Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Kesehatan Mental

Liburan Usai, Sindrom Kesedihan Melanda

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 06 Januari 2023
Liburan Usai, Sindrom Kesedihan Melanda

Banyak yang mengalami kesedihan setelah liburan. (foto: pexels-andrea-piacquadio)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BAGIAN yang paling tak menyenangkan dari liburan ialah ketika itu berakhir. Kamu harus siap kembali ke aktivitas harian dengan segala rutinitas.

Dalam fase peralhian dari liburan ke kehidupan rutin, beberapa di antara kamu mungkin mengalami sakit kepala, insomnia, gelisah, bahkan tegang saat akan memulai aktivitas setelah liburan yang panjang. Tanda-tanda yang kamu alami itu menunjukkan kamu terkena post holiday blues.

BACA JUGA:

Dari Glamping hingga Nonton Konser, Ini Prediksi Tren Healing di 2023

Post holiday blues adalah kondisi emosional yang dirasakan setelah menikmati liburan. Hal yang menyebabkan kamu merasa murung, yaitu merasa liburanmu sangatlah menyenangkan atau kamu hanya ingin ada di masa liburan daripada kembali bekerja.

headache
Pusing menjadi salah satu tanda sindrom post holiday blues. (foto: pexels-edward-jenner)

Biasanya, sindrom ini hanya bertahan di minggu awal setelah liburan. Gangguan emosional ini amat mirip dengan seasonal affective disorder (SAD), yaitu gangguan emosional yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, sama halnya dengan sindrom setelah menikah yang merasa ‘kaget’ saat euforia pernikahan berakhir. Tak mengherankan jika banyak dari kamu yang merasakan murung atau bahkan depresi setelah liburan.

Seperti dikabarkan The New Daily, Dr Melissa Weinberg, seorang psikolog dari San Fransisco, mengatakan saat kamu mengalami liburan yang menyenangkan, sebenarnya itu hanyalah ilusi yang dibuat otak. Seburuk apa pun pengalaman liburanmu, otak hanya akan merekam bagian yang kamu nikmati ketimbang pengalaman buruk.

BACA JUGA:

Cara Maksimalkan Jatah Cuti Tahun 2023

Entah kamu menikmati atau tidak masa liburanmu, otak kamu akan tetap menerima bahwa liburan sudah kamu lewati. Pasalnya, otak dirancang untuk merekam berbagai kegiatan yang dilakukan secara konsisten, seperti kebiasaan bekerja yang sehari-hari kamu lakukan. Termasuk saat berlibur, kondisi emosionalmu akan terbiasa untuk menikmati istirahat.

Jadi, saat kembali menghadapi pekerjaan, otakmu akan ‘kaget’ dan kembali menyesuaikan setelah keadaan setelah berubah. Hal itu terhitung sebagai normalisasi pascaliburan.

Namun, dalam kondisi tertentu, post holiday blues dapat bertahan dalam waktu yang lama. Jika sudah demikian, itu berarti saatnya kamu mencari pertolongan klinis, ya.(dwi)

BACA JUGA:

Sejumlah Gejala Depresi Berat yang Harus Diwaspadai

#Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Bagikan