Musik

Nuansa Gelap ala Adrian Adioetomo dalam 'Burning Blood, Cold Cold Ground'

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 25 Februari 2021
Nuansa Gelap ala Adrian Adioetomo dalam 'Burning Blood, Cold Cold Ground'

Adrian Adioetomo merilis single Burning Blood, Cold Cold Ground. (foto: istimewa)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SELEMBAR kain hitam menutup kepala musisi Adrian Adioetomo kala ia menyapa jurnalis dalam perilisan virtual single Burning Blood, Cold Cold Ground via Zoom, Rabu (24/2). Tampilan gelap nan misterius musisi blues itu sungguh mewakili lagu baru yang jadi bagian dari album keempatnya itu.

Burning Blood, Cold Cold Ground berbicara tentang gravitasi kemurkaan dan bagaimana seseorang bisa terisap ke dalamnya sehingga menderita pada akhirnya. Liriknya didramatisasi demi menggambarkan kesan ketidakpedulian terhadap segalanya, termasuk diri sendiri. "Ini sebetulnya lagunya kalau bahasa dangdutnya ialah terbakar api cemburu. Tapi gue enggak bicara tentang kejadiannya sendiri. Lebih banyak dramatisasi dari pemikirannya aja kayak kecemburuan itu kayak apa sih," kata Adrian seperti dilansir ANTARA, (24/2).

BACA JUGA:

Kisah V BTS Jadi Korban Perisakan

Adrian Adioetomo dikenal sebagai perintis kebangkitan skena blues dan pionir Delta Blues Indonesia. Namun, untuk lagu terbarunya, Adrian lebih bereksplorasi. Suguhan berbeda ia tampilkan aransemen musik. Alih-alih hanya memainkan gitar blues dan bernyanyi, Adrian memadukan permainan slide Delta-blues dan Bluegrass seperti pada musik Americana. Kesan avant-garde terdengar pada aransemen dan pilihan soundnya. Gitar akustik yang jernih dengan sound distorsi elektrik yang nyaris rusak.

"Orang kan biasanya lihat gue main Delta-blues. Main gitar sendirian, vokal gitar aja. Padahal, yang menarik dari musik itu faktor ekspresinya," ujar Adrian Adioetomo.

Bagi Adrian, musik merupakan medium untuk mengutarakan spirit yang sama dengan cara apa pun. Itulah mengapad di single ini ia berkembang dengan instrumen lain. "Karena gue pengin agak sedikit berpetualang dari standar Delta-blues," imbuhnya.

adrian adioetomo
Burning Blood, Cold Cold Ground merupakan single pertama dari album keempat. (foto: istimewa)

Dalam karier musiknya, Adrian telah banyak berkolaborasi dengan musisi lain, di antaranya Jubing Kristianto dan Kartika Jahja. Ia juga memainkan rock bersama Franki 'Pepeng Naif' Indrasmoro dalam band Raksasa. Walau sering disebut sebagai seorang Delta bluesman, gaya bermusik Adrian memadukan rock, alternative, dan ‘dark country’. Pada 2017, ia meraih Anugerah Musik Indonesia award untuk lagu Tanah Ilusi.

Untuk videoklip Burning Blood, Cold Cold Ground, Adrian konsisten menampilkan nuansa gelap. Potongan beberapa film bisu lama yang telah menjadi public domain membuka video tersebut. Keluguan teknologi film zaman dulu dan estetika menggambarkan gaya musik Adrian saat ini, terutama dalam lagu ini, dengan sempurna.

Lagu ini menjadi lagu pertama di album keempat Adrian yang tak berjudul. Meski demikian, ia sempat mengutip kata-kata 'Violent Love, Gentle Kill'. Album itu akan dirilis tiga hari setelah perilisan Burning Blood, Cold Cold Ground.(dwi)

