Menggali Eksperimentasi Musik Harry Roesli

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Minggu, 10 September 2017
Menggali Eksperimentasi Musik Harry Roesli

Harry Roesli. (Dion Momongan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DJAUHAR Zaharsyah Fachrudin Roesli sudah cakap memainkan alat musik perkusi, ketipung dan gitar sejak umur tiga tahun. Bungsu pasangan Mayor Jendral (Purn) TNI Roeshan Roesli dan Dokter Anak, Edyana, dikenal sebagai anak paling aktif.

Harry Roesli, begitu lelaki bertubuh tambun tersebut disapa, memang memilih jalan berbeda dengan ketiga kakaknya, Ratwini, Utawi, dan Rully, kesemuanya berprofesi sebagai dokter.

Dia sempat masuk Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (1970-1975). Impian menjadi enjiner seketika berbelok kala cucu Marah Roesli, sastrawan penggubah novel Siti Nurbaya, menengok dunia seni musik dan memutuskan menempuh studi Jurusan Komposisi pada Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, atau kini dikenal IKJ) pada (1975-1977).

Meski, bukan pendidikan seni tersebut kali pertama pria kelahiran Bandung, 10 September 1951 tersebut memilih menekuni dunia seni musik. Paling tidak, Harry Roesli telah mengenal dunia rekaman ketika membuat album Philosophy in Rock (Philosophy Gang) bersama The Gang of Harry Roesli pada tahun 1971. Salah satu lagu andalannya, Malaria.

“Dalam penggarapan Philisophy in Rock, Harry mengaku banyak dipengaruhi berbagai jenis musik dari Brian Auger, Cannon Ball Adderly, Crusaders, War, dan Hampton Hawyes,” tulis pengamat musik Theodore KS, pada Kompas, Jumat, 1 April 2005.

Kang Harry, sapaan akrab suami Kania Perdani Hadiman, memang senang menggabungkan berbagai instrumen musik bahkan benda-benda tak lazim seperti tong, suara knalpot motor, bahkan memasukan ambient suara gemuruh air terjun. Tak heran bila dia dicap sebagai musisi seni musik kontemporer.

Nama Harry Roesli mulai mencuat ketika menggarap musik rock opera bertajuk Ken Arok, di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975. Berbagai media massa lantas mengulas keapikan juga keunikan pentas disebut sebagai Wayang Orang Kontemporer.

Konser Ken Arok memang menarik perhatian besar pecinta musik. Kesuksesan itu kemudian dibawa untuk kembali dipentaskan di ibu kota Jakarta, Balai Sidang, 2 Agustus 1975, lantas berniat pentas di Semarang pada Januari 1976, meski tak jadi lantaran mendapat cekalan pihak berwajib karena naskah pertunjukan terlambat hadir di meja pemberi ijin.

Bukan Harry Roesli kalau tak bandel. Dia tak mau pusing soal pencekalan. Kang Harry bisa main musik di mana saja, bisa di kafe dengan penonton lebih-kurang seratus orang, apalagi di lapangan terbuka dengan penonton ribuan.

Dia kembali naik panggung bersama musisi Leo Kristi pada malam Apresiasi Seni Mahasiswa, di Gelanggang Mahasiswa Kuningan, 3 Desember 1977. Lantas mencoba bereskperimen dengan suara raungan trail, skuter, dan motor 'bebek' pada konser musik Sikat Gigi, 1982.

Tak cuma itu, Kang Harry juga sering melakukan ekperimen lain, seperti menghasilkan suara remasan kertas, dan memasukan alat-alat musik pentatonik, seperti kenong (gamelan), dan alat-alat musik tradisional lainnya bersama Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB).

“Musik Harry bukan musik kontemporer yang ‘gimana gitu’, tetapi punya kedeatan juga dengan tradisi kita,” ungkap Suka Hardjana, pemusik dan budayawan, dikutip Kompas, Minggu 12 Desember 2004.

Kang Harry kembali membuat kejutan dengan tampil di pub memainkan musik disko bersama musisi Jazz, Bubi Chen, sepanjang tahun akhir tahun 1980 hingga awal tahun 1990. Meski sempat masuk rumah sakit akibat kelelahan, dia kembali tampil pada konser Over Dosis, 30April-1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung. Lalu, kembali konser pada Opera Tusuk Gigi (1995).

Tak sekadar aktif mentas, Kang Harry pun sangat produktif menelurkan album. Tercatat tak kurang dari 25 judul kaset telah dilahirkan. Tak ada musisi lain bisa meniru produktifitas Harry Roesli menelurkan album. (*)

#Harry Roesli #Seniman #Musik Kontemporer
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Fashion
Hedgren dan Varsam Kurnia Hadirkan 'The Wayfarer', Tafsir Baru tentang Gaya dan Mobilitas
Hedgren berkolaborasi dengan seniman Indonesia Varsam Kurnia lewat “The Wayfarer”, yang mengangkat perjalanan, gaya personal, dan mobilitas generasi muda.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 10 September 2026
Hedgren dan Varsam Kurnia Hadirkan 'The Wayfarer', Tafsir Baru tentang Gaya dan Mobilitas
ShowBiz
Seniman Samarinda Theo Nugraha Kolaborasi dengan Eks Drummer Sepultura di 'Prosthetic Reality'
Seniman bunyi asal Samarinda, Theo Nugraha, terlibat dalam album 'Prosthetic Reality' bersama Iggor Cavalera dan sejumlah nama musik ekstrem dunia.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 07 September 2026
Seniman Samarinda Theo Nugraha Kolaborasi dengan Eks Drummer Sepultura di 'Prosthetic Reality'
Fun
TERASI 2026 Perluas Ruang Seni Inklusif, Gandeng Seniman Disabilitas dan Penyintas Kanker
TERASI 2026 digelar 13-17 Agustus di Jakarta dengan melibatkan seniman disabilitas, penyintas kanker, dan 60 ilustrator lokal.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 15 Agustus 2026
TERASI 2026 Perluas Ruang Seni Inklusif, Gandeng Seniman Disabilitas dan Penyintas Kanker
ShowBiz
Sunyiruri dan Figura Renata Rilis EP 'Menyanyikan Usman Arrumy', Satukan Musik dan Sastra
Sunyiruri dan Figura Renata resmi merilis EP kolaboratif 'Menyanyikan Usman Arrumy'. Menginterpretasikan puisi-puisi Usman Arrumy di lima lagu.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 02 Juni 2026
Sunyiruri dan Figura Renata Rilis EP 'Menyanyikan Usman Arrumy', Satukan Musik dan Sastra
Fun
Ajang Artwork 'Scream of The Sirens' Ajak Seniman Suarakan Ekspresi Lewat Karya
Lawless Jakarta dan Magnumotion menggelar kompetisi seni Scream of The Sirens dengan total hadiah Rp50 juta, iPad Pro, dan peluang magang bagi peserta.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 14 Maret 2026
Ajang Artwork 'Scream of The Sirens' Ajak Seniman Suarakan Ekspresi Lewat Karya
ShowBiz
Lewat Visual Surealis, Marishka Soerkarna Hidupkan Atmosfer Synchronize Fest 2026
Synchronize Fest 2026 menggandeng seniman visual Marishka Soerkarna untuk merumuskan konsep artistik festival melalui pendekatan visual yang sarat emosi dan refleksi sosial.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 14 Maret 2026
Lewat Visual Surealis, Marishka Soerkarna Hidupkan Atmosfer Synchronize Fest 2026
ShowBiz
Synchronize Festival 2026 Gandeng Marishka Soekarna untuk Rancang Identitas Visual
Synchronize Festival 2026 menggandeng seniman multidisiplin Marishka Soekarna untuk merancang identitas visual festival. Simak profil dan konsep visual yang diusung.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 13 Maret 2026
Synchronize Festival 2026 Gandeng Marishka Soekarna untuk Rancang Identitas Visual
Fun
Art Jakarta Papers 2026 Sukses Digelar, Catat 9.289 Pengunjung di Edisi Perdana
Art Jakarta Papers 2026 sukses digelar. Pameran ini mencatat 9.289 pengunjung di edisi perdana.
Soffi Amira - Rabu, 11 Februari 2026
Art Jakarta Papers 2026 Sukses Digelar, Catat 9.289 Pengunjung di Edisi Perdana
Lifestyle
Art Jakarta Papers 2026 Digelar Perdana, Fadli Zon Soroti Nilai Historis Kertas
Art Jakarta Papers 2026 digelar pada 5-8 Februari. Pameran ini juga dihadiri oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Soffi Amira - Jumat, 06 Februari 2026
Art Jakarta Papers 2026 Digelar Perdana, Fadli Zon Soroti Nilai Historis Kertas
Lifestyle
Resmi Ditutup, ini 5 Galeri di Art Jakarta 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
Galeri di Art Jakarta 2025 ini menarik perhatian pengunjung. Pameran seni itu sudah resmi ditutup pada Minggu (5/10) kemarin.
Soffi Amira - Senin, 06 Oktober 2025
Resmi Ditutup, ini 5 Galeri di Art Jakarta 2025 yang Menarik Perhatian Pengunjung
Bagikan