fashion

Melihat ‘Tiongkok Kecil’ dalam Karya Nominasi Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 08 Juli 2023
Melihat ‘Tiongkok Kecil’ dalam Karya Nominasi Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023

Nominasi Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023 hadirkan keindahan Lasem dalam kain.(foto: dok Kabari dari Rembang)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MOTIF-motif indah berisikan filosofi dan cerita tentang Lasem tergambar dalam setiap kain karya enam nominasi Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023. Kompetisi yang digelar Kartini Bangun Negeri (Kabari) dari Rembang dengan prakarsa Bank Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Lasem Heritage itu memasuki tahap akhir. Kompetisi yang dimulai pada 5 April menghasilkan enam nominasi yang akan melaju ke babak final. Dengan bekerja bersama rumah batik dan perajin batik di Lasem, para nominasi mewujudkan desain mereka dalam selembar kain. Seperti disebutkan dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com, keindahan kain tersebut tak hanya terlihat dalam gambar yang ditampilkan, tapi juga dari kisah ‘Tiongkok Kecil’ yang terkandung di dalamnya.

BACA JUGA:

6 Besar Pilihan Juri Stay Action di Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023

1. Batik Ragi Tumurun karya Dessy Riana Sari (Yogyakarta)

‘Ragi tumurun’ berarti turun-temurun atau diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan semangat itu, Dessy menggambarkan warisan budaya Jalur Rempah dan kehidupan multietnis yang terus dijaga, dilestarikan serta diwariskan hingga saat ini.

Konsep desain Ragi Tumurun mencakup motif-motif yang khas dari budaya Jawa, Arab, Tionghoa, dan Eropa. Beberapa motif yang dimunculkan, yakni motif bunga-bunga, kawung, burung hong, dan ornamen Eropa yang digabungkan dengan gambar-gambar rempah seperti cengkih, kayu manis, dan pala.

2. Merak Ngigel Reborn karya Kelompok Gantari (Lasem)

Tema karya ini didasarkan pada sebuah artikel De Batik Kunts, De Sumatra Post, 30 Juli 1900. Artikel itu menyebutkan Lasem memiliki sarung dengan motif yang diberi nama dancing phoenix (merak ngigel atau merak menari).Dalam kebudayaan Tionghoa, burung hong atau feniks menjadi representasi kekuatan Yin, penyeimbang kekuatan Yang nan hadir dalam bentuk ragam hias Naga.

Koleksi batik ini terinspirasi dari topik warisan budaya dan sejarah panjang Lasem yang terkait dengan julukan Lasem sebagai ‘Petit Chionois’ atau ‘Tiongkok Kecil’ sejak 1800-an. Demikian pula Lasem pada 1860 hingga 1930 yang menjadi kota industri batik terbesar di Hindia-Belanda bersama Solo dan Pekalongan. Kota pesisir pantai utara Jawa ini terkenal dengan batik motif feniks hingga ke negara-negara jajahan Inggris, seperti Singapura dan Malaysia.

Selain itu, Kelompok Gantari menggunakan Klenteng Cu An Kiong sebagai inspirasi karya. Klenteng Cu An Kiong menyimpan banyak ragam hias simbolik Tiongha maupun motif akulturatif pada ukiran kayu, gambar mural hingga lukisan kayu. Motif desain batik ini meliputi feniks atau burung hong yang juga sering diidentifikasi sebagai merak. Hal itu disebabkan gambaran feniks yang terlihat punya ekor merak. Bersama burung feniks, kain karya kelompok ini juga menampilkan bunga ornamen klenteng, awan, geometri, kelelawar, buah-buahan dan isen-isen khas Lasem.

3. Symphony in Harmony karya Kelompok Nawasena (Lasem)

Perkembangan Islam di Lasem sebagai bagian dari sejarah panjang kecamatan di Kabupaten Rembang ini sejak masa prasejarah, klasik, kolonial hingga saat ini. Islam di Lasem mulai berkembang pada masa akhir Majapahit dan berproses dalam dinamika kehidupan damai dan harmonis. Hal itulah yang menjadi inspirasi besar dari desain ini.

Desain motif batik terinspirasi oleh keberadaan Masjid Jami Lasem yang memiliki Mustaka bermotif Batara Kala peninggalan masa Klasik (Majapahit) yang dijadikan cungkup masjid pada masanya. Kelompok Nawasena membuat interpretasi dengan memaknai Musataka Masjid Jami sebagai simbol toleransi dan penghormatan terhadap budaya lama yang masih dipertahankan sampai sekarang.

Komponen desain motif batik ini menggunakan beberapa motif, yaitu mustaka, krisan, lintangan, kawung baganan, matahari, tanahan, dan arab pegon yang berisi petikan dari Gurindam 12 karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat yang terkenal dijuluki sebagai ‘Bapak Bahasa Indonesia’.

Rupanya, Lasem memiliki hubungan penting dengan Kesultanan Melayu sejak masa Kesultanan Melayu Pagaruyung dan Kesultanan Melayu Riau Lingga. Pada masa Kesultanan Riau Lingga, Lasem menjadi pengimpor gambir, bahan yang digunakan sebagai penguat warna batik. Hubungan Lasem dan Riau Lingga tidak hanya dagang, tapi juga terkait dengan perkembangan Islam melalui Jalur Rempah atau Jalur Sutra Laut.

BACA JUGA:

Kabari dari Rembang Gelar Kompetisi Desain Motif Batik Lasem

4. Lenggang Puspa Rasa karya Eko Cahyo Saputro (Yogyakarta)

Eko Cahyo Saputro menggambarkan motif tanaman dan hewan yang digambarkan terkesan sedang menari, berlenggok gemulai. Sesuai makna lenggang yakni gerakan terayun-ayun.