#Musik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Daftar 10 Lagu Teratas Spotify Indonesia September 2026, Raim Laode Dominasi Chart
Simak 10 lagu paling banyak diputar di Spotify Indonesia pada 28 September 2026. Sesi Potret eńau dan Ari Lesmana memimpin chart, disusul Tulus dan Raim Laode.
Ananda Dimas Prasetya - 56 menit lalu
Daftar 10 Lagu Teratas Spotify Indonesia September 2026, Raim Laode Dominasi Chart
ShowBiz
Synchronize Fest 2026 Siapkan Deretan Special Show, Bawa Cerita Lintas Generasi Musik Indonesia
Synchronize Fest 2026 menghadirkan special show Geisha, Project Pop, Warkop DKI, Emo Revival, Reggae Gang hingga Timur Basudara.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 02 Oktober 2026
Synchronize Fest 2026 Siapkan Deretan Special Show, Bawa Cerita Lintas Generasi Musik Indonesia
ShowBiz
Dialog Dini Hari Buka Babak Baru Lewat Album 'Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi', tentang Kehilangan dan Menemukan Kembali
Dialog Dini Hari menghadirkan album terbaru 'Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi' berisi delapan lagu, lahir dari perubahan, kehilangan, dan pencarian rasa rumah.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Dialog Dini Hari Buka Babak Baru Lewat Album 'Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi', tentang Kehilangan dan Menemukan Kembali
ShowBiz
D’MASIV Bicara soal Cinta yang Tak Berhenti di Perasaan lewat 'Till We’re Old'
D’MASIV kembali dengan single terbaru 'Till We’re Old', yang mengangkat kisah cinta, komitmen, dan keinginan untuk terus bersama hingga usia senja.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
D’MASIV Bicara soal Cinta yang Tak Berhenti di Perasaan lewat 'Till We’re Old'
ShowBiz
Slowdive hingga Caribou Siap Ramaikan Joyland Sessions 2026, Intip Daftar Lenkap Penampilnya
Joyland Sessions 2026 digelar 28–29 November di GBK City Park, Jakarta. Ada 16 penampil dari 7 negara, termasuk Slowdive dan Caribou.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Slowdive hingga Caribou Siap Ramaikan Joyland Sessions 2026, Intip Daftar Lenkap Penampilnya
ShowBiz
8 Panggung, Banyak Genre, dan Generasi Berbeda Bertemu di Synchronize Fest 2026
Synchronize Fest 2026 memasuki tahun ke-11 dengan delapan panggung, kurasi musik beragam, serta penampil lintas genre dan generasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
8 Panggung, Banyak Genre, dan Generasi Berbeda Bertemu di Synchronize Fest 2026
ShowBiz
Tove Lo Perkenalkan 'ESTRUS', Album Baru tentang Hasrat dan Berbagai Kontradiksi
Tove Lo merilis album studio keenam, ESTRUS. Berisi 13 lagu electro-pop, album ini mengeksplorasi hasrat, keraguan, kebebasan, dan emosi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Tove Lo Perkenalkan 'ESTRUS', Album Baru tentang Hasrat dan Berbagai Kontradiksi
Dunia
Oasis Ambil Jalur Hukum Hentikan Penjualan Rekaman yang belum Pernah Didengar
Rekaman tersebut dikumpulkan teknisi suara Oasis, Huw Richards, yang bekerja bersama band ini sejak perilisan album debut mereka 'Definitely, Maybe
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Oasis Ambil Jalur Hukum Hentikan Penjualan Rekaman yang belum Pernah Didengar
ShowBiz
Lewat 'Maju Satu Satu', Tsaqib Ungkap Rasa Takut dan Keberanian Menyambut Babak Baru
Tsaqib memperkenalkan single 'Maju Satu Satu', lagu personal tentang rasa cemas, keberanian, ketidakpastian, dan persiapannya menjadi seorang ayah.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 30 September 2026
Lewat 'Maju Satu Satu', Tsaqib Ungkap Rasa Takut dan Keberanian Menyambut Babak Baru
ShowBiz
Masuki Tahun ke-11, Synchronize Fest 2026 Perluas Ruang Musik hingga Gerakan Lingkungan
Synchronize Fest 2026 memasuki tahun ke-11 dengan tema “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement” pada 16-18 Oktober di Gambir Expo Kemayoran.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 30 September 2026
Masuki Tahun ke-11, Synchronize Fest 2026 Perluas Ruang Musik hingga Gerakan Lingkungan
Bagikan