Kesehatan

Manfaat Mengagumkan Lompat Tali untuk Tubuh

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 17 Juli 2020
Manfaat Mengagumkan Lompat Tali untuk Tubuh

Lompat tali memberi banyak manfaat.(Foto: TB12 Sports)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KAMU mungkin enggak menganggap serius lompat tali sebagai jenis olahraga. Meskipun terlihat sederhana, aktivitas lompat tali ini lebih efektif daripada olahraga kardio lainnya.

Sebuah studi yang diterbitkan Research Quarterly: American Association for Health, Education, and Recreation di 2013 menemukan pria usia 20-an yang menghabiskan 10 menit lompat tali setiap hari selama enam minggu memiliki kebugaran kardiovaskular yang meningkat. Jumlah itu sama dengan mereka yang menghabiskan 30 menit joging untuk periode waktu yang sama. Selain itu, lompat tali memiliki lima manfaat yang tak main-main.

BACA JUGA:

Sehatnya Memelihara Ikan

1. Membakar kalori

lompat tali
Membakar banyak kalori. (foto: Jetsetty)


Lompat tali dapat membakar 200 hingga 300 kalori dalam 15 menit. Itu mungkin lebih efektif daripada latihan kardio berkelanjutan lainnya seperti lari atau naik sepeda. "Aktivitas ini membakar lebih banyak kalori daripada kardio keadaan stabil, mulai dari mendayung atau joging hingga bersepeda dan berenang," kata pelatih olahraga profesional dan pencipta The Jillian Michaels Fitness App, Jillian Michaels.

Karena sebagian besar kelompok otot utama bekerja ketika kita lompat tali, latihan ini dianggap thermogenik (olahraga yang menciptakan banyak panas dalam tubuh). Tubuh perlu membakar lebih banyak bahan bakar untuk menghasilkan energi ini, sehingga latihan ini membakar banyak kalori. "Kamu akan segera mengetahui lompat tali selama 2 menit sebagai pemula. Itu akan sangat menantang kemampuan kardiovaskularmu," kata personal trainer, Morgan Rees.

Detak jantung akan segera naik dan harus mempertahankan jumlah energi yang dihasilkan untuk otot-otot. Hal itu meningkatkan pembakaran kalori serta menantang berbagai sistem energi tubuh.


2. Meningkatkan koordinasi

lompat tali
Lompat tali meningkatkan koordinasi. (foto: minute mirror)

Lompat tali membutuhkan koordinasi terbaik, terutama ketika harus mengayunkan tali dua kali dalam setiap lompatan dengan cepat. "Lompat tali meningkatkan koordinasi karena memerlukan beberapa bagian tubuh berkomunikasi untuk menyelesaikan satu gerakan," kata Rees.

Kaki harus melompat seirama dengan saat pergelangan tangan berputar untuk menciptakan gerakan melompat terus-menerus. Jurnal Penelitian Farmasi dan Teknologi mengungkapkan bahwa lompat tali membantu meningkatkan koordinasi motorik di antara anak-anak autis yang sering berjuang dengan keseimbangan dan koordinasi.


3. Mengurangi risiko cedera

lompat tali
Punya risiko cedera minim. (foto:TB12 Sports)


Dengan kesederhanaan gerakan dan instrumen yang digunakan, olahraga ini memiliki risiko cedera yang cenderung kecil. Selain itu, lompat tali juga memaksa kita untuk mengoordinasikan gerakan tubuh bagian atas dan bawah sehingga kesadaran tubuh kita meningkat pesat. Dengan demikian, peluang untuk cedera lebih sedikit.


4. Meningkatkan kesehatan jantung

lompat tali
Membuat jantung memompa lebih kuat. (foto: times of India)

Lompat tali membuat jantungmu memompa lebih keras. Hal tersebut bagus untuk sistem kardiovaskular dan kesehatan jantungmu. Lompat tali dapat meningkatkan V02 Max kita. Apa itu V02 Max? V02 Max adalah ukuran jumlah maksimum oksigen yang dapat digunakan seseorang selama berolahraga. Semakin tinggi VO2 max seseorang, semakin banyak daya tahan kardiovaskular yang dimiliki.

Lompat tali juga bermanfaat bagi orang yang sudah berisiko terkena penyakit kardiovaskular. Sebuah studi pada 2018 yang diterbitkan dalam European Journal of Applied Physiology menemukan bahwa lompat tali selama 12 minggu mengurangi faktor risiko penyakit kardiovaskular pada remaja putri yang mengalami prehipertensi, atau tekanan darah tinggi batas. Pada akhir penelitian, para gadis yang rutin lompat tali tersebut memiliki lemak tubuh yang lebih rendah, lebih sedikit lemak tubuh di perut, dan denyut nadi yang lebih baik. Semua aspek itu berkontribusi besar bagi kesehatan jantung.


5. Memperkuat kepadatan tulang

lompat tali
Melatih kepadatan tulang lewat latihan menumpu. (foto: openfit)


Kepadatan tulang diukur dari banyaknya mineral seperti kalsium di tulang. Mereka yang kekurangan kalsium cenderung memiliki tulang yang rapuh dan cenderung patah. Lompat tali bisa membuat tulang kita lebih kuat. Kepadatan tulang yang lebih tinggi juga dapat mengurangi risiko osteoporosis di kemudian hari, terutama untuk anak perempuan dan perempuan.

Public Library of Science merilis hasil studi di 2017 dan menemukan bahwa anak perempuan berusia 11 hingga 14 tahun yang berpartisipasi dalam kegiatan lompat tali memiliki kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak lompat tali. Pada 2019, masyarakat Korea untuk Penelitian Tulang dan Mineral juga merekomendasikan agar orang-orang lompat tali selama 10 menit sehari untuk meningkatkan kekuatan tulang.

"Lompat tali membangun kepadatan tulang melalui latihan tumpuan," jelas Michaels. Ketika kita berlatih dengan gerakan tumpuan, kita menuntut tulang lebih agresif daripada olahraga lainnya. Tubuh pun akan merespons stres itu dengan mengubah tulang menjadi lebih kuat dan lebih padat. Menurut International Osteoporosis Foundation, lompat tali juga bermanfaat bagi orang-orang dengan tulang lemah.(avia)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan