Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Mengenang Masa Silam Kentungan Sahur Ramadan

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Senin, 04 April 2022
Mengenang Masa Silam Kentungan Sahur Ramadan

Kumpulan Tongtong Topeng Desa Aengmerah pada malam Ramadhan 25 Mei 1986, sumber; Helena Boevier buku Lebur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DINI hari dua hari terakhir gemuruh suara beduk, snare drum, dan kentungan bersahut panggilan sahur mengobati kerinduan bulan Ramadan. Maklum, dua tahun terakhir, khususnya selagi tahun awal pandemi suara membangunkan sahur keliling tak lagi terdengar.

Suara membangunkan sahur tetap ada meski dari pengeras suara masjid. Malah lebih sering diputar suara membangungkan sahur berupa rekaman. Di masa itu, jangankan rombongan membangunkan sahur keliling, ibadah saja harus dari rumah lantaran masifnya penyebaran COVID-19.

Kini, suara gemuruh tersebut seolah mengobati kerinduan. Sebelum pandemi, atau jauh sebelum pengeras suara masif digunakan tiap-tiap masjid, kentungan dan beduk menjadi penanda paling sering digunakan untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan salat.

Baca Juga:

Penyintas Hipertensi, Hindari Makanan Ini Saat Puasa

Muadzin Masjid Demak dan Menara Kudus, menurut HM Darori Amin pada Islam dan Kebudayaan Jawa, acap memukul kentungan dan beduk sebelum beradzan. Tradisi memukul kentungan, lanjut Darori, kemudian meluas hingga pelosok pedalaman Jawa lantaran masyarakatnya terbiasa dengan komunikasi tradisional tersebut.

Meski begitu, penggunaan kentungan di masjid tak mentah-mentah diterima semua umat. Sebagian berpendapat memukul kentungan tak memiliki dalil kuat.

kentungan
Kentongan besar di Tosari, Pasuruan, Jawa Timur pada 13 Juli 1900. (Tropenmuseum)

KH Hasyim Asy`ari, pendiri Nahdlatul Ulama, sempat menulis pendapatnya tentang kentungan pada terbitan berkala bulanan NU tahun 1928. Hasyim Asy`ari berpendapat kentungan tidak diperkenankan untuk memanggil shalat dalam hukum Islam karena tidak tertulis di hadist mana pun.

Pendapat pendiri NU tersebut mendapat sanggahan. Pada penerbitan bulan berikutnya, Kyai Faqih, asal Maskumambang, Gresik, menulis argumen berbeda terhadap pendapat Hasyim Asy`ari. Kentungan, menurut Kyai Faqih, harus diperkenankan karena bisa dianalogikan atau jadi qiyas kepada beduk sebagai alat pemanggil shalat sesuai dalil naqli Muhammad Saw.

Silang pendapat tersebut membuat gempar para Nahdliyin. Hasyim Asy`ari pun mengundang para ulama se-Jombang dan para santri senior berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang, untuk mengurai benang kusut.

Sang Kiai, seturut Abdurrahman Wahid pada Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, meminta salah satu hadirin membaca kedua artikel tersebut.

Seusai dibaca, Hasyim Asy`ari menegaskan kepada para hadirin untuk bebas memilih kedua alat pemanggil tersebut. Boleh beduk, boleh kentungan. Hanya saja Hasyim Asy`ari meminta kepada pengurus agar kentungan tak lagi digunakan selama-lamanya khusus di Masjid Tebu Ireng.

kentungan
Kentongan kepala Naga berbahan perunggu. (Geheugen van Nederland)

“Pandangan beliau itu mencerminkan sikap sangat menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang,” tulis Gus Dur.

Memukul kentungan memang tak boleh serampang. Tiap ketukan memiliki arti berbeda-beda, antara lain berarti bencana alam, kebakaran, kabar duka, kemalingan, hingga keadaan kembali aman.

Keserampangan mengetuk kentungan pernah menjadi perhatian serius sang pengambil kebijakan. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta secara khusus membuat pedoman tentang tanda bunyi kentungan melaui Instruksi Gubernur KDH-DIY nomor 5/INST/1980, tertanggal 26 Mei 1980.

Baca Juga:

Ramadan, Menjadi Lebih 'Hijau' dalam 30 Hari

Terdapat enam jenis tanda kentungan. Memukul kentungan tanda bunyi doro muluk satu kali berarti keadaan aman. Tanda bunyi dua-dua pertanda keadaan siap atau waspada.

Mengetuk tiga-tiga bermakna kejahatan khusus, seperti rajakaya atau kehilangan sapi, kerbau, kuda.

Sementara, pukulan tujuh gandul penanda ada kejahatan besar, semisal rajapati atau pembunuhan. Memukul tanda gobyok atau titir berarti bencana alam. Terakhir, membunyikan doro muluk dua kali berarti kabar duka orang meninggal.

