Kabari dari Rembang Gelar Kompetisi Desain Motif Batik Lasem

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 27 April 2023
Kabari dari Rembang Gelar Kompetisi Desain Motif Batik Lasem

Kabari dari Rembang gelar Lomba Desain Motif Batik Lasem. (foto: dok Kabari dari Rembang)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DALAM kisah perbatikan Indonesia, nama Lasem menjadi salah satu nan mahsyur. Kota di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ini telah dikenal sebagai penghasil batik sejak abad 18. Sejarah batik Lasem (Laseman) bahkan telah dimulai kala Majapahit hingga era kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara di abad ke-15.

Batik Lasem mencapai masa kejayaan di awal abad ke-19. Motifnya nan unik, mulai dari lok can, burung hong, naga, sekar jagad, buketan, kendoro kendiri, grinsing, kawung, hingga lerek, menjadi penanda akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, serta Eropa. Warna-warna berani pada kain batik Lasem, seperti merah darah ayam yang terkenal sebagai getih pitik, biru indigofera, juga cokelat soga/tegeran, telah menarik minat pembeli. Di masa jayanya, batik Lasemdiekspor hingga ke Singapura, Thailand hingga Suriname.

BACA JUGA:

Inovasi Batik Kidang Mas Lasem, Tawarkan Warna Pastel hingga Kolaborasi Metaverse

Sayangnya, dalam perkembangan zaman, batik Lasem berada dalam situasi stagnan. Meski demikian, wastra tradisi ini berkeras bertahan. Riset Yayasan Lasem Heritage, sebuah yayasan berbasis yang bergerak di bidang pelestarian dan pendidikan yang bergerak di Lasem, mengungkap beberapa tantangan sektor batik Lasem. Ketiadaan regenerasi pembatik akibat generasi muda memilih pekerjaan bergaji tetap menjadi salah satu faktor batik Lasem meredup. Selain itu, meningkatkan akses generasi muda pada batik baik sebagai artisannya maupun sebagai konsumen dengan citarasa kekinian nan tetap mengakar pada tradisi batik Lasem juga menjadi tantangan bagi pelestarian wastra ini.

Sebagai jawaban atas tantangan itu, Kartini Bangun Negeri (Kabari) dari Rembang, sebuah inisiatif dari Bank Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Lasem Heritage diresmikan pada 25 Oktober 2022, menggelar Kompetisi Desain Motif Batik Lasem 2023. Kompetisi ini dimulai sejak 5 April hingga 5 Juni.

batik lasem
Batik Lasem punya motif dan warna cerah nan unik.(foto: Merahputih.com/Dwi Astarini)

Kabari dari Rembang ini merupakan program pendampingan untuk mendorong produktivitas para pembatik di Lasem serta berorientasi pada penguatan ekosistem batik Lasem, proses regenerasi, dan diversifikasi produk batik Lasem yang berkonsep ekonomi sirkular nan ramah lingkungan.

“Kompetisi desain motif batik menggunakan warisan budaya dan sejarah Lasem sebagai inspirasi penciptaan karya, menggerakan perekonomian rakyat dan memperkuat tradisi dengan inovasi kreatif serta memberi semangat baru untuk generasi muda dalam merawat warisan budaya,” kata Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Daerah Jawa Tengah Rahmat Dwi Saputra dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.

Rahmat mengatakan kompetisi ini akan turut berkontribusi memperkuat ekosistem batik Lasem dalam konteks ekonomi sirkular, terutama pada masa pemulihan ekonomi mikro pascapandemi.

Dalam kompetisi yang berlangsung selama dua bulan, para peserta tak hanya mendesain motif batik, tapi juga mengimplementasikannya dalam selembar kain. “Biasanya kompetisi desain batik seperti ini dilaksanakan sehari dua hari. Namun kami bersama BI merancang selama dua bulan untuk memberikan kesempatan pada peserta untuk mewujudkan desain mereka,” kata pelaksana kegiatan kompetisi Ernitha Angelia.

