LIPI Tegaskan Perlu Ada Riset Mendalam Fenomena Ikan Mati dengan Gempa Bumi

Eddy FloEddy Flo - Sabtu, 09 November 2019
 LIPI Tegaskan Perlu Ada Riset Mendalam Fenomena Ikan Mati dengan Gempa Bumi

Ilustrasi ikan mati (ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras/15)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Fenomena ikan mati belakangan kerap dikaitkan dengan potensi gempa bumi di sejumlah wilayah di Tanah Air.

Atas fenomena tersebut, Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pegetahuan Indonesia (LIPI) memandang perlu adanya riset dan kajian yang lebih mendalam terkait fenomena kematian massal ikan dan peristiwa gempa bumi.

Baca Juga:

Lagi, Ribuan Ikan Mati Mendadak di Jakarta

"Saya kira memang perlu ada kajian, analisa maupun riset yang lebih mendalam terkait fenomena kematian massal ikan dan bencana gempa bumi, " kata Peneliti P2LD LIPI Hanung Agus Mulyadi di Ambon, Jumat (8/11).

Ilustrasi hubungan ikan mati dengan gempa bumi
Ilustrasi Foto Gempa Bumi. foto: Istockphoto

Ia mengatakan kajian dan riset mendalam mengenai kedua fenomena tersebut perlu dilakukan, karena bisa jadi peristiwa alam tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga diperlukan penelitian ilmiah untuk membuktikannya.

Hanung merujuk pada fenomena kematian massal ikan demersal yang terjadi di beberapa wilayah di Pulau Ambon pada 12 -16 September 2019, beberapa hari berselang sesudah peristiwa tersebut terjadi guncangan gempa bumi magnitudo 6,5 dan 5,6 pada 26 September 2019.

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, setelah ada laporan ditemukkannya biota laut dan ikan demersal mati di Desa Lelingluan, Kecamatan Tanimbar Utara, beberapa hari kemudian terjadi gempa bumi.

"Di Ambon setelah ada laporan kematian massal ikan beberapa hari terjadi gempa, di Tanimbar juga begitu. Kemungkinan di daerah lain juga seperti itu, setelah ada laporan kematian massal ikan diikuti, satu minggu atau beberapa hari kemudian gempa," ucap Hanung.

Dia mengakui ilmu pengetahuan modern saat ini belum bisa menyatakan bahwa kematian massal ikan merupakan salah satu penanda akan adanya gempa bumi maupun tsunami. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian terkait hal itu.

Dia mengatakan karena berkembangnya sains modern membuat metode untuk melakukan pengukuran lebih presisi dan komprehensif, sehingga bisa jadi mampu menjawab bagian yang terlewatkan dari penelitian sebelumnya.

"Sampai saat ini sains modern mencatat belum terbukti secara ilmiah bahwa kematian massal ikan adalah salah satu penanda akan terjadi gempa, tapi ilmu pengetahuan terus berkembang, boleh jadi ke depan bisa menjawab 'missing link'-nya itu, hipotesa bisa terbukti, bisa juga salah atau direvisi," ujarnya.

Penelitian P2LD LIPI terkait kematian massal ikan di Pulau Ambon sempat dipaparkan oleh Hanung di Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) ke-XIV yang digelar di Ambon, pada Kamis (7/11).

Dalam kesempatan itu, seorang ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyarankan agar P2LD LIPI meningkatkan kajian mengenai kematian ikan dan kaitannya dengan oleh kebocoran gas metana, radon dan lainnya yang keluar dari dalam bumi.

Hanung sebagaimana dilansir Antara menyatakan dirinya sepakat dengan usulan tersebut karena sifat gas yang cepat menguap, sehingga tidak mungkin bisa menangkap bukti keberadaan gas berdasarkan pemeriksaan sampel ikan mati.

Baca Juga:

Dampak Ledakan Tiongkok: Ribuan Ikan di Sungai Mati Mendadak

Hal itu harus menjadi fokus P2LD LIPI dan lembaga lainnya, seperti Universitas Pattimura (Unpatti) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, bagaimana menyediakan alat yang secara ilmiah bisa melacak kebocoran gas alam setelah fenomena kematian massal ikan.