Tanda bunyi kentungan tersebut, sesuai amanat Instruksi Gubernur (Ingub), harus ditempel di tiap-tiap pos ronda, dan rumah kepala dusun serta pejabat pemerintahan.

kentungan
Kentongan kepala Naga. (Tropenmuseum)

Kentungan sempat menjadi alat komunikasi tradisional paling efektif. Di masa keemasannya, menurut Surono dalam “Kentongan: Pusat Informasi, Identitas, dan Keharmonisan pada Masyarakat Jawa”, Jurnal Patrawidya, Vol 6, No.1, Maret 2015, kentungan memiliki peran penting sebagai sarana penyampai pesan secara masal dan cepat kepada warga, baik bersifat komunal maupun personal. Tak heran bila tiap-tiap sarana umum dan rumah di masa lalu paling tidak memiliki sebilah kentungan.

Kentungan di rumah-rumah berbeda ukuran dan bahan dengan peruntukan di pos keamanan maupun tempat ibadah. Ukuran kentungan perseorangan berbahan bambu, biasa digantung di depan rumah, memiliki panjang 40-70 sentimeter, dan kentungan bongkol bambu berbentuk melengkung seperti bulan sabit berdiameter 20-25 sentimeter.

Sementara, kentungan di tempat-tempat umum berukuran lebih besar, berbahan kayu, memiliki panjang lebih dari satu meter dan ukuran keliling 30 sentimeter.

Dari segi penggunaan, lanjut Surono, kentungan bambu biasa digunakan di rumah untuk keperluan pribadi, penyampai pesan kepada pos terdekat, sedangkan kentungan kayu digunakan di tempat umum untuk menyampaikan pesan publik, dari satu pos ke pos lainnya.

Selain menjadi alat komunikasi antarmanusia, kentungan juga berfungsi magis untuk berkomunikasi dengan mahluk gaib.

Bismillah teguh badanku, badane para nabi, kemule para wali, karana Allah tangala Allahuakbar,” rapal sang dukun (shaman) sebanyak tujuh kali.

Ia bertirakat, mempersiapkan uba rampe, berharap beroleh petunjuk hari pelaksanaan terbaik untuk ritual memanggil mahkluk gaib, khususnya tuyul.

Tiba hari pelaksanaan, dukun tersebut lantas mengujungi salah satu kampung di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tempat tuyul beroperasi. Ia beroleh laporan harta benda masyarakat setempat sering hilang secara misterius.

Lepas jam 12 malam, sang dukun menaiki lonjoran daun kelapa ditarik sungsang. Ia berjalan seperti main kereta-keretaan tanpa busana sembari menabuh kentungan.

Kentungan
Seorang bapak memukul kentungan. (Foto: treme.desa.id)

Hayo sapa milu nyong numpak kreta, (ayo siapa mau ikut saya naik kereta),” teriak sang dukun mengundang tuyul bergabung.

Tak lama, kulit kelapa seperti ditarik-tarik. Dukun kontan memukul menggunakan lidi kelapa tepat di pusat gerakan misterius. Saappp!

Keesokan hari, dukun tersebut meminta masyarakat mencari salah seorang di antara mereka terdapat memar khas serupa garis akibat pukulan lidi kelapa.

“Kejadian seperti itu diakhiri dengan kesepakatan, pemilik tuyul harus mengembalikan tuyul ke tempat asal,” tulis Dr. Wakit Abdullah, pengampu Etnolinguistik Universitas Negeri Sebelas Maret, pada disertasi “Kearifan Lokal Dalam Bahasa dan Budaya Jawa Masyarakat Nelayan Pesisir Selatan Kebumen, Sebuah Kajian Etnolinguistik”.

Kentungan telah lama menjadi medium memanggil makhluk gaib. Teks Jawa Kuna bertajuk Kidung Sudamala memuat kisah pemanggilan seluruh kekuatan makhluk gaib menggunakan kulkul atau kentungan.

Kalika murka begitu tahu cintanya kepada Raden Sadewa tak berbalas. “Kulkul haganti dentabuh mangko, kaget sakweh hing wadolaka, pada metu mangko kabeh. (Ia segera memukul kentungan, terperanjatlah para hantu, keluarlah mereka semua),” kutip pupuh I, 105, Kidung Sudamala terjemahan PV van Stein Callenfels pada De Sudamala in de Hindu-Javaansche Kunst.

Seluruh makhluk gaib pun keluar. Mereka kumpul membawa bangkai, pukang manusia, dan menjinjing tengkorak. Semua berpesta pora dan tak henti menakut-nakuti Raden Sadewa.

Suara kentungan kembali terdengar bertubi-tubi. Serentak para hantu bersuka ria. “Hangucap hahaha hihihi girang ngong, mangke hamamangsa satriya, hanom bagus rupane. (Mengucap hahaha hihihi semua bergembira, akan mendapat mangsa seorang kesatria, muda lagi tampan rupanya)”. (*)

Baca juga:

Kenali Ciri 'Si Pura-Pura Puasa' di Tongkrongan

#Ramadan #Wisata #April Tematik +62 Bicara Kangen
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Stasiun Yogyakarta kini memiliki Lelana Gallery yang menampilkan produk UMKM berbasis budaya dan keberlanjutan. Inisiatif KAI Wisata ini mendukung ekonomi kreatif lokal.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Stasiun Yogyakarta Kini Punya Lelana Gallery, Ruang Kreatif untuk UMKM Berbasis Budaya
Indonesia
Wong Kito Pemburu Kuliner-Belanja Langsung Gas, Dibuka Rute Baru Pelembang-Bandung!
Bandara Husein Sastranegara Bandung buka rute baru ke Bandar Lampung dan Palembang mulai Agustus 2026. Wings Air melayani penerbangan langsung dengan pesawat ATR 72 berkapasitas 72 kursi.
Wisnu Cipto - Selasa, 14 Juli 2026
Wong Kito Pemburu Kuliner-Belanja Langsung Gas, Dibuka Rute Baru Pelembang-Bandung!
Travel
Jalan-Jalan ke Arab Saudi Lebih Mudah dengan Package Visa, Bisa Fokus ke Pengalaman Wisata
Package Visa merupakan inisiatif digital yang mengintegrasikan penerbitan visa wisata secara langsung ke dalam pemesanan paket perjalanan yang telah dikurasi.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Jalan-Jalan ke Arab Saudi Lebih Mudah dengan Package Visa, Bisa Fokus ke Pengalaman Wisata
Travel
Aktivitas Menarik saat Liburan ke Candi Prambanan, Pastikan Nonton Sendratari 'Ramayana'
Beragam aktivitas menarik dapat dinikmati wisatawan dari berbagai kalangan di Candi Prambanan.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Aktivitas Menarik saat Liburan ke Candi Prambanan, Pastikan Nonton Sendratari 'Ramayana'
Travel
Kisah Relief Candi Prambanan, Media Pengajaran Hindu di Masanya
Setiap panel relief menghadirkan cerita yang sarat akan nilai moral, keagamaan, hingga kebudayaan.
Dwi Astarini - Jumat, 10 Juli 2026
Kisah Relief Candi Prambanan, Media Pengajaran Hindu di Masanya
Indonesia
5 Hal Yang Bikin Orang Asing Berwisata di Indonesia
Keberhasilan Desa Wisata Penglipuran yang meraih penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism pada 2023 harus terus dijaga melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
5 Hal Yang Bikin Orang Asing Berwisata di Indonesia
Indonesia
Ingin Wisatawan Berkualitas, Imigrasi Minta Evaluasi Negara Penerima Bebas Visa Kunjungan
Pemberian bebas visa kunjungan tersebut mencakup 8+1 negara antara wilayah Asia Timur dan Selatan seperti Korea Selatan, Jepang, dan India. Kemudian negara di Australia, Selandia Baru
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 22 Juni 2026
Ingin Wisatawan Berkualitas, Imigrasi Minta Evaluasi Negara Penerima Bebas Visa Kunjungan
Indonesia
Spring Airlines Buka Rute Jakarta Shenzhen dan Guangzhou dari Bandara Soetta
Penambahan rute-rute internasional ini mencerminkan tingginya minat maskapai global untuk memperluas jaringan penerbangan menuju Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 17 Juni 2026
Spring Airlines Buka Rute Jakarta Shenzhen dan Guangzhou dari Bandara Soetta
Indonesia
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Mahkamah Konstitusi menggelar sidang uji materiil UU Peradilan Agama terkait sidang isbat Ramadan. Kader Muhammadiyah menggugat Pasal 52A yang dianggap diskriminatif terhadap metode hisab.
Wisnu Cipto - Rabu, 10 Juni 2026
3 Kader Muhammadiyah Gugat Keabsahan Sidang Isbat Ramadan ke MK
Fun
Pilihan Asik Short Escape di PIK, Liburan Panjang Tetap Seru Tanpa Harus Keluar Jakarta
Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) menawarkan banyak pilihan lokasi berlibur singkat tanpa harus bepergian terlalu jauh, tetapi tetap seru dan asik.
Wisnu Cipto - Kamis, 28 Mei 2026
Pilihan Asik Short Escape di PIK, Liburan Panjang Tetap Seru Tanpa Harus Keluar Jakarta
Bagikan