BACA JUGA:

Merespons Lasem dalam Bingkai ‘Tridaya’

Kompetisi dimulai dari seleksi umum konsep desain dan gambar. Enam besar desain akan dipilih dan diberi kesempatan bantuan dana untuk mewujudkan karya mereka. Tujuh juri siap memilih pemenang. “Panjang tahapannya, peserta ibarat membuat proposal pitch deck yang harus menggambarkan hulu hilir, mulai ide hingga rencana pasar yang akan menyerap karyanya. Jadi harus dapat diaplikasikan dan masuk pasar pada akhirnya,” jelas Ernitha.

Para peserta, menurut Ernitha, harus meriset batik Lasem, melihat Lasem dari dekat,termasuk sejarah batik dan kotanya. Mereka kemudia akan memasukkan aspek-aspek itu masuk ke desain batik.

batik lasem
Regenerasi pembatik jadi salah satu tantangan dalam pengembangan batik Lasem. (foto: Merahputih.com/Dwi Astarini)

Diharapkan, kompetisi desain batik Lasem diharapkan mampu menggugah semangat kreatif generasi muda desainer, rumah produksi batik, dan artisan untuk kreatif dengan motif-motif warisan budaya Lasem atau mengombinasikan motif lama dan baru dengan tetap mempertahankan identitas Lasem.

Tujuh juri akan jadi penilai dalam kompetisi ini, yaitu Rahmat Dwisaputra (Kepala KPwBI Jawa Tengah), Ni Ketut Wardani Pradnya Dewi (Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Budaya, Kemendikbudristek), Didiet Maulana (Desainer IKAT Indonesia), Lina Handianto Tjokrosaputro (Batik Keris), Adityayoga (Institut Kesenian Jakarta), Hayuning Sumbadra (Desainer Adra World), dan Yahya Adi Sutikno (Batik White Peony).

Ada beberapa aspek yang akan menjadi pertimbangan juri untuk memilih yang terbaik dari 119 peserta dari Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatra Barat yang telah mendaftar. “Aspek konsep, teknik batik, dan estetik akan dinilai. Paling banyak di indikator estetik yang terdiri dari motif dan warna serta harmoninya. Prinsip-prinsip desain tentunya akan sangat berpengaruh,” ujar Adityayoga.

batik lasem
Peserta diharuskan membuat kreasi motif hingga rencana pasar. (foto: Merahputih.com/Dwi Astarini)

Teknik batik, menurut Yahya Adi Sutikno, akan menjadi penentu. Menurutnya, desain yang ditampilkan peserta harus bisa diimplementasikan dalam berbagai bentuk, semisal kain, sarung, selendang, ikat kepala, atau tokwi. “Semua ada prinsipnya. Mau menggunakan teknik apa. Apakah tulis atau kombinasi cap dan tulis. Keseuluruhan akan memengaruhi indikator estetik,” jelas Yahya.

Selanjutnya, para peserta diharapkan mampu mengaitkan konsep desain hingga rencana pasar. “Kami melihat aspek keberlanjutannya. Konsep, inspiriasi, narasi, keunikan atau nilai penting karya, dan yang pasti desain tersebut direncanakan untuk pasar apa,” kataHayuning Sumbadra. Hal itu, menurutnya, harus terkomunikasikan dalam konsep desain. Ia mengatakan aspek keberlanjutan itulah yang membuat kompetisi ini istimewa. “Karena desain hingga perwujudannya diharapkan bisa diserap pasar dan bahkan mungkin diproduksi ulang. Apalagi jika mampu mengaitkan dengan konsep keberlanjutan dan pelestarian lingkungan hidup,” imbuhnya.

kabari dari rembang
Enam juri akan menilai karya peserta. (foto: Dok Kabari dari Rembang)

Nantinya, setelah melewati penjurian, akan terpilih enam karya terbaik. Mereka akan memproduksi desain mereka bersama rumah batik yang ada di Lasem. “Batik Lasem ya salah satu cirinya dibuat di Lasem, melekat identitas geografisnya. Semoga kelak banyak kolaborasi kreatif terjadi di Lasem. Mari kita ikuti prosesnya,” pungkas Ernitha.(dwi)

BACA JUGA:

