Merahputih.com - Bayang-bayang ketakutan akibat gempa bumi masih menyelimuti benak warga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ancaman gempa susulan membuat masyarakat, khususnya di Kabupaten Sikka dan Ende, enggan beristirahat di dalam rumah.
Mereka memilih mendirikan bedeng darurat dan tempat tinggal sementara di pekarangan demi mengantisipasi risiko guncangan susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Baca juga:
JHL Foundation Koordinasi dengan BPBD, Salurkan Bantuan Gempa Flores NTT
Kondisi mencekam ini dirasakan langsung oleh warga Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, NTT.
Bagi mereka, bertahan di bangunan semipermanen luar rumah menjadi pilihan paling aman saat trauma gempa Flores membuat siapapun waswas, terutama saat malam hari tiba.
Bertahan di Bedeng Darurat demi Keselamatan
Salah satu warga Desa Bhera, Niko, menceritakan bagaimana ia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke bedeng rakitan tepat di depan rumah mereka. Keterbatasan fasilitas di dalam bedeng tak memadamkan niat mereka untuk tetap bertahan di luar rumah.
Kalau tidur di dalam rumah, kami masih sangat takut. Trauma gempa kemarin belum hilang. Kami khawatir kalau ada gempa susulan malam-malam, kami tidak sempat menyelamatkan diri keluar rumah,
tutur Niko.
Bagi Niko dan tetangganya, struktur bedeng berkonstruksi ringan memberikan rasa aman yang tak lagi mereka dapatkan di dalam bangunan permanen.
Meski jauh dari kata nyaman, gubuk sementara ini memberi mereka akses evakuasi yang lebih cepat jika bumi kembali bergetar.
Jeritan Hati Warga: Butuh Material Bangunan dan Semen
Selain rasa aman, warga terdampak gempa di Flores kini mulai memikirkan nasib tempat tinggal mereka ke depan. Pasokan pangan memang krusial, tetapi ketersediaan bahan bangunan menjadi kebutuhan mendesak yang sangat mereka harapkan saat ini.
Niko menyampaikan harapannya agar ada uluran tangan berupa bantuan material seperti semen dan kebutuhan konstruksi lainnya.
"Kami sangat berharap gempa ini segera berhenti total. Selain pangan, kami butuh bantuan semen dan bahan bangunan agar rumah kami bisa diperbaiki dan aman ditinggali lagi," ungkapnya.
Kepanikan serupa juga menjangkiti warga di wilayah Ende. Rasa cemas akan potensi guncangan di tengah lelapnya tidur membuat sebagian masyarakat konsisten menghabiskan malam beratap seadanya di luar rumah.
Geliat Bantuan Pertama dari JHL Foundation
Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan, Yayasan JHL Merah Putih Kasih (JHL Foundation) hadir sebagai organisasi kemanusiaan pertama yang menembus Desa Bhera untuk menyalurkan bantuan gempa NTT.
Sebanyak 60 paket logistik diserahkan langsung kepada warga yang membutuhkan. Masing-masing paket berisi:
-
Beras 5 kg
-
Telur segar
-
Mi instan
-
Terpal pelindung hujan dan angin
Bagi Niko dan masyarakat Desa Bhera, kehadiran tim JHL Foundation memberikan secercah harapan di tengah kepungan trauma.
Baca juga:
JHL Foundation Jadi yang Pertama Tiba, Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa di Sikka NTT
Bantuan tersebut tidak sekadar mengganjal perut yang lapar, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa mereka tidak berjuang sendirian menghadapi dampak pascagempa.
"Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Kami berterima kasih karena JHL Foundation sudah datang langsung ke sini," tutup Niko.