Kesehatan

Mengenal COVID-19 Varian Pirola dan Gejalanya

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 08 September 2023
Mengenal COVID-19 Varian Pirola dan Gejalanya

COVID-19 Pirola atau BA.2.86 pada dasarnya merupakan subvarian dari Omicron.(foto: freepik/wirestock)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

VIRUS corona penyebab COVID-19 kembali jadi sorotan. Kali ini virus yang muncul dalam subvarian pirola menjadi pembicaraan. Lalu, seperti apa gejalanya?

Pirola atau BA.2.86 pada dasarnya merupakan subvarian dari omicron. Nama terakhir merupakan varian SARS-CoV-2 yang paling banyak bermutasi. Varian ini telah ditemukan di sejumlah negara. Di Agustus ini, virus hasil mutasi terbaru ini telah masuk ke daftar pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

BACA JUGA:

Waspada Potensi Munculnya Varian Baru COVID-19

Spesifikasi Gejala Covid-19 Pirola

Seperti dijelaskan Medicalxpress, sejauh ini subvarian pirola tidak dikaitkan dengan gejala yang parah hingga menimbulkan kematian. Misalnya di Inggris, pasien hanya mengalami gejala ringan dan bahkan tanpa gejala. Berikut beberapa gejala COVID-19 pirola yang dilaporkan sejauh ini.

covid-19

Di Inggris, pasien pirola hanya mengalami gejala ringan dan bahkan tanpa gejala.(foto: freepik/drazenzigic)

1. Pilek

The Independent mengabarkan pilek jadi salah satu gejala ringan yang ditimbulkan subvarian ini. Masih sama seperti subvarian lainnya, pilek bisa membuat hidung pasien terasa tak nyaman, berair, dan tersumbat.

2. Sakit kepala

Sama seperti subvarian sebelumnya, pirola juga memicu munculnya sakit kepala.

3. Kelelahan

Kelelahan umumnya terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang mengeluarkan energi ekstra untuk melawan virus yang menyerang.

4. Bersin

Bersin bisa jadi bagian dari pilek. Bersin merupakan cara alami tubuh untuk mengeluarkan zat yang tak dikenal seperti virus.

5. Sakit tenggorokan

Tak jauh berbeda dengan subvarian lainnya, Pirola juga membuat pasien yang terinfeksi mengalami sakit tenggorokan. Dalam kondisi ini, tenggorokan akan terasa panas, nyeri, dan tak nyaman.

BACA JUGA:

Waspadai Varian COVID-19 'AY.4.2', Pemerintah Maksimalkan Disiplin Karantina

Namun yang tak terelakkan, kabar buruk muncul dari para peneliti yang menemukan bahwa subvarian satu ini bisa menghindari benteng sistem kekebalan tubuh. Hal ini terjadi karena profil mutasinya yang sangat luas.

Melansir laman CNN, peneliti di China melihat keampuhan antibodi dari hasil vaksinasi dan infeksi sebelumnya menurun dua kali lipat dalam menetralisir Pirola. Namun pada saat yang sama, subvarian satu ini juga ditemukan kurang menular dibandingkan Omicron XBB.1.5.

Penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa BA.2.86 muncul dari varian omikron dan memiliki 34 mutasi lebih banyak dibandingkan kerabat terdekatnya. Kristian Andersen, dari Scripps Research Institute, mengatakan bahwa dia dan timnya telah menemukan bahwa varian baru tersebut memiliki sebagian besar, jika tidak semua, ciri-ciri yang menunjukkan bahwa varian tersebut dapat menjadi jenis virus SARS-CoV-2 yang dominan.

Khususnya, varian ini masih sangat baru sehingga tidak ada yang tahu seberapa ganasnya varian tersebut karena terus bermutasi. Belum ada yang tahu apakah gejalanya akan lebih buruk daripada varian sebelumnya—atau seberapa efektif vaksin yang ada saat ini untuk melawannya. Bagaimanapun, dianjurkan agar pemerintah di seluruh dunia mulai memberikan perhatian yang lebih baik terhadap varian baru ini dan mungkin, paling tidak, mulai memantau kembali jumlah infeksi, rawat inap, dan kematian.(dgs)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Bagikan