6 Destinasi Wisata Unik dan Melegenda di Lasem

#Lasem #Batik #Batik Tulis Lasem #Fashion
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Band alternatif Supple merilis single 'In A Mess' sebagai pembuka album terbaru sekaligus berkolaborasi dengan BOOspace lewat I AM BOOCLOTH EXHIBITION.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 06 Juli 2026
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Fashion
JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Optimisme Memperkuat Masa Depan Ekosistem Fesyen Indonesia
Tahun ini, JF3 membawa tema 'Recrafted: Shaping the Future'.
Dwi Astarini - Sabtu, 04 Juli 2026
JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Optimisme Memperkuat Masa Depan Ekosistem Fesyen Indonesia
Fashion
Indonesia Fashion Week 2026 Hadirkan Pengalaman Multisensori, Gandeng Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent
BTN Indonesia Fashion Week 2026 menghadirkan inovasi baru lewat kolaborasi dengan Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 02 Juli 2026
Indonesia Fashion Week 2026 Hadirkan Pengalaman Multisensori, Gandeng Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent
Fashion
ASICS Gandeng Isa Boulder Hadirkan HYPERSYNC dengan Sentuhan Craftsmanship Bali
Isa Boulder dikenal sebagai label fesyen yang mengedepankan eksplorasi material, teknik tekstil eksperimental, serta pendekatan body-conscious silhouette.
Dwi Astarini - Rabu, 01 Juli 2026
ASICS Gandeng Isa Boulder Hadirkan HYPERSYNC dengan Sentuhan Craftsmanship Bali
Fashion
Indonesia Fashion Week 2026 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Italia untuk Industri Mode
BTN Indonesia Fashion Week 2026 memperkuat kolaborasi Indonesia dan Italia melalui Italian Trade Agency dan ASSOMAC untuk mendorong inovasi industri mode nasional.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Indonesia Fashion Week 2026 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Italia untuk Industri Mode
Fashion
Adidas Rilis Koleksi SS26 Summer Glow, Terinspirasi Iklim Tropis dan Kekayaan Artistik Indonesia
Koleksi ini terdiri dari atasan kemeja, tee, kaus lengan panjang, celana panjang dan pendek, celana bermuda, serta dua sepatu spesial.
Dwi Astarini - Jumat, 26 Juni 2026
Adidas Rilis Koleksi SS26 Summer Glow, Terinspirasi Iklim Tropis dan Kekayaan Artistik Indonesia
Fashion
Mahasiswa ESMOD Jakarta Bersinar dalam Trunk Show di BeautyFest Asia
ESMOD Jakarta memberikan panggung bagi para mahasiswa untuk memamerkan kemampuan mereka dalam menerjemahkan ide kreatif menjadi rancangan busana.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Mahasiswa ESMOD Jakarta Bersinar dalam Trunk Show di BeautyFest Asia
Fashion
Fenomena Unik Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Pakai Sepatu Pink, Ternyata ini Alasannya!
Fenomena sepatu pink di Piala Dunia 2026 menjadi sorotan. Ternyata, ada beberapa alasan mengapa warna pink mendominasi ajang bergengsi tersebut.
Soffi Amira - Selasa, 16 Juni 2026
Fenomena Unik Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Pakai Sepatu Pink, Ternyata ini Alasannya!
Fashion
Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia, Bertumbuh Bersama Industri Fashion Tanah Air
Sejak awal didirikan, LAKON hadir dengan cita-cita melestarikan budaya supaya perajin Indonesia naik kelas.
Dwi Astarini - Selasa, 09 Juni 2026
Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia, Bertumbuh Bersama Industri Fashion Tanah Air
Fashion
12 Desainer Muda Lolos Semifinal IYFDC 2026, Siap Tampil di BTN Indonesia Fashion Week
IYFDC merupakan salah satu program pembinaan desainer muda yang menjadi bagian dari rangkaian BTN Indonesia Fashion Week 2026.
Dwi Astarini - Selasa, 09 Juni 2026
12 Desainer Muda Lolos Semifinal IYFDC 2026, Siap Tampil di BTN Indonesia Fashion Week
Bagikan