"Saya sepakat, sangat menarik dan juga masuk akal karena secara sains bisa juga atau boleh jadi kebocoran gas yang awalnya tidak terbukti bisa jadi yang menyebabkan biota-biota ikan yang secara fisiologis terpapar dan akhirnya mati, itu satu rentetan gas-gas tadi menandakan akan adanya gempa," pungkas Hanung Agus Mulyadi.(*)

Baca Juga:

Danau Perumahan Citra Garden City Masih Bau Bangkai Ikan

#Gempa Bumi #LIPI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Wagub Rano Minta Sekolah Jakarta Rutin Simulasi Gempa Bumi
Langkah tersebut diambil demi memastikan fasilitas pendidikan tidak hanya layak dan nyaman, tetapi juga aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Dwi Astarini - Jumat, 16 Oktober 2026
Wagub Rano Minta Sekolah Jakarta Rutin Simulasi Gempa Bumi
Indonesia
Info Gempa Terkini: Banten Diguncang Gempa Magnitudo 4,6 Berpusat di Laut, Warga Diminta Tetap Waspada
Cari tahu info gempa terkini! Guncangan gempa Banten hari ini bermagnitudo 4,6 berpusat di laut Muarabinuangeun dan terasa hingga Palabuhan Ratu. Cek detailnya di sini.
Angga Yudha Pratama - Senin, 12 Oktober 2026
Info Gempa Terkini: Banten Diguncang Gempa Magnitudo 4,6 Berpusat di Laut, Warga Diminta Tetap Waspada
Indonesia
Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Sumba Barat Daya, NTT
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa terjadi pada Selasa pukul 04.40 WIB atau 05.40 WITA.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Sumba Barat Daya, NTT
Indonesia
Duka Gempa Sumba Barat Daya M 6,1 Hari Ini: Lansia Tewas, Bangunan Sekolah Hancur
Simak kronologi lengkap bencana gempa M 6,1 yang merenggut nyawa warga lansia di Kodi Utara Sumba.
Wisnu Cipto - Minggu, 04 Oktober 2026
Duka Gempa Sumba Barat Daya M 6,1 Hari Ini: Lansia Tewas, Bangunan Sekolah Hancur
Indonesia
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Gempa bumi magnitudo (M) 6,1 mengguncang wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10) pagi.
Yusuf Abdillah - Minggu, 04 Oktober 2026
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Indonesia
Gempa M2,8 Guncang Bandung Senin (21/9) Pagi, BMKG Ungkap Penyebabnya
Bandung diguncang gempa Bumi M2,8 pada Senin (21/9) pagi. BMKG pun mengungkap penyebabnya.
Soffi Amira - Senin, 21 September 2026
Gempa M2,8 Guncang Bandung Senin (21/9) Pagi, BMKG Ungkap Penyebabnya
Indonesia
Peta Geologi Kebobolan! BMKG Temukan Patahan Baru Misterius Pemicu 118 Gempa Kab Bandung
BMKG mengonfirmasi 118 gempa di Kabupaten Bandung dipicu sesar lokal baru yang belum terpetakan di peta PuSGen. Simak hasil analisis lengkap BMKG di sini!
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Peta Geologi Kebobolan! BMKG Temukan Patahan Baru Misterius Pemicu 118 Gempa Kab Bandung
Indonesia
Rentetan 118 Gempa Sekitar Bandung Bentuk Pola Baru, Lurus Barat Daya ke Timur Laut!
BMKG catat 118 gempa di Bandung membentuk pola garis lurus dari jalur sesar baru yang belum terpetakan. Simak analisis lengkap BMKG di sini!
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Rentetan 118 Gempa Sekitar Bandung Bentuk Pola Baru, Lurus Barat Daya ke Timur Laut!
Indonesia
Puluhan Gempa Swarm Hantam Sekitar Bandung Sejak Kemarin, Pertanda Apa?
Puluhan gempa swarm guncang Pangalengan, Bandung sejak kemarin picu kepanikan. Cek penjelasan resminya!
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Puluhan Gempa Swarm Hantam Sekitar Bandung Sejak Kemarin, Pertanda Apa?
Indonesia
Gempa M 5,2 Guncang Malang Pagi Ini, GetaranTerasa Sampai Bali
BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami, masyarakat diimbau tetap tenang dan berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.
Dwi Astarini - Senin, 14 September 2026
Gempa M 5,2 Guncang Malang Pagi Ini, GetaranTerasa Sampai Bali
Bagikan