"Musik Kucingan" Fasilitas Musisi Lokal Semarang
Angkringan atau warung "nasi kucing". (MP/ilustrasi Widi Hatmoko)
Untuk mendongkrak musisi band lokal, Semarang Sound System Community (S3C) mengagas sebuah pagelaran musik bertajuk "Kucingan , Musik Malam Purnama". Kegiatan ini digelar setiap malam bulan purnama.
Kata "Kucingan" dalam ajang musik yang digelar pada malam bulan purnama ini diambil dari istilah "nasi kucing" atau biasa disebut dengan "hik" kalau di Solo dan "angkringan" untuk sebutan masyarakat Yogyakarta.
Dalam acara ini, penonton musik bisa sambil menikmati nasi kucing, aneka camilan dan minuman hangat, seperti teh dan jahe rempah yang tersedia.
"Kami ingin mengakomodir musisi-musisi Semarang untuk tampil. Sebetulnya, banyak musisi Semarang yang hebat, namun belum banyak dikenal," kata Supriyadi, Ketua DPRD Kota Semarang sekaligus yang ikut menginisiasi "Kucingan, Musik Malam Purnama", Minggu (12/2) malam.
Dengan konser sederhana seperti "Kucingan, Musik Malam Purnama" ini, Lek Di, sapaan akrab Supriyadi yang juga Dewan Penasehat S3C berharap bisa lebih banyak musisi maupun grup band lokal yang terangkat dan moncer.
Ia mengatakan selama ini Semarang juga kerap menjadi jujukan pergelaran musik atau konser besar, tetapi hampir tidak pernah mengakomodasi band-band lokal yang potensial untuk 'unjuk gigi'.
"Setiap even besar yang digelar di Semarang hampir tidak pernah memunculkan musisi lokal, tetapi malah menampilkan artis luar kota maupun musisi Ibu Kota," katanya.
Maka dari itu, kata dia, S3C tergerak menggelar "Kucingan, Musik Malam Purnama" secara rutin untuk memfasilitasi para musisi lokal, sebagai ajang silaturahmi, sekaligus memberikan hiburan gratis bagi warga Semarang.
"Ini mandiri, tidak ada kaitannya dengan APBD. Namun, para pejabat pun diharapkan ikut berpartisipasi. Sekarang di sini, selanjutnya Pak Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan seterusnya bisa mengikuti," katanya.
Yang jelas, kata dia, para musisi Semarang selama ini kurang wadah untuk mengekspresikan kreativitasnya sehingga perlu dukungan agar mereka minimal bisa dikenal di tingkat lokal, kemudian regional, nasional dan tidak tertutup kemungkinan go-international.
Untuk mengikuti berita lainnya, baca juga: Oppie Andaresta Prihatin Musik Tradisional Kurang Diminati
Bagikan
Widi Hatmoko
Berita Terkait
Man Sinner Rilis 'Bumi Menangis (Unplugged)', Respons Banjir Bandang di Sumatra dan Aceh
Peron dan Post-Punk Kaum Kerja: Membuka Realitas Lewat EP Perdana 'SINGKAP'
Dul Jaelani Kembali dengan Lagu Emosional 'Sebenarnya, Selamanya…', Simak Lirik Lengkapnya
Sundari Gasong Kembali dengan Single 'Sedih', Lagu Tentang Cinta Tak Terucap
Billkiss Tutup Album Perdana dengan Lagu Pop Ceria 'Maunya Kamu'
Lewat Alter Ego Romo, Dimensi Hardi Tampilkan Sisi Gelap dan Eksperimental lewat 'Adiksi'
Unit Sufi Rock Magelang Musuffer Gugat Ego dan Dogma lewat Single 'Last Trip'
Soy Kongo Rilis EP 'Sekap', Kritik Pembangunan dan Lanskap Kesadaran Lewat Gelapnya Darkwave
Idgitaf Buka 2026 dengan 'Rutinitas', Lagu Jujur tentang Awal yang Tak Selalu Bahagia
Daniel Dyonisius dan Varnasvara Rilis 'Wanita', Lagu Kontemplatif tentang Kekerasan dan Trauma Perempuan