MerahPutih.com - Dr. (H.C.) Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group sekaligus sosok di balik merek kosmetik legendaris Sariayu, meninggal dunia pada Rabu (14/10) pukul 06.22 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 89 tahun.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga dan keluarga besar Martha Tilaar Group melalui pernyataan resmi. Jenazah almarhumah disemayamkan di kediaman keluarga di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, sebelum dijadwalkan dimakamkan pada Jumat (16/10) di San Diego Hills, Karawang.
Kepergian Martha Tilaar menjadi kehilangan bagi industri kecantikan dan kewirausahaan Indonesia. Sepanjang perjalanan kariernya, ia dikenal sebagai pelopor kosmetik berbasis bahan alami yang mengangkat kekayaan herbal dan tradisi perawatan kecantikan Nusantara ke dalam industri modern.
Warisan Martha tidak hanya tercermin melalui bisnis yang dibangunnya, tetapi juga melalui upayanya melestarikan budaya lokal dan memberdayakan perempuan Indonesia.
Berikut profil dan perjalanan hidup Martha Tilaar, dari pengalaman belajar kecantikan hingga membangun bisnis yang berkembang menjadi salah satu nama penting dalam industri kecantikan Tanah Air.
Baca juga:
Masa Kecil Martha Tilaar dan Awal Ketertarikannya pada Kecantikan
Martha Tilaar lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia memiliki nama asli Martha Handana dan menghabiskan masa kecil sebagai anak perempuan yang tomboy serta kerap sakit-sakitan.
Khawatir dengan sifat putrinya, sang ibu kemudian menitipkan Martha kepada Titi Poerwosoenoe, seorang ahli kecantikan tradisional terkemuka asal Yogyakarta.
Pengalaman tersebut menjadi awal ketertarikan Martha terhadap dunia kecantikan. Ia mulai belajar bersolek dan merangkai hiasan menggunakan tumbuh-tumbuhan alami.
Dari pengalaman itu, Martha mengenal potensi bahan-bahan alami yang tersedia di Indonesia untuk perawatan tubuh. Ketertarikannya terhadap tradisi kecantikan lokal kemudian menjadi salah satu landasan perjalanan bisnis yang ia bangun.
Menimba Ilmu Kecantikan di Amerika Serikat
Perjalanan Martha dalam mendalami dunia kecantikan berlanjut ketika ia mendampingi suaminya, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, bertugas di Amerika Serikat.
Selama berada di Negeri Paman Sam, Martha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menempuh pendidikan formal di bidang kecantikan. Ia belajar di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana.
Setelah kembali ke Indonesia pada 1969, Martha bertekad menerapkan ilmu yang telah diperolehnya.
Pada awal 1970, ia membuka salon kecantikan sederhana berukuran 4 x 6 meter di garasi rumah orang tuanya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Usaha kecil tersebut menjadi titik awal perjalanan bisnis yang kemudian berkembang menjadi Martha Tilaar Group.
Merintis Bisnis dari Garasi hingga Membangun Sariayu
Membangun bisnis kecantikan berbasis bahan alami bukan perkara mudah bagi Martha. Pada era 1970-an, tren kecantikan di Indonesia masih banyak berkiblat pada produk-produk Barat.
Pilihan Martha untuk mengembangkan produk berbahan herbal dan konsep lulur tradisional sempat dipandang sebelah mata. Ia bahkan mengalami penolakan dari sejumlah bank ketika berupaya mengajukan kredit usaha.
Namun, Martha tetap konsisten mengembangkan pendekatan kecantikan yang berakar pada kekayaan alam dan tradisi Indonesia.
Pada 1977, ia bekerja sama dengan Kalbe Farma untuk mendirikan PT Martina Berto. Dari sinilah perjalanan merek kosmetik dan jamu Sariayu Martha Tilaar berkembang.
Melalui bisnis tersebut, Martha membawa gagasan bahwa kecantikan tidak harus mengikuti standar bangsa Barat. Ia mendorong perempuan Indonesia untuk menghargai warna kulit serta keunikan kecantikan perempuan Nusantara.
Perpaduan kearifan lokal (local wisdom) dan teknologi modern (high technology) menjadi fondasi pengembangan bisnisnya. Pendekatan tersebut turut memperkuat identitas merek yang mengangkat bahan alami dan tradisi kecantikan Indonesia.
Martha Tilaar Group dan Ekspansi Industri Kecantikan
Bisnis yang bermula dari sebuah garasi di Menteng berkembang menjadi kelompok usaha dengan berbagai lini bisnis.
Melalui Martha Tilaar Group, usaha yang dirintis Martha mencakup industri kosmetik, distribusi, serta pendidikan kecantikan melalui Puspita Martha International Beauty School.
Salah satu perusahaan dalam kelompok usaha tersebut adalah PT Martina Berto Tbk, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Perjalanan bisnis Martha memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai kecantikan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan modern. Ia juga menjadikan kekayaan bahan alami Indonesia sebagai bagian penting dari identitas bisnisnya.
Baca juga:
Kepedulian Martha Tilaar terhadap Pemberdayaan Perempuan
Di luar dunia usaha, Martha Tilaar dikenal memiliki perhatian terhadap pemberdayaan perempuan.
Salah satu upayanya adalah menyediakan wadah pelatihan terapis spa secara gratis. Program tersebut ditujukan untuk membantu perempuan memperoleh keterampilan yang dapat digunakan untuk membangun kemandirian finansial.
Upaya tersebut juga berkaitan dengan kepeduliannya terhadap kerentanan perempuan terhadap perdagangan manusia atau human trafficking.
Dalam naskah profilnya, tercatat ribuan perempuan dari berbagai daerah di Indonesia telah mengikuti pendidikan keterampilan tersebut. Melalui pelatihan itu, Martha berupaya membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan taraf hidup.
Pemberdayaan perempuan menjadi bagian dari kiprahnya yang melampaui kegiatan bisnis dan pengembangan produk kecantikan.
Deretan Penghargaan untuk Martha Tilaar
Dedikasi Martha Tilaar dalam mengembangkan industri kecantikan berbasis bahan alami dan melestarikan budaya Indonesia mendapat pengakuan melalui berbagai penghargaan.
Pada 1984, ia dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa di bidang Fashion Artistry dari World University Tucson, Arizona, Amerika Serikat.
Pengakuan juga datang dari pemerintah Indonesia. Pada 2016, Martha menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma atas kontribusinya dalam pelestarian budaya bangsa, khususnya melalui pengembangan dan pemasyarakatan jamu serta tradisi berbahan herbal.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas upayanya menghubungkan warisan budaya Indonesia dengan perkembangan industri modern. (Knu)