Membentuk Pribadi Anak dengan Membuat Mereka Betah Bermain di Rumah

Zahrina IdzniZahrina Idzni - Sabtu, 25 Maret 2017
Membentuk Pribadi Anak dengan Membuat Mereka Betah Bermain di Rumah

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Anak adalah anugerah terindah dari Tuhan bagi setiap pasangan manusia. Pepatah mengatakan "Banyak anak banyak rezeki". Anak juga merupakan aset yang harus dijaga; aset masa depan generasi yang lebih baik, dan aset kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga.

Dari situlah, menjaga dan merawat mereka menjadi sebuah kewajiban orang tua yang harus dijalankan, mulai dari mereka masih bayi hingga beranjak dewasa. Bahkan sampai akhir hayat, orang tua masih memiliki tanggung jawab membuat anak-anaknya menjadi pribadi yang baik, di mata keluarga maupun masyarakat.

Dalam membentuk pribadi yang baik serta membuat anak-anak tahu banyak hal tentag kehidupan, sebagai orang tua wajib mengetahui perekembangan anak-anaknya. Tidak membiarkan anak-anak tahu banyak hal dari lingkungan yang 'tidak sehat', atau bukan dari guru dan orang tua. Karena ini rentan terhadap hal-hal yang negatif.

Salah satunya adalah dengan tidak membiarkan anak untuk keluar rumah tanpa ada tujuan yang positif, apalagi tanpa sepengetahuan orang tua. Bermain di lingkungan rumah dalam pengawasan orang tua akan membuat anak lebih terarah.

Untuk itu, membuat anak-anak betah di rumah menjadi salah satu kunci utama agar anak-anak tidak sering keluar rumah. Berikut merahputih.com merangkum beberapa hal yang bisa dijadiken referensi, bagaimana caranya membentuk pribadi anak yang pisitif dengan membuat anak-anak betah bermain di lingkungan rumah.

1. Ciptakan Suasana Rumah yang Nyaman dan Harmonis

Rumah merupakan sebuah tempat paling nyaman untuk beristirahat dan berlindung. Oleh karena itu, orang tua wajib menciptakan sebuah rumah dengan suasana yang nyaman, misalnya dengan menambahkan area seperti taman kecil agar anak bisa bermain.

Tidak hanya itu saja, orang tua pun juga harus menjaga suasana rumah dengan begitu hangat dan harmonis. Karena hal tersebut kelak akan mempengaruhi perkembangan mental dan cara bersikap anak. Jika kehidupan keluarga selalu harmonis dan saling memperhatikan, maka bisa membuat anak merasa nyaman. Ketika sudah merasa nyaman, anak juga jadi betah berada di rumah dan menghargai orangtuanya.

2. Temani Anak Bermain Agar Mereka Tidak Merasa Kesepian

Mungkin salah satu hal yang menyebabkan anak tidak betah di rumah adalah ketika dirinya ingin bermain, orang tua tidak ada yang mau menemani karena memiliki kesibukan sendiri misalnya bermain gadget atau sibuk melakukan rutinitas, dan pada akhirnya anak tersebut akan merasa kesepian saat sedang bermain.

Jangan biarkan hal tersebut terjadi pada anak Anda. Karena jika itu terjadi, sang anak akan merasa tidak diperhatikan atau direspon ketika sedang bermain atau solusi lainnya dengan mengajak teman sebaya di sekitar rumah untuk bermain di rumah.

3. Optimalkan Kebutuhan Bermain Si Anak

Untuk penuhi kebutuhan bermain sang anak, Anda tidak perlu membelikan mainan-mainan yang super mahal. Anda cukup membelikan beberapa mainan yang memang dibutuhkan dan dapat membantu si anak menjadi lebih aktif dan pintar, misalnya berupa susunan balok.

Tidak perlu yang terlalu mahal, yang penting si anak memiliki macam-macam permainan yang seru dan kreatif, yang juga dapat membantu untuk melatih sensor motorik, sekaligus membuat anak merasa terhibur dan senang.

4. Buatlah Kegiatan yang Menarik

Jika Anda ingin melakukan saran yang satu ini, sebelumnya Anda harus kenali terlebih dahulu bakat yang dimiliki si anak. Karena jika kita mengetahuinya, maka bakat tersebut bisa dilakukan sebagai kegiatan untuk mengasah bakatnya itu di rumah. Sebagai orang tua, Anda juga harus harus jeli dalam memperhatikan dan mengarahkan bakat anak tersebut.

Kalau kegiatan tersebut tidak bisa dilakukan di rumah, misalnya si anak berbakat untuk bermain musik, maka ikutkanlah menemani anak ke tempat les, yang bertujuan untuk mendalami bakat yang dimiliki anak tersebut.

5. Berikanlah Keleluasan Anak untuk Bermain di Rumah

Dan yang terakhir, jangan terlalu membatasi anak yang hanya boleh bermain di halaman rumah atau di kamarnya saja. Dengan hal tersebut malah akan membuat anak merasa terkekang sehingga tak bebas merasakan suasana rumah yang nyaman untuk dijadikan area bermain.