Sementara itu, puspa bermakna bunga, sedangkan rasa bermakna tanggapan indra terhadap rangsangan seperti kuliner tradisonal khas Rembang yaitu yopia, dumbeg, rengginang teri, urap latoh, dan kaoya dudul.

Motif Lenggang Puspa Rasa ini terinspirasi dari pusaka kuliner Lasem dan Rembang yang ditranformasikan menjadi motif bunga nan atraktif dan memiliki kekhasan tersendiri.

5. Sea of Serenity – Mare Serenitatis karya Kelompok Linggi (Lasem)

Dengan mengambil ilham dari warisan budaya Lasem di Desa Dasun yang pernah menjadi salah satu pusat pembuatan kapal jadi berkualitas tinggi di masa VOC dan pemerintahan Hindia Belanda, terciptalah motif linggi.

Motif Linggi terinspirasi dari hiasan/lukisan pada haluan dan buritan kapal-kapal nelayan yang berada di sepanjang Sungai Dasun. Pada masa dulu, Lasem merupakan bagian dari kota bandar di Jalur Rempah Indonesia. Budaya maritim atau bahari Lasem sampai saat ini masih langgeng dengan keberadaan Desa Dasun, Sungai Lasem/Sungai Babagan. Tidak mengherankan jika motif-motif batik Lasem banyak terkait dengan ciri budaya bahari. Salah satunya ialah linggi, kayu melengkung yang berada pada haluan dan buritan kapal.

Desain batik ini diperkaya dengan motif linggi, buntut bandeng, ikan bandeng dan udang, latohan, koin kepeng, bunga tanaman druju, dan ombak.

Batik ini menggunakan warna merah biru atau ‘bang biron’ untuk menghadirkan ciri warna klasik Lasem. Stilisasi bentuk linggi tampak seperti bulan sabit (bulan) yang menjadi simbol kelembutan menentramkan dalam budaya Jawa. Demikian pula dalam budaya Tionghoa, bulan merupakan simbol kemakmuran dan ikatan keluarga yang erat.

6. Madaharsa karya Kelompok Abipraya (Universitas Negeri Surabaya)

Madaharsa berarti ‘cinta dan kesucian’. Nama 'Madaharsa’ diibaratkan menjadi puji- pujian sehingga nantinya batik ini memiliki nilai yang tinggi dalam karyanya. Inspirasi karya terdiri dari burung hong dan bunga botan (peony). Burung feniks menjadi motif utama yang melambangkan dunia atas (khayangan) dan burung mitologi yang melambangkan keberuntungan. Sementara itu, bunga botan menjadi motif pendukung memiliki beberapa makna kehormatan dan kecantikan nan abadi.(dwi)

BACA JUGA:

Inovasi Batik Kidang Mas Lasem, Tawarkan Warna Pastel hingga Kolaborasi Metaverse

#JULI SEBANGSA OLAHGAYA #Fashion #Lasem
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Dion tampil tepat di bawah Menara Eiffel yang terkenal di kota tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Fashion
Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Minimalisme elegan mendominasi pasar dengan merek-merek yang menekankan identitas mereka melalui bahan berkualitas tinggi.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
 Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Fashion
Dari Ruang Kelas ke Runway, ESMOD Jakarta Hadirkan First Edit
First Edit menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk membawa karya yang sebelumnya dikerjakan sebagai tugas akhir keluar dari lingkungan kampus.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Dari Ruang Kelas ke Runway, ESMOD Jakarta Hadirkan First Edit
Fashion
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
UNIQLO dan KAWS kembali berkolaborasi lewat KAWS UNIVERSE yang menghadirkan COMPANION, karakter baru, dan plush charm mulai 14 September 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 11 September 2026
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
Fashion
'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Penampilan dramatis Putri Diana saat tiba di Serpentine Gallery pada 1994 menjadi salah satu momen ikonis dalam budaya pop.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
 'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Fashion
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Lewat inisiatif ‘With Gemini, In Craft’, Google menjadikan akal imitasi sebagai mitra kreatif pendukung bagi rumah mode, studio kreatif, serta pelaku usaha di Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 05 September 2026
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Olahraga
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Jersey Tim Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 mengangkat motif Gorga khas Toba dan Limar dari Sumatera Selatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Fashion
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
ESMOD Jakarta memperkuat koneksi fashion global melalui Global Mobility Pathway, membuka pertukaran mahasiswa dengan jaringan ESMOD di berbagai negara.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 Agustus 2026
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
Fashion
Ulos Simetria di BTN IFW 2026, Saat Wastra Sumatra Menjadi Bahasa Generasi Baru
BTN IFW 2026 mengangkat Ulos melalui tema Ulos Simetria. Desainer muda menerjemahkan tradisi, identitas, transformasi, dan pengalaman personal ke dalam mode kontemporer.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 Agustus 2026
Ulos Simetria di BTN IFW 2026, Saat Wastra Sumatra Menjadi Bahasa Generasi Baru
Fun
BRImo CODE.STRT 2026 Angkat Budaya Urban Lewat Fashion, Musik, dan Komunitas
BRImo CODE.STRT 2026 kembali hadir dalam rangkaian JF3 Fashion Festival dengan lebih dari 50 brand, kompetisi basket, skate, dance, musik, hingga area kuliner di Summarecon Mall Serpong.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 04 Agustus 2026
BRImo CODE.STRT 2026 Angkat Budaya Urban Lewat Fashion, Musik, dan Komunitas
Bagikan