Kesehatan

Lumut Laut Bisa Turunkan Berat Badan dan Tingkatkan Gairah?

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 27 Oktober 2022
Lumut Laut Bisa Turunkan Berat Badan dan Tingkatkan Gairah?

Seperti rumput laut, lumut laut adalah istilah umum yang mencakup berbagai spesies alga. (Foto: PxHere/Eddyduende)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

LUMUT laut yang tumbuh di bebatuan pantai Atlantik telah ditambahkan ke dalam teh, smoothie, yoghurt, jus, bahkan ada yang memakannya langsung. Itu semua terjadi setelah lumut laut mendapatkan predikat superfood.

Teksturnya berlendir seperti tiram yang dijus, rasanya memiliki aroma air laut berlumpur. Namun, secara keseluruhan dikatakan rasanya hampir tidak ada. Seperti rumput laut, lumut laut adalah istilah umum yang mencakup berbagai spesies alga yang tumbuh di perairan pesisir.

Jenis yang paling terkenal adalah lumut laut Irlandia (chondrus crispus) yang dapat ditemukan di daerah berbatu di sekitar pantai Irlandia, serta di pantai Atlantik Inggris, daratan Eropa, dan Amerika Utara.

Secara historis, lumut laut dipanen untuk karagenan. Diekstraksi untuk digunakan dalam pembuatan makanan karena sifatnya yang membentuk gel, mengental dan menstabilkan. Sejak dicap sebagai superfood, bentuknya menjadi lebih banyak. Suplemennya saja ada dalam berbagai bentuk seperti pil, bubuk, permen karet, dan gel.

Baca juga:

adasd

Lumut Laut Bisa Turunkan Berat Badan dan Tingkatkan Gairah?
Jenis yang paling terkenal adalah chondrus crispus yang tumbuh di sekitar pantai Irlandia. (Foto: Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Pembuktian manfaat kesehatan lumut laut sama sulitnya dengan mendefinisikan rasanya. Testimoni dalam video TikTok, blog kesehatan, dan produk lumut itu sendiri berkisar dari penurunan berat badan hingga kulit yang lebih bersih, peningkatan libido, dan peningkatan kesuburan.

Namun, hanya sedikit dari klaim tersebut yang menjadi subjek penelitian yang diperlukan agar manfaat kesehatannya dapat didaftarkan di European Food Safety Agency.

"Karena belum banyak penelitian tentang lumut laut, sulit untuk mengatakan apakah itu aman untuk semua orang," kata ahli diet terdaftar Beth Czerwony di Cleveland Clinic’s Center for Human Nutrition, AS.

Chondrus crispus kaya akan yodium dan merupakan sumber serat yang baik. Satu studi menemukan bahwa lumut laut tambahan meningkatkan fungsi sistem kekebalan pada salmon. Itulah yang sepertinya menjadi salah satu alasan tren superfood lumut laut ini berkembang selama COVID-19. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut untuk menunjukkan apakah itu benar baik untuk manusia.

Yodium berguna dalam mendukung fungsi tiroid, tetapi kebanyakan orang mendapatkan cukup dari makanan sehari-hari. Karena jumlah yodium dalam lumut laut tidak konsisten, orang mungkin akan mengonsumsinya terlalu banyak.

Terlalu banyak mengonsumsi lumut laut dapat menyebabkan hipotiroidisme atau tiroid yang kurang aktif. Terlebih lagi, beberapa tumbuhan laut (tergantung pada lokasinya) mungkin mengandung logam berat.

Baca juga:

asdad

Lumut Laut Bisa Turunkan Berat Badan dan Tingkatkan Gairah?
Sejak dicap sebagai superfood, suplemen lumut laut dijual dalam berbagai bentuk. (Foto: YouTube/Trini Cooking with Natasha)

Meski demikian, banyak yang mendukung klaim kesehatan lumut laut dengan mengatakan hal yang sama untuk spesies ganggang merah lain, seperti gracilaria yang tumbuh di perairan yang lebih hangat.

Lebih membingungkan lagi, karena ribuan pekerja kontrak Irlandia yang diangkut ke Karibia selama abad ke-18 melanjutkan praktik mereka meminum lumut laut lokal. Bahkan hingga kini, orang Jamaika membuat minuman yang mereka sebut lumut Irlandia, terinspirasi oleh resep yang dibawa oleh para imigran tersebut.

Singkatnya, lumut laut menjadi yang terbaru dalam barisan panjang tanaman obat yang telah dikonsumsi di beberapa komunitas selama berabad-abad. Meski begitu, lumut laut belum tunduk pada peraturan perundang-undangan atau pengujian kontrol acak skala besar sebelum dimanfaatkan oleh dunia kesehatan.

Mengkonsumsi lumut laut yang berasal dari sumber yang baik dalam jumlah sedang tidak akan berdampak buruk, bahkan mungkin dampaknya baik. Namun, sebaiknya kita memperlakukan lumut laut seperti yang telah dilakukan secara historis yakni sebagai bahan, bukan superfood. (aru)

Baca juga:

aadsaada

#Makanan #Makanan Diet #Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Bagikan