadi jalan di kerikil itu rasanya enak," kata Umar.

sepatu
Selalu kenakan sepatu saat berolahraga agar aman. (foto: Unsplash/tara glaser)

Meskipun memberi rasa enak, berjalan tanpa alas kaki amat berisiko bagi diabetesi. Umar menyebut risiko pertama yang dihadapi ialah luka. “Pasien diabet harus pakai alas kaki ke mana pun. Kedua, dia juga tidak bisa berolahraga dengan baik. Karena itu, minimal olahraga jalan cepat untuk pasien diabet. Nah, jalan cepat ya harus pakai sepatu," imbuhnya.

Banyaknya keringat yang dikeluarkan saat berolahraga, menurut Umar, bukanlah poin utama. Hal yang harus diperhatikan saat berolahraga ialah durasi dan intensitas.

"Olahraga teratur ini sifatnya harus berkelanjutan ya. Kalau disarankan sih 3 sampai 5 kali seminggu. Durasinya berkisar 30 menit dengan pemanasan dan pendinginan," tutur Umar.

Ia menekankan hal yang menjadi target olahraga yakni denyut nadi maksimal. “Denyut nadi maksimal itu kalau intensitas olahraga kita sekitar 70 persen dari denyut nadi maksimal," tutupnya.(Dwi)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan