MERAHPUTIH.COM — PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengalihkan perhatiannya ke penguasaan minyak Iran. Trump telah memperingatkan kemungkinan Amerika akan bertindak lebih jauh terhadap sebuah pulau kecil di lepas pantai Iran. Pulau ini menjadi lokasi terminal minyak utama dan dianggap sebagai urat nadi ekonomi negara tersebut.
Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3), Trump mengatakan ia ingin mengambil minyak Iran dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg. Namun, ia menambahkan operasi semacam itu akan berarti pasukan AS harus berada di Pulau Kharg untuk sementara waktu.
Sebelumnya, pada 13 Maret, Trump mengatakan pasukan AS telah sepenuhnya menghancurkan setiap target militer di pulau tersebut, tetapi militer AS menahan diri untuk tidak menargetkan infrastruktur minyak Iran. Awal bulan ini, media AS Axios, mengutip empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut, melaporkan pemerintah AS sedang mempertimbangkan rencana untuk menduduki atau memblokade pulau itu. Pendudukan dilakukan guna menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia yang terletak di selatan pantai Iran.
Pulau Kharg merupakan sebuah pulau kecil berbatu yang terletak hanya sekitar 24 km di lepas pantai Iran. Meskipun ukurannya kecil, pulau ini merupakan salah satu infrastruktur energi paling penting bagi Iran.
Serangan AS terhadap pulau kecil, tapi vital di Teluk Persia bagian utara ini dapat diibaratkan seperti menyerang urat nadi ekonomi Iran. Sebanyak 90 persen minyak mentah Iran diekspor melalui terminal yang berada di pulau tersebut, yang dialirkan melalui pipa dari daratan utama Iran.
Trump secara khusus menyebut kemungkinan menargetkan pipa-pipa tersebut, tetapi mengatakan sejauh ini ia menahan diri untuk menghindari kerusakan jangka panjang terhadap ekonomi Iran. “Kami bisa melakukannya dalam waktu lima menit. Semuanya akan selesai. Hanya dengan satu kata sederhana, pipa-pipa itu juga akan hilang. Tetapi akan membutuhkan waktu lama untuk membangunnya kembali,” kata Trump pada 16 Maret.
Kapal tanker sangat besar, yang mampu membawa hingga 85 juta galon minyak, dapat merapat ke dermaga panjang di pulau tersebut untuk mengambil minyak. Garis pantai pulau ini berada cukup dekat dengan perairan dalam, tidak seperti pantai daratan Iran yang lebih dangkal.
Setelah itu, kapal-kapal tanker tersebut berlayar kembali melalui Teluk Persia dan keluar melalui Selat Hormuz, menuju China, yang merupakan pembeli utama minyak Iran. Sebagai terminal ekspor minyak Iran, pulau ini juga menjadi sumber pendapatan utama bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca juga:
Amerika Bersiap Rebut Pulau Kharg di Iran Utara, Perancis Gelar Misi Gabungan di Selat Hormuz
Sandera untuk Buka Selat Hormuz
Selama beberapa waktu telah muncul spekulasi mengenai apakah pasukan AS pada suatu saat akan mencoba mengambil alih Pulau Kharg. Perebutan pulau tersebut tidak hanya akan menghentikan ekspor minyak Iran, tetapi juga dapat menyediakan basis untuk melancarkan serangan ke wilayah daratan Iran.
“Mungkin kami akan mengambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kami punya banyak pilihan. Saya tidak pikir mereka memiliki pertahanan. Kami bisa mengambilnya dengan sangat mudah,” kata Trump dalam wawancara itu.
Seperti dilansir BBC, pejabat Pentagon telah membuat persiapan rinci untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran. Spekulasi penguasaan Pulau Kharg makin memanas setelah Komando Pusat AS (US Central Command) pada Sabtu mengatakan 3.500 pelaut dan marinir AS tambahan telah tiba di Timur Tengah sebagai bagian dari satuan yang dipimpin kapal perang USS Tripoli.
Baik Pentagon maupun Gedung Putih menolak memberikan komentar mengenai penempatan pasukan secara spesifik atau rencana potensial. Meski begitu, mereka berulang kali menegaskan opsi tersebut tersedia. Menurut analis keamanan Mikey Kay dari BBC Security Brief, mengambil alih pulau itu secara efektif akan memutus jalur ekonomi utama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sehingga memengaruhi kemampuan Iran untuk menjalankan perang.
Sementara itu, Aaron Maclean, pembawa acara podcast School of War sekaligus analis keamanan nasional CBS, mengatakan AS mungkin merebut pulau tersebut sebagai alat tawar untuk memaksa Iran menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Menurut Maclean, operasi AS untuk merebut pulau itu mungkin tidak terlalu besar dalam skala, tetapi tetap menantang secara militer. Pasukan pendarat AS harus menempuh jarak yang cukup jauh, baik melalui kapal laut maupun melalui operasi pendaratan udara.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan pasukan negaranya menunggu kedatangan tentara Amerika dan akan menghujani mereka dengan api jika ada pasukan AS yang mencoba memasuki wilayah Iran. Sebelumnya, seorang pejabat militer Iran mengatakan kepada media lokal bahwa kapal-kapal di Laut Merah akan menjadi sasaran jika terjadi invasi darat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Iran juga telah memperkuat pertahanan di Pulau Kharg sebagai respons terhadap ancaman tersebut, termasuk dengan mengerahkan tambahan personel militer dan sistem pertahanan udara.
Teheran juga telah mengirim rudal shoulder-fired darat-ke-udara tambahan ke pulau itu serta memasang berbagai perangkap, termasuk ranjau antipersonel dan antikendaraan lapis baja di perairan sekitarnya.(dwi)
Baca juga:
Presiden AS Donald Trump Ungkap Rencana Ambil Alih Minyak Iran, Upayakan Rebut Pulau Kharg