MerahPutih.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi mengakui keamanan siber RI perlu ditingkatkan demi menghindari serangan siber ransomware yang menimpa Pusat Data Nasional (PDN) tidak lagi terulang di masa depan.
"Jadi harus juga menjadi perhatian kita semua sebagai negara dan bangsa bahwa keamanan siber kita masih perlu peningkatan yang lebih," kata Budi Arie, dalam dapat kerja dengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/6).
Menurut dia, hampir seluruh negara juga kena serangan ransomware. Namun, Menkominfo mengklaim dampak dari serangan tersebut Indonesia termasuk yang paling ringan.
"Kita bisa lihat ini ransomeware tidak ada seluruh dunia yang tidak terkena serangan ransomware. Dan yang paling banyak Amerika Serikat 40,43 persen, Kanada 6,75 persen, Inggris 6,44 persen, Jerman 4, 29 persen dan Perancis 3,8 persen. Indonesia terkena dampak sekitar 0,67 persen dari serangan ransomware," ungkapnya.
Baca juga:
Serangan Siber ke Pusat Data Nasional Bisa Jadi 'Bom Waktu', Pemerintah Jangan Menyerah
Berdasarkan hasil studi Technology Review Insight, Indonesia justru menempati peringkat negara paling bawah dari G20 sebagai negara yang terkena dampak serangan siber.
"Kita bisa melihat gambar peringkat negara dalam indeks pertahanan siber di tahun 2022-2023. Ini hasil studi dari MIT Technology Review Insight di 2022. Di mana peringkat Indonesia di G20 ini nomor 20," ujarnya.
Lebih lanjut, Budi Arie menambahkan virus ransomware ini melanda seluruh dunia dan menjadi perhatian bersama. "Ransomware yang menyerang Indonesia ini adalah versi yang terakhir, latest version. Jadi versi yang terakhir sehingga menjadi perhatian seluruh dunia terhadap ransomware ini," pungkasnya. (Pon)