Orang tua boleh saja mengambil sikap untuk menentukan satu ruangan kecil atau sebuah lemari yang dapat dijadikan sebagai tempat si anak menyimpan segala jenis mainannya. Akan tetapi, jangan pernah melarang anak untuk sekadar bermain di ruangan lainnya yang Anda anggap paling aman bagi mereka.

Bagaimana Sahabat Merahputih? Semoga beberapa hal di atas bisa menjadi solusi yang baik bagi Anda yang memiliki anak yang tidak betah untuk bermain di rumah. Nah, bicara soal anak, tim merahputih.com juga pernah membahas tips menjaga dan mengasuh anak-anak penderita down syndorme. Mau tau seperti apa saja? Yuk simak: Tips Asuh Anak Down Syndrome Yang Perlu Diketahui

#Anak #Ibu Dan Anak #Hari Anak
Bagikan
Ditulis Oleh

Zahrina Idzni

Gaul, supel dan berkibarlah bendera negeri, Merah Putih Jaya

Berita Terkait

Indonesia
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Pentingnya teknologi Age Assurance bagi PSE sesuai PP Tunas. Teknologi ini menutup celah verifikasi usia manual dan didukung program literasi digital untuk orang tua.
Wisnu Cipto - Jumat, 22 Mei 2026
Age Assurance Senjata Baru PP Tunas Tutup Celah Anak Manipulasi Umur Daftar Medsos
Indonesia
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Program Cek Kesehatan Gratis di sekolah menemukan berbagai masalah kesehatan siswa, mulai dari gangguan kebugaran, gigi berlubang, anemia hingga tekanan darah meningkat.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan Ribuan Siswa Alami Masalah Gigi dan Anemia
Indonesia
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
Beberapa anak terlaporkan mengidap penyakit seperti pneumonia, bronkitis, infeksi saluran kemih (ISK), hingga mengalami stunting akibat kekurangan gizi dan dehidrasi
Angga Yudha Pratama - Minggu, 03 Mei 2026
Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Dosen dan Hakim Aktif Diminta Segera Dinonaktifkan
Indonesia
Skandal Little Aresha Yogyakarta Picu Amarah, DPR RI Desak Reformasi Izin Daycare
Pemerintah daerah kini memikul tanggung jawab besar untuk menyisir kembali legalitas setiap satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman penitipan anak
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 April 2026
Skandal Little Aresha Yogyakarta Picu Amarah, DPR RI Desak Reformasi Izin Daycare
Indonesia
Jika Daycare Lakukan Kekerasan ke Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orang Tua
Pengelola tempat penitipan anak yang baik seharusnya terbuka dan kooperatif dalam menanggapi kekhawatiran yang disampaikan oleh orang tua.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 April 2026
Jika Daycare Lakukan Kekerasan ke Anak, Ini Yang Harus Dilakukan Orang Tua
Indonesia
Ingat Ortu, Popok Itu Jangan Bikin Kulit Bayi Irotasi
Popok tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan dasar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan untuk menjaga kenyamanan dan mendukung tumbuh kembang si Kecil dalam penggunaan sehari-hari.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 25 April 2026
Ingat Ortu, Popok Itu Jangan Bikin Kulit Bayi Irotasi
Indonesia
Akhirnya, YouTube Patuhi Aturan Batasan Usia Pengguna 16 Tahun di Indonesia
Kini halaman Bantuan YouTube di Indonesia, tertulis pernyataan resmi: “Jika Anda berusia di bawah 16 tahun di Indonesia, akses ke akun Anda di YouTube mungkin akan dinonaktifkan.”
Wisnu Cipto - Rabu, 22 April 2026
Akhirnya, YouTube Patuhi Aturan Batasan Usia Pengguna 16 Tahun di Indonesia
Indonesia
Kasus RSHS Bandung Salah Kasih Bayi ke Ibu Selesai Secara Kekeluargaan
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyampaikan permohonan maaf kepada seorang ibu asal Cimahi, Nina Saleha, atas kasus kelalaian perawat yang menyerahkan bayinya kepada orang lain.
Wisnu Cipto - Jumat, 10 April 2026
Kasus RSHS Bandung Salah Kasih Bayi ke Ibu Selesai Secara Kekeluargaan
Olahraga
DPR Dukung Larangan Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial
Komisi I DPR mendukung kebijakan Komdigi, yang melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial.
Soffi Amira - Rabu, 11 Maret 2026
DPR Dukung Larangan Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Media Sosial
Indonesia
Aturan Batas Usia Medsos di RI, Komisi I DPR Tekankan Platform Wajib Patuh!
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menekankan keberhasilan kebijakan aturan batasan usia medsos bergantung pada implementasi di lapangan
Wisnu Cipto - Senin, 09 Maret 2026
Aturan Batas Usia Medsos di RI, Komisi I DPR Tekankan Platform Wajib Patuh!
Bagikan